
Moetia menghentakkan tangan nya sekuat yang dia bisa tapi genggaman Marvin di pergelangan tangan nya lebih kuat.
Moetia menggunakan tangannya yang satu lagi untuk melepaskan tangan Marvin, tapi tetap tidak bisa melebihi kekuatan genggaman Marvin di pergelangan tangan nya.
"Lepaskan aku!" teriak Moetia dan matanya sudah berkaca-kaca melihat Bagas jatuh tersungkur di tanah.
Tak lama kemudian, Reno membantu Bagas untuk berdiri dan menahan serangan dari anak buah Marvin.
Kubu Bagas dan Reno kalah jumlah, sedangkan Theo dan Benjamin masih dalam perjalanan.
Melihat situasi itu, Moetia merasa sangat cemas. Dia berusaha dengan kuat memberontak dan berusaha lepas dari Marvin.
Bagas yang melihat Moetia di perlakukan seperti sangat emosi, dia berusaha keras menembus pertahanan semua anak buah Marvin.
Meski sesekali wajah dan anggota tubuhnya yang lain harus terkena pukulan dan tendangan dari anak buah Marvin.
Moetia merasa hati dan tubuhnya ikut sakit saat melihat Bagas terluka.
"Marvin aku mohon, lepaskan aku!" pinta Moetia dan air matanya sudah mengalir.
"Tidak akan pernah!" sahut Marvin tegas.
Moetia tidak kehilangan akal, dia berhenti memberontak, Marvin pun mulai melonggarkan genggamannya. Saat Moetia merasa Marvin sudah mulai lengah, dengan cepat dan kencang Moetia mendorong Marvin dan berlari ke arah Bagas.
"Berhenti Moetia!" teriak Marvin.
Moetia tidak mendengarkan Marvin, dia terus berlari menuju ke arah Bagas.
Marvin sangat emosi dia mengeluarkan sebuah pistol dari kantong jasnya.
"Berhenti, atau ku tembak dia!" teriak Marvin.
Semua yang ada disitu terdiam, mendengar teriakan Marvin.
Moetia berbalik dan melihat ke arah Marvin, matanya membulat sempurna ketika dia melihat Marvin sedang mengarahkan senjata apinya pada Bagas.
Moetia menggelengkan kepalanya berkali-kali,
"Tidak!" seru Moetia
Ketika Moetia melihat Marvin menarik pelatuk senjatanya, dia dengan cepat berlari memeluk Bagas dan berada di depan Bagas untuk melindunginya.
Tapi...
Dorrr!
Suara tembakan terdengar sangat keras, semua mata tertuju pada tangan Marvin yang masih memegang senjata yang juga masih mengeluarkan asap.
Brugh!
"Kak Reno!" teriak Moetia lalu melepaskan pelukannya dari Bagas dan segera berlari mendekati Reno yang tertembak di dadanya sebelah kiri.
Moetia segera mengangkat Reno dan menekan dadanya yang terus mengeluarkan darah.
"Kak Reno!" lirih Moetia sambil terisak.
Bersamaan dengan itu Theo dan Benjamin datang membawa polisi.
Marvin yang tadinya ingin menghampiri Moetia lagi, di tarik oleh Syarif agar segera pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
"Tuan, ayo cepat!" seru Syarif.
Marvin masih melihat Moetia yang menangis disisi Reno. Tapi Syarif terus menariknya agar segera pergi.
Bagas juga membantu Reno,
"Reno, dengarkan! jangan tutup matamu! kamu akan baik-baik saja!" ucap Bagas sambil mengangkat Reno.
Theo dan Benjamin sangat terkejut, tapi kemudian mereka segera membantu Bagas membawa Reno ke ruang gawat darurat.
Benjamin segera memanggil dokter, Moetia yang gemetar hanya mampu mengikuti langkah kaki Bagas yang membawa Reno ke ruang operasi.
Dokter pun berdatangan dan menyiapkan operasi untuk Reno.
Dokter meminta agar mereka semua keluar, Moetia masih gemetar, tangannya penuh darah Reno.
Bagas membawa Moetia keluar dan memeluknya,
"Sayang, sekarang kamu sudah aman!" ucap Bagas menenangkan Moetia.
Moetia masih melihat ke dua telapak tangan nya yang berlumuran darah Reno.
"Dia tertembak karena ingin melindungi kita, Reno..."
Bagas meletakkan jari telunjuknya di bibir Moetia
"Tenanglah, dia akan baik-baik saja! Reno sangat kuat. Percayalah, dia pasti baik-baik saja!" ucap Bagas lembut menenangkan Moetia yang masih terus merasa bersalah dan syock.
"Ikut aku, kita bersihkan dulu tangan mu!" seru Bagas menggandeng Moetia menuju ke toilet untuk membersihkan tangannya.
Setelah Moetia membersihkan dirinya, Bagas mengajak Moetia duduk di ruang tunggu di depan ruang operasi.
Sementara tidak jauh dari mereka, Theo sedang mengurus segalanya.
"Bagaimana? apa Marvin sudah di tangkap?" tanya Theo pada Benjamin.
"Belum, polisi belum menemukan mereka! tapi polisi dan anak buah ku sedang mencari mereka!" jawab Benjamin.
"Apa om Chairul sudah tahu tentang semua ini?" tanya Theo lagi.
Benjamin mengangguk,
"Sudah, tapi dia tidak bisa kemari karena kondisi kesehatan nyonya! peristiwa ini sudah tercium oleh media, besok pagi Tuan Eduardo V. Payage akan mengadakan konferensi pers untuk mengklarifikasi semua ini. Bagaimana pun juga berita ini akan mempengaruhi saham mereka!" jelas Benjamin.
"Sungguh ironis, orang sehebat dan sebaik Eduardo Vargas harus punya anak biang rusuh seperti Marvin!" sahut Theo.
Setelah menunggu selama tiga jam, akhirnya lampu yang berada di atas pintu ruang Opera padam.
Seorang dokter keluar dan menghampiri Bagas yang tengah berdiri di depan pintu.
Melihat dokter itu keluar, Moetia juga segera berdiri dan menghampiri nya.
"Bagaimana Reno dok?" tanya Bagas dengan cepat.
Dokter itu terlihat mengulurkan tangannya ke depan Bagas dan menyerahkan sebuah kalung pada Bagas.
"Untung saja ada kalung ini di saku kemeja sebelah kiri nya. Karena terhalang kalung ini, tembakannya meleset satu centimeter dari jantung pasien!" jelas dokter itu.
Bagas menggenggam kalung itu dengan erat, Moetia terlihat menghela nafas nya lega!
__ADS_1
"Lalu bagaimana keadaannya sekarang dokter?' tanya Moetia masih cemas.
"Tidak terlalu baik, meskipun tidak mengenai jantung. Tapi darah yang dikeluarkan cukup banyak, dan akibat dari tembakan itu mengejutkan seluruh organ dalamnya. Kita harus mengobservasi nya terlebih dulu, jika dalam lima jam, dia belum sadar. Kemungkinan dia akan mengalami koma!" jelas dokter itu.
Moetia kembali lemas, dia terhuyung ke belakang. Tapi untung saja dengan cepat Bagas meraih nya dan memeluknya.
"Tolong lakukan tindakan terbaik untuk Reno dok!" seru Bagas.
dokter itu menganggukkan kepalanya lalu menepuk bahu Bagas pelan.
"Itu adalah tugas kami, bersabarlah dan terus berdoa untuknya. Bukankah Tuhan juga sudah menyelamatkan nya, jika tidak kalung itu tidak akan ada di sakunya! berdoa lah!" seru dokter itu sebelum pergi.
"Apa kita boleh masuk ke dalam?" tanya Moetia pada Bagas.
Bagas membelai lembut wajah Moetia yang terlihat pucat,
"Kita belum boleh masuk, kamu terlihat sangat lelah. Kita duduk dulu ya!" jawab Bagas lalu menuntun Moetia agar duduk di kursi tunggu.
Moetia menuruti Bagas. Bagas menggenggam erat tangan Moetia, dia melihat pergelangan tangan Moetia sedikit membiru.
Bagas menyentuh area itu dengan lembut.
"Apa dia memperlakukan mu dengan buruk?" tanya Bagas dengan suara serak menahan kesal.
Moetia tidak menjawabnya, dia hanya menyandarkan dirinya ke dada Bagas.
"Maafkan aku Moetia, aku pikir dengan membawa mu kemari, aku akan bisa membuat mu terus berada disisi ku. Aku tidak tahu jika aku justru mencelakai mu!" sesal Bagas.
Moetia memeluk Bagas.
"Kamu tidak perlu minta maaf, seharusnya aku mendengarkan mu dan tidak keluar dari kamar! maafkan aku!" ucap Moetia kembali menangis.
Bagas hanya mampu menghela nafas nya lega dan memeluk Moetia.
Pagi harinya, Chairul masih bingung harus mengabari Aries tentang masalah ini atau tidak.
Tapi bagaimana pun juga, Aries berhak tahu tentang kesulitan yang dialami oleh putrinya.
Chairul pun menghubungi Aries dan meminta bertemu dengannya.
"Ada urusan apa?" tanya Aries di ujung telepon.
"Anak-anak kita sedang mengalami masalah, aku akan ke kantor mu pagi ini!" seru Chairul.
"Apa yang terjadi?" tanya Aries.
Chairul menghirup nafas dalam,
"Sesuatu terjadi pada mereka, tapi tidak bisa kukatakan lewat telepon!" jawab Chairul.
"Baiklah!" jawab Aries dengan cepat.
Chairul menyimpan kembali ponselnya, dan berbalik.
"Apa yang terjadi pada anak-anak?" tanya Belinda dengan ekspresi cemas.
...πππππππππππππ...
...Tinggalkan Like dan Komentar ya π₯Ίπ₯Ίπ₯Ί...
__ADS_1
...Terimakasih πππ...