
Semua mata melotot kearah Abel yang sudah terisak tangis.
" Kenapa Lo ngomong gitu? " Tanya William yang sedikit tinggi.
" Gue juga gak minta dilahirkan! Kenapa gue yang harus menanggung beban keluarga!! Gue! Gue! Gue sendiri yang harus memenuhi semua kebutuhan keluarga! Dengan cara apa?! Gue kerja jadi asisten rumah tangga dirumah orang!!!! Kalian enggak mikirin kan? Kalian pulang sekolah, tanpa harus ganti baju, kalian harus lanjut kerja? Gak mikir kan?!!! Gue iri sama Tasya juga punya alasan!!! " Lirihnya dengan suara yang meninggi.
" Alasannya apa? " Tanya Widya.
" Dia punya segalanya!!! Lihat! Dari wajah! Dari bentuk tubuh! Dari kekayaan! Dari pikiran! Dia cerdas! Dia pintar! Bisa bernyanyi! Apa yang mesti diragukan lagi?! Lengkap semuanya Wid!!! Sedangkan gue?! " Jawabnya seraya menaruh kedua tangannya dibagian matanya. Menyeka air matanya supaya tidak terlihat cengeng
" Kita bisa berteman Abel!!! Gak perlu iri!! Dan Atas ucapan Lo tentang Tasya! Itu benar! Dia membawa paket lengkap untuk keluarganya! Tuhan nyiptain kita ke dunia itu punya tujuan! Tuhan melengkapkan kita dengan talenta! Talenta setiap orang berbeda beda Abel!! Sadar!!! sadarr!!! Bagun dari sifat dengki iri Lo!!! Bangun Abel!!! Tuhan udah memilih dimana kita tinggal! Siapa orang tua kita! Itu punya maksud dan tujuan Abel!! Jangan kaya gini! Stop! Don't be jealous and envious! It just changes your life! Realize it! Rise from mistakes! We can be friends! " Ujar Widya.
Abel sudah tidak bisa berkata apa apa lagi. Ia selalu membandingkan kehidupannya dengan kehidupan Tasya.
" Kesederhanaan juga bisa membuat kita bahagia! Dibalik orang sukses, mereka punya suatu kegagalan dalam meraih kesuksesan itu. Jangan iri, setiap orang punya rezekinya masing masing " Tegas William.
Tania merasa aneh. Ia menerawang sekelilingnya mencari keberadaan Tasya.
" HEI! TASYA KEMANA?! " Seru Tania.
" hah?! " William tersontak kaget dengan seruan Tania. Ia pun juga menerawang sekelilingnya, mencari keberadaan Tasya yang hilang dari kelompok.
" Kita pencar ya! Gue kearah kanan, kalian bertiga kearah kiri! " Seru William.
" Gu-gue gak ikut! Gue lanjutin cari telur aja " Sela Abel.
" Yaudah kita pergi dulu "
Mereka pun mencari Tasya kesegala arah yang sudah ditentukan William.
" Tasyaa! Lo dimana si.. " Batin William. William pun menelusuri segala arah.
Tapi, saat ia melihat kearah perbukitan tinggi. Ia melihat sesosok bayangan manusia disana. Batinnya terasa sesak, tidak tahu kenapa. William pun berjalan kearah sana dengan sangat hati hati. Karena di perbukitan itu terdapat bebatuan yang hampir bisa menjatuhkan dirinya kedalam sungai yang dalam.
Sementara dikeadaan Tasya, Tasya pergi ke salah satu perbukitan tinggi lalu duduk diatasnya melihat banyak bintang dilangit.
__ADS_1
" Gue gatau kenapa Abel iri sama gue. Padahal kan, itu semua bukan punya gue. Kekayaan itu semua dari mama sama papa. Dan memang, memang, gue tahu dan merhatiin banyak yang iri sama kehidupan gue. Tapi jujur, gue ga pernah tahu ada orang sejelas ini menumpahkan keirian didepan gue langsung. " batin Tasya yang terasa perih jika mengingat ucapan ucapan Abel yang menjelek jelekan dirinya.
" Bukankah secara tidak langsung kita sudah menyakiti perasaan orang dengan tampilan dan kehidupan kita sendiri? " lanjutnya.
" Gue jadi ga enak "
Tiba tiba ada sesuatu yang membelai kepalanya dan ikut duduk disampingnya. Dan ternyata itu adalah William.
William mengetahui itu adalah Tasya saat ia menaiki batu batu kerikil itu. Dia pun tersenyum hangat untuknya.
" E-eh! Wi-william? nga-ngapain Lo ada disini?! " Tanya Tasya yang sedikit terkejut.
" Gue, Tania, Widya nyariin Lo! Tiba tiba Lo ilang saat berkumpul tadi! " sahut William dengan nada yang sedikit cemas.
" Gue ngga sengaja tadi ngedenger semua ucapan Lo. Gue harap, lo jangan masukin kehati ya tentang ucapan Abel. Jujur, ucapan Abel selanjutnya buat gue, Tania, Widya agak sedih ngedengernya.
" cerita? cerita apa? " Tanya Tasya yang mulai penasaran.
" Ternyata dia udah kerja Sya, " jawab William dengan tatapan lembut.
" Dia jadi asisten rumah tangga. Jujur pas gue ngedengernya gue juga kasihan. Dia iri sama Lo karena Lo punya segalanya. " Jawab William dengan tatapan mengadah ke langit.
" Bukan kah kita harus ngomong sama Abel? Gue nggak mau keirian membuat hidupnya semakin berantakan. " lirih Tasya.
" Udah udah, Lo ngga usah mikirin itu semua. ya. Jaga kesehatan tubuh lo, gue ga mau Lo drop cuman gara gara mikirin masalah ini " Tegasnya lalu memberanikan diri untuk membelai lembut rambut Tasya yang terkena angin malam.
Tasya sedikit mulai merasa nyaman dibelaian William. Tidak tahu kenapa hatinya merasa tentram dan damai.
Tapi karena angin malam, tubuhnya merasa dingin walaupun sudah memakai Hoodie. Jelas, karena ia duduk diatas perbukitan tinggi.
Tasya mulai menggigil kedinginan karena angin malam tersebut.
William menyadari itu ia pun melepas jaket hitamnya dan langsung memakaikan ke tubuh Tasya.
" e-e-eh ma-makasi yaa " ucap Tasya lembut tapi sedikit gugup.
__ADS_1
" masih kedinginan? " Tanya William.
" di-dikit " jawabnya.
William pun segera memeluk Tasya. Tasya tersontak kaget atas tingkah William terhadapnya.
" he-hei! " Seru Tasya.
" Lo kedinginan, hanya cara ini supaya gue bisa menghangatkan Lo. " jelasnya.
Tasya pun mulai mengerti, Tasya merasa jantungnya berdegup kencang sekali. Jelas karena ia belum pernah dipeluk seorang laki laki kecuali Ayahnya, dan Brian.
Tasya pun mulai jatuh kedalam dekapan William. Kehangatan, kenyamanan lah yang ia rasakan.
Tasya mulai membalas pelukan William. William sedikit terkejut, tapi ia senang karena Tasya membalas pelukannya.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 21.15. Dan mereka masih terjatuh dalam pelukan hangat yang mereka buat itu.
Tania, dan juga Widya tiba tiba datang keatas bukit. Mata mereka melotot karena menemukan Tasya dan William yang lagi berpelukan.
ekhemmmm ekhemmmm...
" Ada yang lagi pelukan tuh! " Ejek Widya.
" Tau, kayaknya nyaman banget ya. Kayaknya kita jadi nyamuk Wid. " Sambung Tania menatap menggoda kearah Tasya dan William yang belum menyudahi pelukan mereka itu.
Sampai pada akhirnya Tasya tersadar dan segera menyudahi pelukan nya itu.
" e-eh kalian!! " Seru Tasya yang nampak kaget melihat 2 sahabatnya sudah duduk berada disampingnya.
" apa! kalian ni! Kita susah susah nyari keberadaan Lo! dan William! Gue telfonin kagak diangkat angkat! Ternyata lagi berduaan! " Gerutu Widya.
" Udah dulu marahnya, muka mereka udah merah kayak tomat gara gara ketangkap basah lagi pelukan! " Ejek Tania menggoda Tasya dan William yang benar benar wajahnya memerah.
" ciee Salting! " ejek Widya dengan tertawa dtemani Tania.
__ADS_1