
"Bu" sebuah suara mendekat padaku.
Aku melihat kearah Bu sri yang mendekat dia kemudian duduk di dekat kursi dan menagambil kursi di sebelah meja dan dududk di dekatku.
Hari masih pagi,dan siswa kelasku lagi jam olahraga bersama Pak Bima di lapangan.
"Ada apa Bu" tanyaku
"Bu, saya minta maaf, bukan maksud apa-apa hanya saja saya ingin brrtanya" ucapnya
Degh.
"Bu suami saya punya kenalan seorang pengacara, apa ibu ingin segera bercerai" kata bu Sri penuh selidik.
Aku hanya menatap.
"Bu maaf kan saya Bu, Anita menceritakan pada saya" ucapnya lagi
"Bu maaf,saya hanya ingin membantu" katanya lagi
"Iya "akhirnya hanya jawaban itu yang keluar dari mulut ini.
"Saya belum mengajukan cerai dan belum ke pengadialan" kataku kemudian.
"Bu maaf,jangan di perlambat Bu" ucap Bu sri lagi
"Baiklah terima kasih sarannya Bu"sahutku
"Ini nomornya silahkan ibu menghubunginya"
Dia memberikan sebuah kartu nama padaku.
"Sekali lagi maaf bu, bukan maksud apa-apa" katanya .
"Iya bu tak apa" sahutku
"Bu maafkan saya" katanya.
"Bukan maksud ikut campur Bu"
"Tidak apa-apa Bu" sahutku cepat demi mendengar perkataan Bu Sri.
__ADS_1
Segera aku telpon nomor itu aku menuju keluar kantor, aku sudah tidak sabar melepaskan ikatan ini.
Aku sudah teramat lelah, dia yang masih berstatus suamiku itu selalu menelepon dan menanyakan aku berada dimana.
Aku tak pernah memgangkat telpnya itu.ku biarkan telepon selalu berdering dan ku silent saja, aku sebenarnya ingin memblokir tapi aku tidak mau , ku biarkan saja.
*
"Iya Bu siap. Ini dengan bu Nadia ya, saya akan datang dan memberikan bantuan kapan pun ibu memerlukan saya" ucap suara di tepepon.
"Ya bu, tapi saya.." kalimat ku menggantung dan terpotong
"Tenang Bu, semua sudah di selesaikan Pak Riki" katanya lagi.
"Ibu hanya perlu menyerahkan berkas dan bukti perselingkuhan itu" berkata penuh penegasan
"Kapan ibu ada waktu saya siap" ujarnya lagi
Aku tertegun dengan ucpan pengacara itu.
Apa pak Riki yang mebantu dan membiayainya,apakah ini dilakukan Bu Sri dan dia menyampaikan pada Pak Riki.
Anita yang memberi tahukan kepada Bu Sri, kemudian pak Riki seperti ini, berbagai opini di kepala ku seperti bertebaran, layaknya penuh dengan kalimat pertanyaan.
Aku tak tau sejak kapan dia berada disana.
Dan tiba-tiba mendengar suaranya.
"Tidak apa-apa bu, kenapa ibu minta maaf terus, saya loe sampai kenyang, orang ibu gak salah juga" jawabku sambil bercanda.
"Iya bu saya ga enak aja" sahutnya
"Gak apa-apa Bu" ucapku.
"Ya udah, kita ke kantin ya?" tawarnya padaku
"Pasti Bu Nadia tak karuan makan. Ujarnya lagi.
" Ibu tau saja" sahutku
"Yah tahu Bu, Ibu kalau dalam masalah, biasanya pasti susah makan, apa-apa gak doyan.Makanan serasa menelan duri saja" katanya membuatku tertawa saja dibuatnya.
__ADS_1
Akupun tertawa begitu juga bu Sri.
Aku dan bu sri berjalan di samping parkir khusus guru,melewati koridor laboratorium bahasa dan koridor perpustakaan.
"Woy.. !Suara berteriak membuat kami berdua serentak menoleh.
Terlihat pak Riki berlari kecil ke arah kami.
"Mau kemana, boleh ikutan gak" bertanya Pak Riki
Mau Naik pohon! Boleh donk, masa gak boleh" ucap Bu sri.
"Kemana" tanya Pak Riki lagi
"Kemana lagi pak, kalo bukan ke kantin" sahut Bu sri.
"Ya kali aja bu Nadia mau ke hati saya"
"Hayo..!Bu Nadia...,tu dengerin apa kata Pak Riki.
Aku hanya tersenyum.
Setelahnya ke kantin bersama.
Di kantin Pak Riki memesan makanan dan minuman.
"Pak ga usah makan cemilan kita pesan lalapan saja , bu Nadia belum makan ini" Ucap Bu Sri.
"Mikiri masalahnya saja sudah kenyang" kayanya lagi.
Aku pun mebulatkan mata kepada Bu Sri.
"Oke Bu".
"Minumya juice alpukat saja ya"
"Sip..!Pesan 3 juice alpukat 3 lalapan pecel lele".
"Iya kan Bu Nadia" Bu Sri bertanya dan selalu berceloteh dari tadi.
Aku hanya nyengir , gak di iyakan juga bagaimana.ya sudah lah.
__ADS_1
Bu sri memang benar sekarang aku tak karuan makan, aku tak terlalu menghiraukan makan sekarang untung saja anakku tak mengikuti aku, dia tetap makan dan tak pernah menanyakan ayahnya itu.