
Belinda terus merasa cemas selama penerbangan. Soraya yang melihat itu juga jadi tidak tenang.
"Pa, kenapa mbak Belinda terlihat sangat cemas? apa sudah terjadi hal yang buruk?" tanya Soraya pelan pada Aries.
Aries menepuk punggung tangan Soraya lembut.
"Tenanglah, kita akan segera tahu saat kita tiba di sana!" jawab Aries berusaha tetap tenang.
Soraya pun hanya bisa kembali diam, tapi matanya terus melirik ke Belinda yang benar-benar terlihat sedang tidak baik-baik saja.
Belinda merasa cemas, meskipun Chairul terus menenangkannya tetap saja sebagai seorang ibu dia merasa cemas.
Sementara itu Moetia dan Bagas masih menunggu Reno sadar.
Sudah empat jam berlalu belum ada tanda-tanda Reno akan segera sadarkan diri.
Moetia terus memandangi Reno dari pintu kaca ruang observasi Reno.
"Bangunlah kak, aku mohon..." lirih Moetia.
Bagas memeluknya dari belakang,
"Teruslah berdoa sayang!" ucap Bagas sambil mencium puncak kepala Moetia lembut.
Saat mereka sedang melihat keadaan Reno, tiba-tiba Theo datang membawa beberapa orang dari pihak kepolisian.
"Bagas, Moetia, mereka ingin meminta keterangan pada Moetia!" seru Theo.
Moetia dan Bagas menoleh, Bagas mendekati orang-orang itu.
"Apa tidak bisa di tunda? Moetia masih syock!" tegas Bagas.
Moetia hanya diam, kedua tangannya saling bertaut. Benar, Moetia masih syock.
Setelah para polisi itu melihat kondisi Moetia, mereka pun bisa mengerti dan menunda untuk meminta keterangan padanya.
Setelah para polisi itu pergi, Benjamin datang membawa makanan dan minuman untuk mereka.
Ketika bagas menyodorkan makanan ke Moetia, Moetia menggeleng kan kepalanya.
"Aku tidak lapar!" jawab Moetia pelan.
Bagas kembali mendekati Moetia dan mengajaknya duduk.
"Kamu harus makan, jika kamu tidak makan kamu akan sakit. Dan jika kamu sakit, saat Reno sadar nanti kamu tidak bisa langsung bertemu dan bicara padanya!" ucap Bagas lembut.
Mata Moetia masih berkaca-kaca, dia kembali menyandarkan kepalanya ke dada Bagas.
Theo yang melihat Bagas begitu menyayangi Moetia pun merasa terharu. Selama ini Bagas belum pernah bersikap begitu lembut pada wanita manapun.
__ADS_1
Theo mengalihkan pandangannya ke Moetia, dia juga terharu karena Moetia sangat menyayangi Reno.
Theo merasa kepalanya sedikit pusing, sudah dua hari mereka tidak tidur karena mencari Moetia.
"Bagas, aku akan ke ruang istirahat. Jika membutuhkan ku, suruh saja seseorang kesana!" seru Theo.
Bagas mengangguk paham,
"Terimakasih Theo!" seru Bagas.
Bukannya senang Theo malah terkejut, Bagas sudah dua kali mengucapkan terimakasih padanya.
Theo hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu pergi ke ruang istirahat.
Bagas terlihat memejamkan matanya sambil memeluk Moetia. Bagas setidaknya sudah merasa tenang karena Moetia sudah kembali ke sisinya.
Moetia tahu pasti Bagas tidak tidur karena terus berusaha mencarinya.
Moetia memanggil salah seorang anak buah Bagas dengan melambaikan tangan padanya.
"Ada apa nona?" tanya nya.
"Bisakah kamu bawa tuan mu ini ke ruang istirahat, kelihatannya dia sangat lelah!" seru Moetia pelan.
Anak buah Bagas itu mengangguk paham dan berusaha mengangkat Bagas.
Moetia bisa melihat dengan jelas betapa lelahnya Bagas. Hingga saat anak buahnya mengangkat nya dia tidak bangun.
"Aku sangat senang saat kamu mau menganggap ku sebagai adikmu! cepatlah bangun kak, bangunlah.." lirih Moetia dan kembali menangis.
Sudah lewat lima jam, dan Reno belum sadarkan diri. Dokter memutuskan untuk memindahkan Reno ke ruangan khusus, Moetia dan Benjamin terus menemani Reno hingga semua alat penopang untuk perawatan Reno terpasang sempurna.
Moetia berusaha keras agar tidak menangis saat para dokter dan Benjamin berada di sisinya.
"Kami akan tetap memeriksa pasien setiap satu jam sekali, kami harap kalian bersabar!" ucap dokter itu pada Benjamin dan Moetia.
Moetia dan Benjamin mengangguk paham. Setelah dokter pergi Moetia meminta agar Benjamin beristirahat.
"Tuan Benjamin, aku akan menjaga Reno. Kamu bisa pergi beristirahat. Bukankah anak buah mu berjaga diluar, kami akan baik-baik saja!" seru Moetia.
"Marvin belum tertangkap nona, kami tidak ingin mengambil resiko. Aku akan menunggu di luar. Jika anda membutuhkan sesuatu maka katakanlah pada kami!" tegas Marvin.
"Baiklah!" sahut Moetia.
Setelah Benjamin keluar, Moetia duduk di sisi kanan Reno. Moetia menggenggam tangan Reno. Dia ingat saat Manda koma, Moetia bicara pada Manda tentang Bagas, dan Manda memberi respon.
Moetia berpikir jika dia mengatakan tentang suatu hal yang sangat disayangi Reno, mungkin Reno akan merespon.
Tapi sayangnya Moetia tidak tahu apa yang sangat di sayangi oleh Reno.
__ADS_1
"Kak, ini aku Moetia. Aku tahu kamu bisa mendengarkan aku. Aku tahu kamu lelah kak, baiklah! kamu tidurlah! aku akan menunggumu. Tapi setelah lelah mu hilang, cepat bangun ya, aku sangat merindukan mu memanggilku adik lagi..." lirih Moetia.
Moetia kembali menangis sambil terus menundukkan kepalanya. Moetia merasa sangat bersalah, dia masih berfikir bahwa semua ini terjadi karena dia tidak mau mendengarkan perintah Bagas agar tetap di dalam kamar dan tidak keluar.
Saat Moetia memejamkan matanya, terlihat jelas gambaran noda darah Reno yang ada di tangannya.
Moetia kembali membuka matanya dan memandangi Reno.
Dua jam kemudian Bagas terbangun, dia membuka matanya. Dia terkejut saat melihat dia sedang berada di sebelah Theo yang sedang tertidur.
Bagas segera keluar dari ruangan itu dan mencari Moetia. Anak buah Benjamin yang berjaga di depan ruang istirahat memberitahu bahwa Reno sudah dipindahkan ke ruangan khusus.
Bagas segera meminta anak buah Benjamin itu mengantarnya ke ruangan Reno.
Bagas masuk dan melihat Moetia sedang menggenggam tangan Reno. Ada rasa tidak senang di hati Bagas melihat itu, tapi Bagas berusaha bersikap tenang.
Bagas membelai lembut kepala Moetia,
"Sayang!" panggil Bagas.
Moetia menoleh ke arah Bagas, dia berdiri.
"Kamu sudah bangun?" tanya Moetia lembut.
Bagas mengajak Moetia untuk duduk di sofa, Bagas mengambilkan makanan yang tadi tidak mau Moetia makan.
"Makan lah, sedikit saja tidak apa-apa!" seru Bagas.
Moetia menuruti permintaan Bagas, dia juga menyuapkan makanan itu pada Bagas.
Saat Moetia menyuapi Bagas, Bagas melihat ada lebam di siku dan lengan bawah Moetia.
Bagas segera memeriksa Moetia, dia juga melihat ada sedikit lebam di leher bagian belakang, juga di pundak bahkan di kakinya.
Mata Bagas memerah,
"Apa Marvin yang melakukannya padamu?" tanya bagas penuh emosi.
Moetia menggeleng kan kepalanya,
"Tidak, sebenarnya aku dan Marvin mengalami kecelakaan saat dia mau membawaku ke tempat lain. Kejadiannya seperti apa aku juga tidak tahu jelas, karena saat itu aku pingsan! setelah aku sadar. Aku sudah berada di dasar jurang, dan Marvin juga pingsan. Bahkan kakinya terluka parah." jelas Moetia.
Bagas segera meraih Moetia ke pelukannya,
"Maafkan aku Moetia, maafkan aku sayang!" sesal Bagas.
...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...
...Terimakasih atas dukungan kalian semua 🥳...
__ADS_1
...Love u all ❤️...
... ...