
Tak nyaman dalam dada, dan seketika
kesal hati ini,sesampainya dirumah ku serahkan anakku dari gendonganku pada suamiku, ku buka pintu dan masuk kerumah bersama, setelahnya suamiku melatakkan Faira di kasur kami.
Aku lelah hati, sepertinya apapun yang kulakukan tak ada artinya, ku ganti baju dan mencuci tangan, menggosok gigi dan mencuci muka untuk menyegarkan diri dan ku ambil air wudhu.
Aku segera sholat isya, selesai sholat, kulihat dikamar, Faira sudah tidur dan aku juga terasa sudah mengantuk.
Aku naik keatas kasur, ku selonjorkan kaki dan mulai memejamkan mata ini, tak sampai 5 detik, mataku terbuka kembali, rasa kesal masih ada dalam dada ini, aku tak dihargai sebagai menantu dan saudara Ipar.
Panas rasanya hati ini masih terasa, tega nian padaku, semoga aku bisa tabah menghadapinya.
**
Paginya aku bangun,setelah sholat subuh aku bergegas ke rumah Ibu mertua, tujuan ku agar anakku tidak terlambat ke sekolah, pun aku, agar selesai membantu tidak kesiangan aku pulang ke rumah.
Ku ketuk pintu dapur, terrnyata tak dikunci? Kemudian ku buka, bisa jadi pagi mertua sudah bangun dan pintu dapur memang di buka, kulihat tumpukan cucian piring masih tak tersentuh.
__ADS_1
Kemudian aku ambil sabun pencuci piring dan mencuci piring itu, setengah cucian piring sudah ku sabun, Ibu mertua ada di belakangku dia melihat dan berbicara tidak jelas, aku diam saja sambil mencuci.
Aku susun piring yang sudah di cuci, setelahnya aku melihat Ibu mertua menyapu sambil bergumam tak jelas, tak ku hiraukan, kemudian aku memutuskan untuk pulang kerumah,ketika aku mau melangkah.
"Ambil lah nasi dan lauk" ucap Ibu mertua
"Ya" sahutku.
Aku tak mengambil apapun, malas dan malu rasanya mengambil makanan pemilik rumah meskipun beliau mertua ku sendiri, aku tak akan melakukan itu, kecuali sudah diambilkan dan di serahkan padaku.
Sampai dirumah aku segera mandi dan membuat sarapan.
Aku kaget saat akan memasukkan gula ke dalam gelas.
" Gak mas, gak usah" sahut ku
"lho.., memangnya kenapa, kan di rumahh Ibu" ucapnya lagi.
__ADS_1
"gak mas, malas"sahut ku
Suamiku diam saja, dia pasti sudah tau, Desi lah yang membuat ku kesal, ya memang dia tau bahkan lebih dari tau, hanya saja seperti tidak mau tau, hal ini di anggap remeh temeh baginya.
"Aku adik bilang gak bantu- bantu di rumah Ibu! Aku kesal Mas!" aku berkata sedikit keras.
"Tidak usah di ambil hati, Desi memamg seperti itu" ucapnya.
" Jahat sekali dia Mas, aku kesal padanya" ucapku lagi.
" Iya, diakan pikirannya masih kayak anak-anak" ucapnya.
"Hah..! Anak-anak Mas, anaknya lo sudah 3". Sambil ku picingkan mata ini melihat suamiku.
Akupun tersenyum masam dan berlalu , diam adalah caraku agar tak banyak perdebatan, kalau aku memulai, pasti aku akan di salahkan, dan akan di rendahakan, aku dimata suamiku salah dan salah, aku harus mengalah.
Itu pun berlaku untuk mertua ku, aku selalu kurang dan kurang, tak ada kebaikan dari diri ini, aku sudah paham dan mengerti bagaimana aku di posisikan.
__ADS_1
Mungkin aku bukan yang mereka inginkan, seberapapun aku berbuat baik, tak akan pernah ada perbuatan baik itu, tak akan pernah ada yang namanya aku membantu, menolong dan hal apapun,bagi mereka aku tak pernah melakukan apapun.