
Moetia masih terduduk diam di depan meja rias kamar hotelnya.
Masih tak percaya rasanya, jika dia baru saja setuju untuk menjadi calon istri Bagas.
Moetia mengingat kembali bagaimana pertama kalinya dulu dia bertemu dengan Bagas.
Moetia benar-benar terpesona saat pertama kali melihat Bagas melepas helm nya setelah Moetia tidak sengaja menabrak motor yang di kendarai Bagas waktu itu dengan mobilnya.
Moetia juga tidak menyangka jika orang yang menciumnya untuk pertama kali adalah Bagas.
Dan berbagai kejutan lain yang diberikan Bagas, bahkan Moetia merasa baru kemarin Bagas marah padanya dan mengacuhkannya hingga membuatnya menyadari ketakutan nya saat Bagas pergi menjauh.
Moetia menatap wajahnya di cermin, tapi tiba-tiba bayangan Manda terlihat disana.
"Manda!" lirih Moetia.
Moetia segera berbalik dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
Moetia kembali menetes kan air matanya, Moetia merasa sangat menyesal pada Manda.
Dia meraih ponselnya dari atas meja, ponsel yang baru saja Bagas antarkan padanya.
Moetia pun menghubungi Manda.
"Halo, Moetia. Astaga! apa yang terjadi?" tanya Manda tergesa-gesa.
"Apa yang terjadi?" tanya Moetia gugup.
"Iya, katakan! kenapa kalian bisa bertemu dengan penjahat disana?" tanya Manda.
"Kamu sudah tahu?" tanya Moetia lagi.
"Hei, Moetia. Ada apa dengan mu? bagaimana kondisi Reno? kudengar dia tertembak?" tanya Manda.
"Iya, dia menyelamatkan kami. Tapi sekarang kondisinya sudah membaik!" jelas Moetia.
"Begitu ya, lalu kapan kamu pulang? aku sangat merindukanmu!" seru Manda.
"Aku juga merindukan mu, Manda boleh aku bertanya padamu?" tanya Moetia.
"Terdengar serius? katakan!" seru Manda.
"Apakah mungkin suatu saat nanti kamu akan membenciku?" tanya Moetia.
Terdengar kekehhan dari Manda,
"Hei nona muda, katakan kenapa aku bisa membencimu? alasan apa yang mungkin aku bisa membencimu, bukankah kamu selalu mengalah padaku!" jawab Manda dengan canda.
Moetia kembali menetes kan air matanya,
"Jika suatu saat nanti aku tidak mengalah padamu, apa kamu akan memaafkan aku?" tanya Moetia lagi.
"Diam lah, aku rasa kamu sedang mengigau. Katakan kapan kamu pulang? apa kamu tahu, aku berhasil mendapatkan kontrak eksklusif di acara fashion show designer Ivan Rupawan yang terkenal itu lho!" kata Manda bangga.
Moetia menyeka air matanya,
"Selamat ya, kamu memang hebat!" puji Moetia.
"Tentu saja, siapa dulu Manda!" ucapnya bangga.
Tiba-tiba terdengar suara Soraya dari luar kamar Moetia.
"Moetia sayang, apa kamu sudah tidur? mama masuk ya!" seru Soraya.
"Iya ma!" jawab Moetia.
"Manda, mama ada perlu dengan ku, sekali lagi selamat atas kesuksesan mu!" seru Moetia.
__ADS_1
"Terimakasih, bye Moetia!" seru Manda.
"Bye Manda." sahut Moetia.
Soraya segera menghampiri Moetia,
"Telepon siapa?" tanya Soraya lalu duduk di tepi ranjang di depan Moetia.
Moetia tersenyum lalu menyimpan ponsel nya.
"Manda ma!" jawab Moetia pelan.
Soraya menggenggam tangan Moetia,
"Sayang, bagaimana keadaanmu selama disini? mama tidak menyangka kamu harus melewati tragedi penculikan seperti itu!" sesal Soraya.
Moetia lagi-lagi tersenyum,
"Semua sudah berlalu ma, Mama sudah makan?" tanya Moetia.
Soraya mengangguk,
"Iya sudah, tadi bersama dengan mas Chairul dan mbak Belinda, dan kata mas Chairul kalian besok akan menghadiri rapat penting ya diluar kota selama dua hari?" tanya Soraya.
Moetia terkejut, dia diam sebentar. Mungkin ini semua adalah rencana Chairul.
"Om Chairul bilang begitu?" tanya Moetia.
"Iya, dan mas Chairul bahkan mengajak papa mu menghadiri acara pernikahan seorang koleganya besok. Tapi sayang, mama tidak mengerti kenapa malah papamu yang diajak bukan mbak Belinda ya?" tanya Soraya lagi.
Moetia sungguh sangat bingung harus menjawab bagaimana pertanyaan mamanya itu.
Moetia hanya tersenyum kikuk, dan mengangkat bahunya sekilas.
"Sayang, mama mau tanya boleh?" tanya Soraya mulai sedikit memasang ekspresi wajah serius.
"Apa kamu menyukai Reno?" tanya Soraya.
Moetia membelalakkan matanya,
"Mama salah paham, aku menyukai kak Reno karena aku sudah menganggapnya sebagai kakak ku sendiri!" jelas Moetia.
Soraya sedikit kecewa,
"Begitu ya, Gio hanya teman dan Reno kakak?" tanya Soraya.
Moetia menganggukkan kepalanya perlahan,
"Ayolah sayang, usiamu sudah cukup untuk memberi mama seorang cucu, setidaknya sukai lah seseorang Moetia!" protes Soraya.
Moetia malah terkekeh melihat ekspresi Soraya yang seperti itu.
"Jangan tertawa sayang, mama serius. Atau si pria bule yang selalu bersama Bagas itu saja. Siapa namanya?" tanya Soraya lagi.
"Maksud mama Theo?" tanya Moetia.
Soraya mengangguk dengan cepat,
"Iya, dia saja. Sepertinya dia juga sangat perhatian padamu!" tambah Soraya.
"Dia itu calon adik iparnya pak Austin, atasan Moetia ma!" jawab Moetia dengan tenang.
Soraya malah tambah frustasi,
"Astaga, apa mama harus mulai membuka biro jodoh untuk mu? ayolah sayang, bagaimana dengan rekan kerjamu yang sering main ke rumah itu, Si itu... Sam, iya Sam kan namanya?" tanya Soraya lagi.
Moetia makin terkekeh melihat mamanya semakin ngawur.
__ADS_1
"Maksud mama Samsul, astaga ma. Dia sudah punya anak dua!" jawab Moetia sambil terus tertawa.
Soraya pun menyerah, dia bingung bagaimana harus membuat putrinya itu mengerti betapa dia sudah sangat menginginkan seorang cucu.
"Ya sudah, mama balik ke kamar ya. Istirahat lah, besok kamu harus berangkat pagi kan?" tanya Soraya.
"Mama juga tahu itu?" tanya Moetia.
"Iya, mas Chairul yang bilang, jika pagi-pagi kamu, Bagas dan Theo sudah tidak ada di hotel, itu artinya kalian sudah berangkat ke tempat meeting. Aku kadang ingin protes padamu nak, ayah mu punya perusahaan sendiri, kenapa kamu malah bekerja dan di perintah-perintah orang lain!" protes Soraya lagi.
Moetia tersenyum dan merangkul mamanya,
"Kita sudah sering membahas ini ma, dan bukankah papa juga selalu mendukung Moetia, karena kesuksesan yang di dapat dari hasil kerja keras sendiri, hasilnya akan lebih manis dan bertahan lama." terang Moetia mengcopy paste apa yang diucapkan papanya.
Soraya mengelus lembut kepala anaknya,
"Tapi ingatlah, jika kamu lelah. Ingatlah selalu ada mama papa yang selalu akan ada untuk mu!" ucap Soraya tulus.
Moetia mengangguk paham dan tersenyum.
"Aku tahu, aku sayang mama!" ucap Moetia manja.
"Mama juga menyayangimu nak!" sahut Soraya.
Sementara itu di dalam kamar Bagas, Belinda sedang protes karena Chairul tidak mengajaknya ke acara pernikahan kolega Chairul.
"Bukankah seharusnya kamu pergi dengan nyonya Chairul?" tanya Belinda.
Bagas dan Roni saling pandang dan terkekeh.
Belinda melirik kedua putranya dan berdecak kesal.
"Kenapa kami malah mengajak Aries, apa Soraya juga ikut?" tanya Belinda.
"Tidak, aku hanya mengajak Aries!" jawab Chairul santai.
"Tapi kenapa malah mengajak dia?" tanya Belinda kesal.
Roni berdiri dan merangkul lengan ibunya,
"Biarkan saja Bu, biarkan ayah mengajak om Aries. Besok ibu pergi saja dengan ku berkeliling Singapura. Kudengar banyak game bagus di jual disini!" seru Roni penuh harap.
Belinda menjewer telinga Roni.
"Aduh Bu, sakit!" pekik Roni.
"Kalau bicara yang benar, kalaupun ibu akan berkeliling ibu lebih baik mengajak Soraya saja shoping, kenapa ibu harus mengajak mu!" balas Belinda.
Roni memanyunkan bibirnya dan menghampiri ayahnya.
"Ayah, aku ingin jalan-jalan!" rengek Roni.
"Baiklah, mintalah Ben menemani mu besok!" jawab Chairul.
Roni melompat kegirangan,
"Asik!" serunya.
"Kalau Ben menemani dia, lalu siapa yang menemaniku dan Soraya?" tanya Belinda.
"Jangan iri pada putramu, setelah aku dan Aries selesai menghadiri acara itu. Aku dan Aries akan menemani kalian kemanapun kalian mau!" seru Chairul membuat pipi Belinda yang putih dan masih kencang meskipun usianya tak muda lagi itu memerah.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹...
...Think u ❤️...
__ADS_1