Dilema

Dilema
Manda Vs Audrey


__ADS_3

Keesokan harinya, Moetia memutuskan untuk tidak bekerja. Dia meraih gagang teleponnya dan menelpon ke kantor untuk meminta ijin.


Setelah itu dia menuju ke dapur, disana sudah ada Soraya dan Malika.


"Pagi ma, pagi Tante!" sapa Moetia.


Soraya tersenyum,


"Pagi sayang!" jawabnya.


Malika juga tersenyum dan menyapanya. Moetia mendekati Malika dan melihat apa yang sedang Malika kerjakan.


"Buat apa Tante?" tanya Moetia.


"Ini sayang, Tante sama mama kamu mau coba buat onion bread seperti yang kita beli di toko kue kemarin itu!" jawab Malika.


"Benarkah? kenapa tidak menyisakan satu untukku!" protes Moetia.


"Ada di lemari pendingin, ambil lah!" seru Soraya.


Moetia segera mengambil roti itu dan memakannya di meja makan.


"Oh ya ma, bagaimana acara semalam?" tanya Moetia sambil mengunyah.


"Sayang, mama hampir lupa! setelah sarapan cepat kamu ke kamar Manda dan hibur dia ya, semalam dia mendapatkan masalah kecil di pesta, untung saja mbak belinda membela Manda jika tidak, mama tidak tahulah.." jelas Soraya.


Mendengar itu, Moetia bahkan tidak lagi memperdulikan sarapannya. Dia segera ke kamar Manda.


Malika yang melihat Moetia begitu perduli pada Manda hanya bisa tersenyum bahagia.


Moetia mengetuk pintu kamar Manda.


Tok! tok! tok!


"Manda, aku masuk ya?" tanya Moetia.


Tak kunjung ada jawaban, Moetia memutuskan untuk masuk saja.


Moetia membuka pintu dan melihat kamar Manda sangat berantakan.


Semua pakaian keluar dari lemari dalam kondisi yang sudah tidak utuh lagi.


Moetia memungut satu mini dress yang tergeletak di lantai dan membawa nya mendekati Manda yang masih duduk dengan dan melipat lututnya bersandar di tepi kasur.


Moetia ikut duduk di samping Manda.


"Ada apa?" tanya Moetia lembut.


Manda menoleh lalu dengan cepat memeluk Moetia.


"Mereka menghina ku Moetia, mereka merendahkan aku!" jawab Manda sambil menangis.


Moetia mengelus lembut punggung sahabatnya itu.


"Siapa mereka?" tanya Moetia lembut.

__ADS_1


Manda menarik dirinya sedikit menjauh dan mengusap air mata nya.


"Teman-teman tunangannya Theo, mereka menghinaku. Mereka bilang aku memakai gaun yang tidak berkelas, mereka bilang aku seharusnya tidak datang kesana. Jika tidak ada Tante Belinda disana, aku pasti sudah menjambak rambut mereka semua." kesal Manda mengepalkan tangannya.


Moetia melihat sekeliling ruangan itu.


"Manda, kamu tidak seharusnya merusak semua pakaian mu seperti ini! Tante Malika pasti sangat sedih, dan apa yang ingin kamu tunjukkan dengan melakukan semua ini?" tanya Moetia kecewa pada Manda.


"Aku tidak mau di rendahkan Moetia, aku akan buang semua barang-barang tidak berkelas ini. Aku ingin menunjukkan pada mereka, bahwa aku adalah calon nyonya Bagas Chairul Wiguna, mereka tidak bisa meremehkan aku!" seru Manda.


Ada rasa sesak di dada Moetia, karena dialah nyonya Bagas Chairul Wiguna yang sebenarnya, yang sudah sah menurut hukum dan agama.


Moetia menatap Manda sekilas lalu memalingkan wajahnya.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa tentang ini, tapi jika mereka menghinamu pasti ada alasannya kan? aku mengenal Audrey, meskipun tidak begitu dekat. Tapi dia bukanlah wanita yang suka mencari masalah terlebih dahulu..."


Manda bangun dan melihat Moetia dengan tatapan tidak suka.


"Jadi menurut mu akulah yang mencari masalah?" tanya Manda kesal.


Moetia ikut berdiri.


"Aku tidak mengatakan itu, maksudku Audrey adalah seseorang yang dibesarkan di keluarga yang sangat baik, mungkin yang terjadi antara kalian hanya kesalahpahaman saja!" lanjut Moetia.


Manda malah menghentakkan kakinya dan meninggalkan Moetia lalu masuk ke kamar mandi dengan membanting pintu sangat kencang.


Brakkk!


Moetia memalingkan wajahnya ke arah lain.


'Astaga, apa lagi ini. Rasanya tidak mungkin Audrey seperti itu,' gumam Moetia.


Moetia lalu memutuskan untuk langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Reno. Dia menaiki taksi dan berhenti di depan sebuah toko buah.


Sebelum ke rumah sakit, Moetia mampir ke toko buah untuk membelikan Reno buah-buahan.


Langkahnya terhenti karena merasa ada seseorang yang dari tadi mengikutinya. Moetia mengira itu adalah anak buah Benjamin.


Moetia berjalan dari toko buah itu karena memang tidak terlalu jauh dari rumah sakit.


Langkahnya makin dia percepat saat jalanan itu semakin sepi.


Moetia berusaha untuk berjalan dengan lebih cepat, tapi orang itu berhasil mendahului nya dan menghadangnya.


"Astaga!" seru Moetia terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya.


Moetia memukul keras lengan Theo.


Plak!


"Kenapa mengagetkan aku!" protes Moetia.


Theo malah terkekeh.


"Kenapa? apa kamu mengira aku adalah penjahat?" tanya Theo.

__ADS_1


Moetia lalu melanjutkan langkahnya.


"Darimana kamu?" tanya Moetia.


Theo menyusul Moetia dan menyamakan langkah kakinya dengan moetia.


"Tadi Audrey minta dibelikan eskrim, tapi tokonya tutup. Itu toko yang ada di sebelah toko buah. Kenapa kamu jalan? mana mobilmu?" tanya Theo.


"Aku menjualnya!" sahut Moetia singkat.


"Ayolah Moetia!" keluh Theo.


"Mobil ku di kantor, bagaimana keadaan kak Reno?" tanya Moetia.


"Sudah lebih baik, besok dia boleh pulang! oh ya Moetia, aku ingin mengatakan sesuatu tentang pesta semalam!" seru Theo.


Moetia menghentikan langkahnya dan menghadap ke arah Theo.


Theo pun mengatakan semuanya, malam itu Manda datang bersama kedua orang tua Moetia dan ibunya. Dia langsung menghampiri Belinda yang sedang mengobrol dengan Audrey dan beberapa temannya. Lalu seorang kolega Belinda datang dan mengajaknya berkenalan dengan temannya yang lain.


Saat itu pelayan sedang mengantarkan minuman kearah mereka, tanpa sengaja salah satu teman Audrey menyenggol pelayan itu saat dia akan berbalik ke belakang. Minuman itu jatuh dan tumpah sedikit mengenai gaun Manda.


Manda memarahi pelayan itu dan menyalahkan teman Audrey. Dan pertengkaran antara mereka pun terjadi. Sampai Belinda datang dan mengajak Manda untuk pulang.


Theo mengatakan secara garis besar, apa yang telah dia dengar dari Audrey.


"Itu yang Audrey katakan padaku, terserah padamu percaya atau tidak. Tapi kata Audrey temannya itu benar-benar tidak sengaja, dia berbalik dan tidak tahu pelayan itu datang!" jelas Theo.


Moetia mengangguk paham.


"Aku percaya padamu. Maafkan Manda ya, dia hanya ingin bisa bergaul dengan kalian. Sesungguhnya dia juga teman yang baik!" tutur Moetia.


Sebenarnya mulut Theo sudah gatal sekali bertanya tentang masalah Bagas dan Moetia. Tapi Theo berusaha menahan rasa ingin tahunya karena tidak ingin Moetia sedih.


Sampai di rumah sakit, Moetia masuk ke dalam ruangan Reno dan menyapanya penuh senyuman.


"Selamat pagi kak!" sapa Moetia.


Reno juga tersenyum melihat Moetia datang.


"Selamat pagi!" sahut Reno.


Moetia meletakkan bingkisan buahnya diatas meja.


Theo ikut masuk dan tidak melihat Audrey di dalam.


"Dimana nyonya ku?" tanya Theo pada Reno.


"Katanya kamu terlalu lama, dia ingin makan eskrim di mall saja, dia sudah ada janji dengan teman-teman nya!" jawab Reno.


Theo mengacak rambutnya kasar.


"Aku bangun jam enam pagi hanya untuk menjemputnya kemari dan setelah aku jalan kaki membelikannya eskrim, dia meninggalkan aku. Astaga, kenapa aku bisa mencintai wanita kejam seperti dia?" tanya Theo pada dirinya sendiri dan terduduk lemas di kursi.


...❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...


...Terimakasih ❤️❤️❤️...


__ADS_2