Dilema

Dilema
Tujuan Marvin yang Sebenarnya


__ADS_3

Sementara itu Chairul masih sibuk bernegosiasi dengan pihak terkait agar bisa berkomunikasi dengan pihak kedutaan Singapura. Hingga tak perlu menunggu selama dua puluh empat jam untuk mencari Moetia.


Chairul membawa semua pengacaranya menemui pihak kedutaan.


Beberapa jam yang lalu, Reno menghubungi Chairul dan menceritakan semua yang terjadi pada mereka di Singapura.


Sebenarnya Chairul sudah mengetahui hubungan putra sulungnya itu dengan Moetia, dia juga meminta agar Reno menjaga Bagas dan Moetia.


Beberapa menit kemudian, pengacara dan asisten Chairul keluar dari ruang duta besar Singapura untuk Indonesia.


"Tuan Chairul, kita sudah dapat surat persetujuan dari duta besar itu, kita bisa langsung ke Singapura dan menemui pihak terkait disana!" seru Felix.


Chairul menganggukkan kepalanya,


"Bisakah kalian mengurus semua itu, aku akan minta Benjamin mewakili ku!" ucap Chairul menepuk bahu Benjamin asisten kepercayaan nya.


Felix mengangguk paham, mereka tahu Chairul tidak bisa pergi karena mengkhawatirkan kondisi Belinda yang belum pulih benar.


"Tapi ingat, jangan sampai anggota keluarga ku yang lain atau karyawan lain tahu tentang masalah ini!" ucap Chairul tegas memperingatkan semua yang ada di sana.


Masih di waktu yang sama, di villa Marvin. Moetia tidak mau sama sekali menyentuh makanan yang di sediakan oleh pelayan Marvin. Sekarang sudah jam tiga sore dan minum pun Moetia tidak mau.


Pelayan Marvin pun menyampaikan sikap keras kepala Moetia itu pada Marvin.


Marvin terlihat kesal dan masuk ke kamar Moetia dengan marah.


"Berhentilah membuat masalah!" teriak Marvin di ambang pintu.


Moetia yang berdiri dan menyandarkan tubuhnya di dekat jendela, tidak merespon.


Marvin bertambah kesal lalu mendekati Moetia dan mencengkeram lengannya dengan kasar.


"Jangan membuat ku marah! makan lah! jangan sampai kamu menjadi mayat saat bertemu dengan kekasih mu itu?" teriak Marvin.


Moetia memejamkan matanya saat Marvin berteriak di depannya, Moetia menghentakkan kakinya dan menginjak kaki Marvin.


"Augh, Sial! berani nya kamu!" Marvin sudah mengambil ancang-ancang akan memukul wajah Moetia.


Tapi dia berhenti karena bukannya takut Moetia malah memberikan pipi kanannya mendekat ke arah tangan Marvin.


"Mau pukul, pukul saja! Kita akan lihat semakin menyedihkan kondisiku saat Bagas menemukan ku, maka akan semakin tragis akhir mu!" gertak Moetia.


Marvin membulat kan matanya, belum pernah ada wanita yang berani menggertak nya begini.


"Dengar siapa namaku baik-baik! Aku adalah Marvin Payage, kamu akan menyesal karena menentang ku!" seru Marvin sombong.


Moetia malah menatap mata Marvin dengan berani,


"Aku adalah kekasih Bagas Chairul Wiguna, kamu akan lebih menyesal jika tidak segera menyadari kesalahan mu!" balas Moetia.


Marvin sudah sangat tersulut emosi, dia memukul jendela kaca yang ada di belakang Moetia hingga retak.


Tatapannya tajam mengunci pada mata Moetia.


Moetia juga tak gentar sedikitpun, dia juga tidak menunjukkan bahwa dirinya takut.


Marvin berbalik dan keluar dari kamar dengan membanting pintu sangat keras.

__ADS_1


Moetia kembali lemas dan duduk di tepi ranjangnya, dia mengelus perutnya yang sepertinya sudah meronta-ronta minta di isi nasi campur favoritnya.


"Aku lapar sekali, tadi pagi aku hanya minum segelas kopi, ah... apa maunya sih Payage itu?" kesal Moetia.


Moetia terdiam, seperti nya dia mengenal nama itu.


"Payage, seperti nya tidak asing." gumamnya lagi.


Akhir nya Moetia mengingatnya, dia menepuk jidatnya sendiri.


"Astaga, itu kan saingan Bagas dalam perjanjian bisnis ini! Astaga, orang itu pebisnis atau mafia, kenapa urusan tender saja dia menculik orang!" gerutu Moetia.


Reno mencoba membuatkan secangkir teh hangat untuk Bagas, tapi Bagas malah menepisnya dan terus berjalan bolak-balik karena cemas.


Bagas mengambil kunci mobil yang ada di jas Reno,


"Kamu mau kemana?" tanya Reno.


"Aku akan mencari Moetia!" seru Bagas.


Theo menghadang Bagas, setelah tadi Audrey menghubunginya seperti nya dia dapat pencerahan.


"Tunggu, mau cari dimana?" tanya Theo.


Bagas mendorong Theo agar menyingkir,


"Minggir, semua ini juga karena kamu tidak becus menjaganya!" kesal Bagas.


"Tunggu, apakah Moetia memakai kalung yang Audrey design khusus untuk mu?" tanya Theo.


Bagas yang sudah di ambang pintu berbalik dan menjawab Theo,


Reno mendekati Theo,


"Apa itu bisa membantu?" tanya Reno


Theo mengangguk,


"Audrey bilang, setiap kalung yang dia design punya chips khusus di dalamnya, hingga jika hilang atau dicuri, pemiliknya bisa mengecek dimana kalung itu!" jelas Theo.


Bagas mendekati Theo,


"Cepat telepon Audrey!" seru Bagas.


Theo segera menghubungi Audrey,


"Halo Theo, bagaimana?" tanya Audrey.


Belum Theo menjawab pertanyaan Audrey, Bagas dengan cepat merebut ponsel Theo.


"Halo Audrey, ini Bagas! katakan bagaimana caranya mengetahui dimana Moetia, maksudku pemilik kalung itu berada?" tanya Bagas cepat.


"Aku sudah mengirimkan id kalung itu pada Theo, minta lah seorang ahli komputer membantu kalian!" seru Audrey.


"Baiklah!" sahut Bagas.


Bagas memberikan telepon itu pada Reno, karena Reno juga adalah seorang ahli komputer.

__ADS_1


"Ren, id nya sudah dikirim Audrey, cepat cari dimana lokasi Moetia!" seru Bagas.


Reno segera mengambil laptop dan beberapa peralatan nya, setelah mencari beberapa menit Reno menemukan titik merah yang menunjukkan lokasi Moetia.


"Dia disini!" ucap Reno lalu memperbesar gambar lokasi itu.


"Astaga, ini jauh sekali. Kita butuh dua sampai tiga jam untuk kesana!" seru Reno.


"Beri tahu, semua anak buah ayah, kita akan kesana. Theo ikut dengan ku! Reno kamu tunggu anak buah ayah datang baru menyusul kesana!" perintah Bagas.


Theo sedikit ragu,


"Bagas, apa tidak lebih baik kita menunggu Benjamin dan yang lain datang..."


"Aku akan pergi dengan Bagas, kamu tunggu Benjamin dan yang lain!" sela Reno.


Reno dan Bagas akhirnya memutuskan untuk pergi terlebih dahulu.


Reno terlihat cukup tenang dan mengendarai mobil dengan laju yang stabil, sementara Bagas terlihat gelisah.


"Tempat apa itu?" tanya Bagas sambil melihat ke arah laptop yang dari tadi dia pegang sebagai penunjuk jalan.


"Sepertinya kawasan pedesaan atau semacamnya, lihatlah tidak banyak bangunan atau tempat yang tertera di google Maps." jawab Reno.


"Tunggu aku Moetia, aku akan menjemput mu sebentar lagi!" gumam Bagas.


Reno yang mendengar kata-kata Bagas ikut merasa sedih.


Sementara itu Moetia terus berusaha mencari jalan keluar dari tempat itu.


Tadi Moetia sempat membobol jendela, tapi sayang ketahuan oleh penjaga. Hingga dia harus di ikat dengan tali di sebuah kursi oleh Marvin.


"Aku seperti nya terlalu meremehkan mu! jangan salahkan aku jika mengikat mu begini! salah mu sendiri tidak patuh!" ucap Marvin santai.


"Pantas saja kamu kalah dalam tender itu, aku lihat dari tadi kerjamu hanya mondar-mandir menakuti aku. Apa kamu sudah jadi pengangguran?" sindir Moetia.


Marvin menendang salah satu kaki kursi tempat Moetia di ikat, hingga Moetia sedikit terhantuk sandaran kursi.


"Jaga bicara mu! aku hanya ingin lihat bagaimana Bagas Chairul Wiguna itu frustasi, setelah itu aku akan menukar mu dengan tender yang telah dia rebut." jelas Marvin dengan tatapan tidak bersahabat.


"Kamu tidak akan mendapatkan apa yang kamu mau, tidak tender itu, tidak juga frustasi Bagas. Dia tidak selemah itu!" seru Moetia.


Marvin sungguh kesal pada ucapan Moetia, dia menarik salah satu lengan kemeja Moetia hingga robek.


"Bagaimana jika Bagas mu itu tahu, bahwa seseorang telah menyentuh kekasihnya? apa dia tidak akan frustasi?" gertak Marvin.


Moetia merasa terkejut, dia gemetar karena ketakutan.


Tangan dan kaki nya terikat, Moetia tidak menyangka jika ucapannya telah memprovokasi Marvin.


Marvin makin mendekati wajah Moetia, tangannya bahkan sudah meraih tengkuk Moetia.


"Jangan macam-macam, menjauh lah dariku!" teriak Moetia.


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


Penasaran gak kelanjutan nya?

__ADS_1


Sampai ketemu di bab selanjutnya ❤️


__ADS_2