
Sekitar jam 7 malam Aries kembali ke rumahnya dengan perasaan yang sangat lega. Setelah dari apartemen Moetia dan Bagas tadi dia kembali ke kantor terlebih dahulu.
Sepanjang jalan tadi dia sudah menimbang banyak hal, dia memutuskan untuk membiarkan Moetia bersama dengan Bagas meskipun dirinya belum sepenuhnya bisa menerima lelaki yang sekarang sudah jadi suami putrinya itu.
Sampai di depan rumah nya, Aries di kejutkan dengan kedatangan banyak media dan beberapa orang yang berkerumun di depan gerbangnya.
Ketika Mang Kus membuka pintu gerbang, dua orang satpam yang lain berusaha menahan agar orang-orang itu tidak masuk ke halaman rumah.
Setelah mobil Aries masuk ke dalam gerbang, mang Kus dan kedua satpam segera mengunci kembali pintu gerbang.
Aries turun dari mobil lalu masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah Aries melihat Soraya sedang duduk di sofa dan Malika terlihat bersimpuh di hadapannya.
"Sudah Malika, jangan seperti ini!" ujar Soraya yang terus berusaha mengajak Malika agar bangkit.
"Ada apa ini?" tanya Aries menghampiri Soraya dan Malika.
Soraya dan Malika menoleh bersamaan ke arah Aries, Soraya segera menarik kedua lengan Malika dan segera mengajaknya duduk di sebelahnya.
Aries mengendurkan dasi nya lalu duduk di hadapan Soraya.
"Di luar banyak wartawan, banyak sekali orang yang berteriak. Samar-samar aku mendengar mereka seperti memaki. Ada apa sebenarnya?" tanya Aries yang mulai kesal.
Malika menangis dan menundukkan kepalanya. Sementara Soraya memberikan ponselnya pada Aries, sebelumnya Soraya sudah memutar sebuah video.
Aries melihat jelas siapa yang sedang menangis dan berbicara di dalam video itu.
Video konferensi pers yang Manda buat sekitar tiga jam yang lalu.
Aries melihat sudah jutaan orang yang melihat dan ratusan komentar sudah tercantum di video itu.
"Kalian semua tahu, aku lah tunangan Bagas Chairul Wiguna, tapi tanpa perasaan wanita yang mengaku sebagai sahabat baik ku itu telah menusukku dari belakang. Mereka bahkan telah menikah, bukankah ini tidak adil bagiku!" seru Manda di dalam videonya dengan Isak tangis dan wajah yang teraniaya.
Aries mulai mengeraskan rahangnya, dia menggenggam ponsel Soraya dengan kuat.
"Aku selalu melakukan apapun dan merelakan apapun demi dirinya, bahkan disaat seperti ini pun tidak ada yang berpihak padaku. Aku lah orang yang disakiti disini, aku lah yang di khianati. Tapi mereka semua seakan menutup mata dan membela kelakuan tidak benar putri mereka hiks..hiks..!" sambung Manda lagi yang mendapat simpati dari para wartawan yang ada disana.
__ADS_1
"Aku hanya inginkan keadilan, orang ketiga dalam hubungan seseorang dibiarkan, maka akan ada berapa banyak lagi Manda yang malang seperti aku di dunia ini hiks.. hiks..".
Aries sudah tidak tahan lagi, dia menghentikan memutar video itu dan meletakkan ponsel Soraya di atas meja.
Aries mengusap wajahnya kasar dan memijit pelipisnya sendiri.
"Maafkan aku Aries, Soraya. Aku tidak menyangka Manda akan melakukan hal seperti itu." sesal Malika yang masih terisak.
Soraya mengelus punggung Malika sambil dirinya sendiri terus menghela nafas panjang. Dirinya sendiri masih sangat risau tentang keadaan Moetia.
"Aku akan meminta ayah nya Manda kemari, dia pasti bisa membuat anak itu mengerti!" lanjut Malika yang terus merasa bersalah.
Aries terlihat berpikir sejenak, sekarang pasti tidak akan ada yang percaya dengan penjelasan nya kalaupun dia membalas konferensi pers Manda.
"Pa, Moetia..." lirih Soraya.
Aries menghela nafas nya panjang lagi. Dia ingin bercerita tentang keadaan Moetia. Tapi tidak nyaman dengan Malika.
"Persoalan ini tidak sesederhana kelihatan nya, nama baik tiga keluarga di pertaruhkan disini, aku akan diskusikan dengan mas Chairul dahulu, karena masalah ini juga melibatkan nama keluarga nya. Malika jangan terus bersedih seperti ini, sebaiknya kamu hubungi Ahmad, dan katakan kami baik-baik saja. Masalah ini akan segera teratasi, jangan sampai dia cemas dan perhatiannya terbagi. Bukankah keadaan Amira belum stabil!" jelas Aries.
Setelah beberapa jam, terlihat wartawan yang tadinya berkerumun di depan gerbang sudah mulai sepi.
Aries menutup tirai jendela dan kembali menghampiri Soraya yang terlihat melamun.
"Ada apa?" tanya Aries lalu duduk di sebelah Soraya.
Soraya menggenggam tangan Aries.
"Bisakah kita memaafkan Moetia, bagaimana dia putri kita satu-satunya. Yang dia lakukan memang salah, dan aku sangat kecewa. Tapi benar kata mas Chairul, jika ada yang disalahkan itu juga kita yang tidak peka pada perubahan sikap dan perasaan Moetia." jelas Soraya lembut.
Aries memperhatikan setiap perkataan dari Soraya.
"Mas Chairul bilang, Moetia bahkan tidak bisa bangun dari tempat tidur. Pa, aku sangat mencemaskan nya. Bisakah kita menjenguknya?" tanya Soraya yang matanya sudah berkaca-kaca.
Aries menepuk tangan Soraya lalu menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Tentu saja, besok siang kita akan menjenguk Moetia!" sahut Aries.
Soraya tidak bisa menahan rasa haru nya, dia memeluk Aries dan menangis di pelukan suaminya itu.
Sedangkan di tempat lain. Belinda terlihat begitu syock melihat unggahan video konferensi pers yang Manda buat.
Chairul dan Roni ikut cemas, takut jika penyakit jantung nya akan kambuh.
"Bu, jangan terlalu dipikirkan. Ayah akan segera meminta Benjamin menghapus video itu dari internet!" seru Chairul yang ikut terlihat tegang.
Belinda sudah memegang dadanya kuat, matanya sudah berkaca-kaca.
"Aku tidak menyangka Manda akan berkata seperti itu tentang Bagas dan Moetia." Lirih Belinda sedih sekali.
"Tega sekali dia bahkan memfitnah Bagas telah menikah dengan Moetia!" lanjutnya.
Chairul terlihat mulai panik, dia meminta agar Belinda tenang tapi Belinda malah menangis.
"Aku akan jelaskan kalau yang dikatakan Manda itu salah!" tegas Belinda meraih ponselnya.
"Kamu mau apa?" tanya Chairul.
"Meminta Benjamin mengadakan konferensi pers, semua harus di jelaskan Manda pasti salah paham!" ucap Belinda.
"Sebenarnya yang Manda katakan itu tidak semuanya salah!" seru Chairul.
"Apa maksud mu?" tanya Belinda.
"Bagas dan Moetia memang sudah menikah!" jawab Chairul tegas namun hati-hati.
"Apa!!!" pekik Belinda.
Belinda menekan kuat dadanya dan jatuh terduduk di kursi.
"Teganya kalian menyembunyikan hal sebesar ini dariku..." ucap Belinda terbata-bata sebelum jatuh pingsan.
__ADS_1
Roni dan Chairul sangat panik, Chairul meminta Roni menyiapkan mobil. Chairul segera menggendong tubuh Belinda dan segera membawa nya ke rumah sakit.