Dilema

Dilema
Survival ala Moetia 1


__ADS_3

Soraya terlihat mondar-mandir saja sejak tadi, bahkan dia tidak ikut menyiapkan makan malam seperti biasanya.


Setelah menyiapkan makan malam, Malika menghampiri Soraya yang masih mondar mandir di ruang tengah sambil terus menghubungi nomer Moetia.


"Soraya, coba telpon Bagas saja!" seru Malika.


"Menghubungi Bagas? itu akan menjadi pilihan terakhir ku! Aku juga tidak ingin bicara dengan nya. Aku masih kesal karena dia telah mempermalukan Moetia saat itu!" kesal Soraya.


Malika menghela nafas panjang, seperti nya Soraya masih kesal pada Bagas. Tapi bagaimana pun juga Bagas adalah tunangan Manda.


Malika mengelus lengan Soraya dengan lembut,


"Apa kamu tidak akan memaafkan Bagas, dia bahkan sudah meminta maaf di depan umum juga di depan notaris. Tapi jika kamu belum bisa memaafkannya, tidak apa-apa. Aku tahu hatimu sangat baik!" ucap Malika membuat Soraya menjadi tidak enak.


Soraya duduk di sofa lalu mencoba menghubungi nomer Bagas.


"Halo," jawab Bagas di ujung telepon.


"Ha... halo Bagas, bagaimana kabar mu? begini! Tante sudah menghubungi Moetia beberapakali tapi tidak pernah diangkat, apa dia baik-baik saja?" tanya Soraya gugup.


"Baik Tante, tapi saat ini dia sedang pergi dengan Reno!" ucap Bagas.


"Oh begitu ya, Bagas bisakah Tante minta tolong?" tanya Soraya ragu.


"Katakan saja Tante!" seru Bagas.


"Katakan pada Moetia saat dia kembali nanti, untuk segera menghubungi Tante ya!" seru Soraya.


"Baik Tante!" sahut Bagas lalu memutus panggilan teleponnya.


Tut! Tut! Tut!


"Bagas... "


"Ck, lihat kan!" seru Soraya pada Malika.


Malika hanya bisa tersenyum kikuk, karena kelakuan Bagas. Dia sangat tidak sopan, Soraya belum selesai bicara tapi dia sudah mutus panggilan nya.


Sementara itu Theo terlihat sedang memperhatikan Bagas yang mulai cemas.


"Apa kata Tante Soraya?" tanya Theo.


"Dia ingin bicara dengan Moetia. Agh.... aku bisa gila memikirkan Moetia, bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi padanya. Ayolah Benjamin, kita cari saja dia ke semua tempat di kota ini!" seru Bagas.


"Tapi bagaimana jika dia sudah tidak di kota ini?" tanya Theo.


Bagas berdecak kesal dan kembali mengacak rambutnya frustasi.


"Moetia!" lirih Bagas yang kembali terduduk lemah di sofa.


Theo mendekati Bagas dan duduk di sebelahnya,


"Kita tunggu sebentar lagi, Reno sedang mencari tahu properti milik Marvin. Sebentar lagi!" tegas Theo.


Bagas hanya memandang Theo sekilas dan kembali menundukkan kepalanya.


Sementara itu Reno terlihat sedang membawa beberapa dokumen penting, tapi dia mampir ke penjara dan menemui Seruni.

__ADS_1


"Mau apa kamu kemari?" teriak Seruni.


"Membuat kesepakatan dengan mu!" jawab Reno.


"Ha ha ha!" Seruni malah tertawa sangat puas


"Kalian pasti putus asa bukan? kalian tidak bisa menemukan wanita itu kan?" seru seru sombong.


"Aku akan membebaskan mu! aku tahu kamu melakukan pekerjaan ini untuk membiayai ibu dan ke tiga adikmu kan?" tanya Reno.


Seruni membulatkan matanya, bagaimana bisa Reno tahu tentang keluarganya.


"Aku akan melepaskan mu! tanpa memberitahu kan hal itu pada teman mu yang juga di penjara itu. Dengarkan aku baik-baik. Katakan dimana Moetia, maka kamu dan keluargamu akan aman!" jelas Reno.


Seruni terlihat berkaca-kaca,


"Tidak, aku tidak akan memberitahu kan nya pada kalian, tuan pasti akan menghabisi keluarga ku jika aku buka mulut! pergilah!" teriak Seruni lalu keluar dari ruang temu tahanan menuju ke dalam sel nya.


Reno juga tidak bisa memaksa Seruni, seperti yang dia katakan tadi. Mungkin keluarganya akan dalam bahaya jika dia buka mulut. Hingga dia memilih untuk mengakui perbuatannya dan menerima hukuman penjara.


Reno terlihat lemas saat keluar dari kantor polisi, tapi seorang polisi menghampirinya nya.


"Tuan, permisi!" panggil Asman


"Iya," jawab Reno


"Bisa ikut saya sebentar, ada yang mau saya perlihatkan pada tuan!" seru Asman.


Reno mengikuti Asman ke sebuah ruangan loker,


"Ini tuan, ini kami temukan di villa. Dan ini adalah benda yang kami dapatkan dari tahanan wanita yang baru tuan temui!" jelas Asman sambil memberikan potongan kain kemeja yang Moetia pakai dan sebuah kalung.


"Bisakah aku membawa kalung ini! ini milik adikku!" seru Reno.


"Baiklah, tapi anda harus ikut saya dulu untuk memenuhi beberapa prosedur!" sahut Asman.


Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, Reno terus memandangi kalung milik Moetia.


Matanya berkaca-kaca, dia merasa sedih karena saat ini tidak tahu bagaimana keadaan Moetia.


Reno memasukkan kalung Moetia ke kantung kemeja di balik jas yang dia pakai.


Hari makin larut, Moetia merasa cacing-cacing di perutnya sudah protes minta di beri makan.


( Moetia: Thor! gak bisa pakai bahasa lain ya? yang keren dikit gitu, masak iya sih cacing-cacing diperut? gue kan udah ikut anjuran pemerintah untuk minum obat cacing setahun dua kali 🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️🤦🏼‍♀️)


(Author: ✌️✌️✌️ kepikiran nya cuma itu!)


Moetia mulai membiasakan retina matanya melihat dalam keadaan cahaya minimalis itu. Dia melihat beberapa ranting kayu di bibir gua.


Moetia memungutinya dan menumpuknya, Moetia juga mengambil dua buah batu yang berada tak jauh darinya.


Moetia berusaha memukul-mukul kan kedua batu itu agar tercipta percikan api.


Beberapa kali Moetia mencoba tapi sayangnya, usahanya sia-sia.


Karena bunyi keras yang diciptakan Moetia, Marvin pun sadar dan membuka matanya.

__ADS_1


Dia memperhatikan sekitarnya, dia ingin duduk tapi kakinya terasa sangat sakit.


Marvin tetap berusaha untuk duduk, dia memperhatikan wanita yang sedang membentur-benturkan batu di hadapannya.


Seulas senyum tercipta di bibirnya, apalagi saat dia melihat ikatan jaketnya yang ada di lututnya. Dia yakin bahwa Moetia lah yang melakukan itu.


"Hei, wanita!" seru Marvin.


Moetia terkejut hingga melemparkan batu yang dia pegang tadi keluar gua.


"Astaga!" pekik Moetia.


Moetia menoleh ke belakang dan berdecak kesal,


"Kenapa mengagetkan aku! lihatlah batunya jadi basah. Kering saja sudah sekali menghasilkan percikan api, apalagi basah!" onel Moetia mengambil kembali dua buah batu itu.


Marvin mengambil sesuatu dari kantung jaketnya,


"Ini!" seru Marvin sambil memberikan sebuah pemantik pada Moetia.


"Hais, kenapa tidak bilang dari tadi. Tangan ku sudah lecet mengadu kedua batu ini!" omelnya lagi.


Setelah berusaha dengan keras, akhirnya Moetia dapat membuat api Dengan beberapa ranting kayu itu. Hujan pun sudah reda.


Moetia duduk sambil menekuk lututnya dan mengusap-usap kedua telapak tangannya.


"Kamu merasa dingin?" tanya Marvin.


Moetia memandang Marvin dengan tatapan curiga,


"Tidak!" jawab Moetia ketus.


Marvin malah kembali tersenyum,


"Apa yang kamu pikirkan? apa kamu kira aku akan memeluk mu?" tanya Marvin menggoda Moetia.


Moetia melempar Marvin dengan ranting kayu yang ada di depannya,


Buk!


"Kurangi narsis mu itu! semua ini kan karena kamu! jika tidak aku pasti sedang berada di kamar hotel ku yang nyaman dan memakan keripik kentang, oh.. aku merindukan drama Korea ku!" gerutu Moetia dengan suara pelan.


Marvin terlihat menyesal,


"Saat kita berhasil keluar dari sini nanti, kamu akan dapatkan semua keinginan mu!" seru Marvin.


Moetia memandang tak percaya pada Marvin,


"Semua?" tanya Moetia memastikan.


Marvin mengangguk yakin dengan cepat, Moetia memalingkan wajahnya.


'Kamu yang bilang ya, jangan menyesalinya nanti!' batin Moetia.


...💖💖💖💖💖💖💖...


...Terimakasih atas Like, Komentar dan Favorit dari kalian semua ya......

__ADS_1


...💖💖💖...


__ADS_2