Dilema

Dilema
Nasehat Sisilia


__ADS_3

Di apartemen nya, Manda sedang sangat kesal karena sudah semenjak kemarin Moetia belum membalas pesan darinya.


Manda berjalan mondar-mandir sambil memegang ponselnya yang sesekali dia genggam dengan erat karena kesal.


"Tidak bisa, aku harus melakukan sesuatu!" gumam Manda.


Manda meraih tasnya lalu pergi keluar dari apartemen nya.


Pagi yang indah bagi Moetia saat keluar dari kamarnya melihat Bagas dan Reno sedang sarapan pagi bersama sambil bersenda gurau.


Sesekali Bagas memukul lengan Reno karena Reno terlihat seperti mengganggu Bagas.


Bagas menyadari jika dari tadi Moetia memperhatikan nya.


"Hai nyonya Bagas, tidak ingin bergabung bersama dua pria tampan ini!" narsis Bagas.


Moetia terkekeh geli, suaminya itu benar-benar mempunyai kepercayaan diri tingkat tinggi. Tentu saja karena dia memegang tampan.


Moetia menghampiri Bagas dan Reno. Moetia duduk di sebelah Bagas dan Bagas pun segera menarik kursi Moetia agar lebih mendekat padanya.


"Bagas!" protes Moetia terkejut.


Reno sampai harus menghela nafasnya panjang, dia merasa Bagas sedikit berlebihan. Meskipun Reno menyayangi Moetia, itu hanya sebagai adiknya.


Dan andaikata tidak menyayangi sebagai adik, Reno juga tidak akan pernah berani menyukai wanita milik Bagas.


Saat Moetia akan meraih makanan yang ada di hadapannya. Bagas lebih dulu meraihnya dan berniat menyuapkan sandwich itu pada Moetia.


Moetia merasa agak canggung karena ada Reno disana.


"Aku bisa sendiri, berikan padaku!" kata Moetia.


"Ayolah sayang, buatlah suamimu ini berguna!" bantah Bagas.


Moetia bergumam dalam hati.


'Kamu sungguh sangat berguna!'


Sambil berdecak sebal, Moetia membuka mulutnya dan Bagas pun menyuapinya.


"Bagaimana lebih enak kan rasanya jika aku yang menyuapi mu!" tanya Bagas.


Belum Moetia menjawab, Reno malah tersedak.


"Uhuk.." Reno meletakkan makanan yang dia pegang ke atas piring.


Moetia segera memberikan segelas air pada Reno.


"Kakak tidak apa-apa?" tanya Moetia khawatir.

__ADS_1


Bagas malah menatap Reno dengan tajam, dia memicingkan matanya pada Reno.


"Dia tidak apa-apa, dia hanya mencari perhatian!" ketus Bagas.


Reno membulatkan matanya, dia sudah tidak paham lagi dengan tingkah dan perkataan Bagas jika sudah menyangkut tentang Moetia.


Setelah drama-drama kecil saat sarapan selesai. Bagas mengusir Reno agar segera pergi dengan alasan dia harus segera bekerja.


"Ini baru jam sembilan, aku ada rapat jam sebelas nanti!" bantah Reno.


Moetia hanya tersenyum melihat dua lelaki di depannya itu saling beradu argumen.


"Hei, jangan beri contoh buruk pada karyawan lain. Cepat pergi, jika tidak aku akan menurunkan jabatan mu jadi OB, mau!!" Gertak Bagas.


Reno berdecak kesal.


"Iya, iya aku berangkat sekarang!" seru Reno.


Reno pun berpamitan pada Moetia dan keluar dari apartemen mereka.


Bagas mengantarnya ke depan pintu. Moetia melihat Bagas mengatakan kalimat yang cukup panjang pada Reno. Tapi Moetia tidak ingin mengetahuinya. Jika Bagas ingin Moetia tahu pasti Bagas akan mengatakannya. Jika dia tidak mengatakannya arti nya dia tidak ingin Moetia tahu. Dan Moetia menghormati itu.


Saat Bagas menghampiri nya dia bertanya.


"Kenapa kamu sangat kejam pada kak Reno?" tanya Moetia sambil menyalakan televisi.


Bagas duduk di samping Moetia dan memberikan ponsel yang tadi di bawakan oleh Reno.


Moetia menerima ponsel itu.


"Aku heran, apa yang terjadi pada ponsel lama ku?" tanya Moetia sambil meletakkan kembali ponsel itu di atas meja.


Bagas tidak menjawab dan hanya mengangkat bahunya sekilas. Bagas malah menarik Moetia ke pelukannya lagi.


"Bagas! ini masih pagi!" protes Moetia.


"Apa yang kamu pikirkan sayang! aku hanya ingin memelukmu!" kata Bagas sambil terkekeh.


Wajah Moetia memerah, dia sungguh malu karena sudah berfikiran yang tidak-tidak.


Reno sedang melajukan mobilnya ke arah perusahaan, Bagas sudah memberitahunya tentang pesan Manda untuk Moetia.


Bagas meminta Reno yang menemui Manda dan memberikan sedikit pelajaran pada wanita yang sudah menyebarkan berita yang membuat penyakit ibunya itu kambuh.


Sementara Manda, dia pergi ke sebuah rental mobil bersama dengan Owen. Setelah itu dia dan Owen pergi ke tempat yang akan mereka tuju.


Lebih dari satu jam perjalanan ke tempat itu. Sesekali Owen melirik Manda yang sepertinya cemas.


"Kenapa? apa tidak berjalan sesuai rencana mu?" tanya Owen memastikan.

__ADS_1


"Diam lah! aku sudah membayar operasi adikmu. Jangan membuat ku kesal!" ketus Manda.


Sikap Manda itu membuat Owen jadi cemas, sepertinya memang semua tidak berjalan sesuai yang Manda harapkan.


Manda dan Owen tiba di persimpangan jalan itu, mereka memperhatikan dari arah mana mereka akan datang, bersembunyi lalu pergi. Sungguh rencana jahat yang sempurna.


Saat melihat jam di ponselnya, Manda teringat pada Sisilia. Dia memutuskan untuk datang ke rumah Sisilia, sambil menunggu Moetia.


Sisilia sedang mengajari anak-anak melukis ketika melihat sebuah mobil berhenti di depan rumah singgahnya.


Sisilia keluar ketika melihat siapa yang keluar dari dalam mobil.


"Kamu datang?" tanya Sisilia datar.


"Kenapa? tidak senang melihatku?" tanya Manda sambil melepas kaca mata hitam yang dia pakai.


Mereka berdua masuk ke dalam ruang khusus tamu, Sisilia menyajikan secangkir teh untuk Manda.


Manda meraih cangkir itu dan meminumnya.


"Tidak bertanya kenapa aku kemari?" tanya Manda dengan nada yang terdengar tidak enak di telinga Sisilia.


"Tidak, aku justru ingin menanyakan hal lain." jawab Sisilia.


Manda meletakkan cangkirnya kembali keatas meja. Dan menunggu Sisilia bertanya.


"Kenapa mengatakan hal seburuk itu tentang Manda?" tanya Sisilia yang lalu duduk di depan Manda.


Manda menyunggingkan senyum sinis nya.


"Itu kenyataan, aku rasa kakak juga sudah tahu kebenaran nya kan?" tanya balik Manda.


"Aku tahu, aku bahkan sempat memarahi Moetia saat tahu dia berhubungan dengan tunangan mu! tapi ini bukan salah Moetia, laki-laki itu memang sangat mencintai Moetia..."


"Kak Sisil!" teriak Manda menyela ucapan Sisilia.


"Itu kenyataan nya Manda!" tegas Sisilia.


"Moetia terus menghindarinya, tapi lelaki itu yang terus mengejarnya bahkan saat Moetia menghindarinya dan bersembunyi disini, lelaki itu bisa menemukannya. Dia bahkan menyakiti dirinya sendiri agar Moetia perduli dan kasihan padanya. Aku tidak buta sampai tidak melihat betapa mereka sebenarnya saling mencintai!" ucap Sisilia.


Manda mengepalkan tangannya dengan kuat.


"Manda, aku menyayangimu seperti aku menyayangi Moetia, kalian adalah adik-adik ku. Tapi yang kamu lakukan itu salah, kamu sudah membuat Om Aries dan Tante Soraya terlibat. Mereka tidak bersalah, mereka juga menyayangimu seperti anak mereka sendiri. Berbesar hatilah Manda!" nasehat Sisilia.


Sisilia menggenggam tangan Manda yang sedari tadi dia kepalkan.


"Mencintai seseorang adalah dimana kita bahagia saat melihat orang itu bahagia! Memaksakan orang yang tidak mencintai kita untuk hidup bersama dengan kita hanya akan membuat dia dan kita sendiri tersiksa!" jelas Sisilia dengan lembut pada Manda.


"Aku mencintainya selama tujuh tahun kak!" Manda membantah lagi.

__ADS_1


"Dan kamu sudah bersahabat dengan Moetia selama dua puluh lima tahun, mana yang lebih berharga!" tanya Sisilia telak membuat Manda terdiam.


__ADS_2