
Aku duduk di sudut ruangan, kepala rasanya nyut-nyutan, baru saja suamiku marah, entah apa sebabnya.
"Jadi orang gak gesit! Apa..!cuma bisa naik motor"
Ucap suara di depan kamarku terdengar jelas sekali, akupun mengerjapkan mata dan bangun.
Baru saja aku merebahkan diri agar sedikit terlelap dan ingin tidur siang, tiba-tiba saja suara itu ku dengar.jam 2 siang tadi aku baru pulang dari sekolah.
Hari ini ada rapat kerja,sepulangnya dari sekolah aku pun mandi dan berganti baju, dan bermaksud tidur siang.
"Mau kh aku ngamuk! Hah!" Ucap suamiku yang sudah berdiri di pintu kamar.
Ku pijat pelipis dikepala ini, sakit sekali hati ini, aku memilih diam saja, segera aku keluar kamar dan duduk menetralkan suasana hatiku, aku diam saja tak hiraukan, hati ini perih sekali.
Apa salahku, lama kumerenung, dan aku sudah tau dia tidak suka aku tidur siang, malas itulah tanggapannya,aku sudah tak menyahut dan berdebat aku sudah lelah.air mata ini mengalir menganak sungai,Segera ku tepis, kemudian aku ke dapur mencuci muka.
__ADS_1
aku masuk lagi ke kamar dan mencari handuk untuk mengeringkan wajah ini.
"ha ha...haha" ucap suara diluar.
Repleks aku menjenguk, itukan suara suamiku, dia menonton youtube di hpnya, entah apa yang dilihat, baru saja dia berkata kasar padaku, bisa-bisanya dia bersikap seperti itu.
Hati ini semakin sakit terasa, aku meneteskan air mata kembali, suami seperti apa dia, sangat membuat batin ini nyeri.
Apakah kata-kata yang baru di ucapkannya hanya angin lalu baginya.
Mengapa aku bersuamikan dia,apakah dia tidak mempunyai perasaan, entahlah..
Suamiku tidak seperti suami kebanyakan orang, dia tidak tau bagaimana bersikap atau memang tak mau tahu, padahal dia kuliah di Ilmu Pemerintahanh dan dia juga lulusan pesantren.
Ya Allah,apa salahku, berikan aku kekuatan untuk menghadapi dan melewati ini semua.
__ADS_1
Aku harus kuat, ya.. semua ini kupertahankan karena anakku,aku tidak ingin dia kehilangan sosok ayah kandungnya, miris memang tapi aku mencoba realistis.
Aku harus kuliah sesuai Jurusannku, dan aku harus mencari penghasilan dan aku harus pergi dari sini,sangat sakit rasanya bertahan dengan seorang suami yang tak menghargai istri, ya aku menyesal! Sungguh!
Suami pilihanku yang bersikeras aku mempertahankannya, memperlakukan aku seperti ini, aku malu dengan Ayah dan Ibu kandungku bila mengakuinya dan menceritakannya,aku selalu menceritakan yang baik-baik saja tentangnya, tapi ..
Berkali-kali dibuat sakit hati ini,Setiap aku pulang kerumah orang tuaku,Ibu seperti tau, tapi tak pernah terucap dari mulutnya, hanya saja setiap aku pamit pulang dia selalu berkata yang membuatku menangis, benar kata orang firasat orang tua selalu benar.
Hanya sedikit saja pesannya, tapi aku menangis dan memeluknya, kemudian aku pamit pulang, aku hanya menampakkan yang baik saja pada keluargaku.
Dimata saudara dan orang tua , rumah tangga ku baik-baik saja, tak ada masalah, adem ayem tanpa mereka tahu bagaimana keadaanya.
Bukan perselingkuhan, atau KDRT, aku mencoba bertahan karena semuanya demi anakku, aku tak ingin anakku mentalnya down atau sejenisnya karena orangtuanya berpisah.
Bertahan karena anak itulah alasanku.tapi dengan keadaan seperti ini aku sudah tak bisa menoleransi, aku harus mampu berdiri pada kakiku sendiri.
__ADS_1