
Moetia melihat ke arah luar gua, tadi sore hujan lebat jadi dia tidak begitu memperhatikan keadaan sekitar.
Melihat Moetia celingak-celinguk melihat ke luar, Marvin mengira dia mencari seseorang yang bisa menolong Moetia dan dirinya.
"Sudah malam, mungkin pak Syarif dan yang lain akan menemukan kita besok!" seru Marvin tenang.
"Aku mencari makanan!" ketus Moetia.
Marvin mencoba untuk berdiri tapi tidak bisa, lututnya sangat sakit.
Moetia melihat ke arah Marvin yang merintih kesakitan.
"Kamu mau apa?" tanya Moetia membantu Marvin berdiri.
"Mencari makanan untuk mu!" jawab Marvin.
Moetia mengerutkan dahinya, dia terkejut mendengar ucapan dan perubahan sikap Marvin.
'Kenapa dia jadi baik begini, bukankah tadi siang dia hampir menampar ku?' tanya Moetia dalam hati.
Ketika Marvin berdiri dan tangannya merangkul Moetia, dia menatap wajah Moetia yang masih berusaha membantunya berdiri dengan benar.
"Siapa nama mu?" tanya Marvin lembut.
Moetia berdecak kesal dan melepaskan tangan Marvin hingga dia terjatuh ke tanah.
"Augh!" pekik Marvin.
"Hei, wanita kamu jahat sekali, aku hanya tanyakan nama mu dan kamu menjatuhkan aku lagi!" protes Marvin.
"Hah, kamu itu hanya modus kan! sudah lah aku sendiri yang akan keluar dan mencari makanan!" seru Moetia lalu keluar dari gua sambil membawa, pemantik yang di berikan Marvin tadi.
Moetia melihat sekeliling,
"Gelap sekali," gumamnya sambil terus berjalan.
"Wah!" seru Moetia.
Moetia senang sekali melihat ada tanaman merambat yang bentuknya sangat dia kenali.
Moetia mendekati tanaman itu dan mengambil buahnya,
"Semangka, ini luar biasa". seru Moetia senang.
Moetia segera membawa buah semangka yang beratnya kira-kira satu kilo lebih itu ke dalam gua.
"Hei, lihat lah aku dapat makanan!" seru Moetia bangga pada Marvin.
Marvin malah terkekeh,
"Semangka, apa kamu ingin semalaman terus buang air kecil jika hanya makan itu!" bantah Marvin.
Moetia berdecak kesal,
"Terserah! jika tidak mau maka jangan di makan!" balas Moetia.
Moetia sedang membolak-balikan semangka yang dia dapat tadi.
"Bagaimana membelahnya?" gumam Moetia.
Marvin malah menertawakannya,
"Banting saja, dia akan terbelah sendiri!" seru Marvin.
__ADS_1
"Tidak, sayang sekali jika hancur berantakan di tanah nanti!" sahut Moetia.
Marvin lalu menegakkan duduk nya lalu membuka tali pinggang yang dia kenakan.
Moetia terkejut dengan apa yang Marvin lakukan,
"Hei, jangan macam-macam ya, aku bisa melemparkan semangka ini ke kepalamu kalau kamu macam-macam!" gertak Moetia.
Marvin terkekeh,
"Apa kamu bercanda? berdiri saja aku tidak bisa, bagaimana aku berani macam-macam padamu. Lihat, dahi ku saja masih biru karena ulah mu!" jelas Marvin.
Moetia merengut, dia masih terus memikirkan bagaimana membelah buah yang ada di pangkuannya itu.
"Berikan semangka itu padaku!" seru Marvin.
Moetia sedikit ragu, tapi kemudian dia berdiri dan mendekati Marvin, dia menyerahkan semangka itu pada Marvin lalu duduk di sebelahnya.
Moetia melihat Marvin memakai besi ikat pinggangnya untuk menggores semangka itu.
Dengan perlahan dan sabar, Marvin menggores sedikit demi sedikit buah itu.
Setelah beberapa menit, akhirnya semangka itu terbelah empat bagian sempurna.
"Wah!" seru Moetia senang dan tersenyum lebar.
Moetia segera mengambil satu potong dan memakannya,
"Selamat makan! em... manis sekali!" ucap Moetia senang.
Marvin yang melihat Moetia begitu senang pun ikut tersenyum dan memakan satu potong buah yang ada si depannya.
"Kamu senang sekali!" seru Marvin.
Marvin memperhatikan cara Moetia bicara dan caranya makan. Sungguh tidak ada kepura-puraan sama sekali.
Moetia merasa Marvin memperhatikan nya dan sedikit menggeser duduknya menjauh,
"Hei, apa yang kamu lihat?" tanya Moetia ketus.
"Aku sedang memperhatikan seorang wanita yang tak malu mengunyah sambil bicara, lihatlah makan mu sangat berantakan!" jawab Marvin tenang.
Moetia menyentuh dagu dan sekitar mulutnya, dia tersenyum malu.
"Benar, sudah jangan lihat aku!" seru Moetia.
Marvin mengeluarkan sebuah sapu tangan dari kantung celananya.
"Ini, pakailah!" ucap Marvin lembut.
Moetia melihat ke arah sapu tangan dan Marvin bergantian, dia sedikit ragu. Tapi benar kata Marvin tadi, berdiri pun tidak bisa, tidak mungkin kan jika Marvin akan macam-macam. Begitulah pikir Moetia.
Moetia meraih sapu tangan itu, lalu mengelap wajah dan tangannya.
Moetia menyingkirkan sampah bekas dia dan Marvin makan. Lalu kembali bersandar di dinding gua.
Marvin melihat wajah Moetia yang terlihat lelah, tapi entah kenapa Marvin merasa wajah Moetia terlihat sangat menenangkan untuk di pandang.
Marvin jadi salah tingkah ketika Moetia mendekatinya,
Plak!
"Hei, kenapa kamu menampar ku?" tanya Marvin terkejut.
__ADS_1
Moetia menunjukkan telapak tangan nya pada Marvin,
"Aku memukul nyamuk!" jawab Moetia santai sambil menunjukkan noda darah di tangannya dan juga mayat seekor nyamuk.
Marvin jadi makin salah tingkah karena jantungnya berdetak kencang, bagaimana tidak posisi Moetia saat ini sangat dekat dengannya.
Moetia kembali mundur dan bersandar di dinding gua.
Moetia menambahkan beberapa ranting kayu, ke dalam api yang masih menyala.
"Hei wanita, tidurlah. Aku akan menjaga nyala api ini!" ucap Marvin.
Moetia menatap Marvin, memastikan dia dalam keadaan baik.
"Baiklah, aku akan dekatkan ranting-ranting ini padamu, jangan boros ya!" seru Moetia sambil menggeser ranting-ranting kayu yang tadi dia kumpulkan di dekat Marvin.
Moetia menekuk lututnya lalu meletakkan kepalanya diatas kedua tangannya yang dia tumpu kan pada lututnya.
Moetia pun tertidur, Marvin masih terus memperhatikan nya.
Dia mulai menaruh simpati pada wanita dihadapannya itu, meskipun Marvin sudah memperlakukannya kasar, tapi Moetia malah menyelamatkan nya dan membantunya saat Marvin tidak berdaya.
Sementara itu, Bagas dan yang lain sudah menemukan beberapa tempat yang mungkin di datangi Marvin untuk menyembunyikan Moetia.
Theo dan Benjamin pergi ke bagian selatan, ke villa Marvin yang lain. Sementara Bagas dan Reno menuju ke daerah perbukitan.
"Sepertinya baru saja turun hujan di daerah sini, jalanan ini licin sekali!" ucap Reno.
"Apa kamu lelah Ren?" tanya Bagas.
"Tidak! makin cepat kita sampai ke pondok berburu Marvin, makin cepat kita menemukan Moetia!" jawab Reno.
Tak lama kemudian, ada masalah dengan mobil mereka. Reno berusaha keras mengendalikan laju kendaraannya.
"Ada apa?" tanya Bagas.
"Sepertinya ada masalah dengan roda kendaraan ini!" jawab Reno lalu mengerem mobil itu.
Reno keluar lalu memeriksa ban depan sebelah kanan. Reno kesal lalu memukul kap mobil dengan keras.
"Sial!" pekik Reno.
Bagas ikut keluar dari mobil dan menghampiri Reno.
"Bagaimana?" tanya Bagas.
"Lihat, ban nya bocor. Kita harus minta bantuan pada Benjamin atau anak buahnya!" ucap Reno.
Reno lalu menelpon Benjamin dan memintanya mengirimkan mobil lain juga beberapa anak buah lainnya.
"Ck, kenapa selalu seperti ini. Moetia pasti sangat ketakutan sekarang!" kesal Bagas sambil menendang roda mobil yang bocor.
...🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉...
Readers: thor! serius itu ada semangka di jurang?🤔🤔🤔
Author: Itu sih bisa-bisanya author aja, kalau gak gitu masak iya kita suruh Moetia manjat pohon pisang atau pohon kelapa 🤭🤭🤭
...🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉🍉...
...Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar dan Favoritnya ya 🌹🌹🌹🌹🌹...
...Terimakasih 🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1