
Manda melempar gaun yang tadinya dia pegang ke atas kasur.
Manda tidak merespon ucapan Malika untuk menyerah mengejar Bagas.
Manda hanya menunjukkan ekspresi tidak suka, lalu bergegas berjalan menuju ke kamar mandi dan membanting pintu kamar mandi dengan keras.
Brakk!
Sementara Malika hanya bisa menundukkan kepalanya dan menyesali cara nya membesarkan Manda.
Malika menyesal karena membiarkan Manda terus-menerus bergantung pada keluarga Mahendra. Hingga dia tumbuh menjadi anak manja.
Sedari kecil apapun yang Manda inginkan, jika Malika dan Ahmad tidak mampu memberikannya. Manda selalu merengek pada Aries dan Soraya.
Dan Aries juga Soraya selalu menuruti semua keinginan Manda.
Malika begitu sedih melihat sifat dan sikap keras kepala Manda.
Sekitar pukul tujuh malam, Manda berpamitan kepada ibunya juga Soraya.
Soraya meminta supir pribadi nya mengantarkan Manda ke rumah Bagas.
"Maafkan kami yang selalu merepotkan mu, Soraya!" kata Malika sedih.
"Ada apa?" tanya Soraya.
"Aku hanya merasa Manda tidak cocok dengan Bagas, sebenarnya bukan masalah materi. Tapi dari yang aku lihat selama ini, Bagas tidak merespon Manda, sama sekali tidak memperdulikan nya!" lirih Malika.
Soraya mengelus punggung Malika untuk menenangkannya.
"Aku sebenarnya tidak ingin ikut campur terlalu jauh, tapi kamu benar Malika. Manda tidak akan mungkin bisa bahagia jika memaksakan ingin terus bersama orang yang jelas-jelas tidak menyukai nya!" tambah Soraya.
"Lalu aku harus bagaimana Soraya?" tanya Malika.
"Bersabarlah! kita pasti akan menemukan cara membuat Manda menyadari situasi yang sedang dia hadapi." jelas Soraya.
Di dalam kamarnya, Moetia sedang sibuk dengan laptopnya, dia sedang mencari di internet. Bagaimana cara menjadi sekertaris yang baik.
Moetia mencatat beberapa poin penting di dalam handphone nya.
"Aih, ternyata lebih sulit dari pekerjaan ku sebelumnya, seperti nya aku harus minta gaji yang besar untuk semua pekerjaan ini!" gumam Moetia.
Sesaat setelah dia menutup laptop nya, dia mendengar jendela kamarnya seperti terbuka.
Moetia segera menoleh ke arah jendela, dan benar saja jendelanya terbuka.
Moetia mendekati jendela, dan betapa terkejut Moetia, ketika melihat seseorang segera meloncat masuk ke dalam kamarnya.
Moetia mundur menjauh dari orang itu, dia ingin berteriak, tapi kemudian dia ingat ucapan Bagas di telepon siang tadi.
Dan akhirnya Moetia mengurungkan niatnya untuk berteriak.
Tapi sosok itu memakai penutup wajah, dan pakaian serba hitam.
Semakin dilihat, sepertinya Moetia merasa orang itu bukan Bagas.
Orang itu agak lebih pendek dari Bagas, mungkin tingginya sekitar 175 cm. Sedangkan Bagas 180 cm.
Moetia mulai panik, dia segera berlari menuju pintu kamarnya berniat kabur.
Tapi dengan cepat orang itu menangkap tangan Moetia dan menariknya hingga Moetia menabrak dada orang itu.
Moetia juga mencium aroma yang berbeda,
'Orang ini bukan Bagas, apa yang harus ku lakukan?' batin Moetia
Saat Moetia akan berteriak, orang itu menutup mulut Moetia dengan tangan nya.
"Berteriak lah, maka aku bisa lebih nekat dari ini!" bisik orang itu di telinga Moetia.
Moetia membulatkan matanya, dia mengenali suara itu.
__ADS_1
Moetia menggeleng kan kepalanya, mengerti maksud orang itu. Orang itu melepaskan Moetia, dan Moetia segera menjauh darinya.
"Marvin!" ucap Moetia pelan.
Marvin pun membuka penutup wajah yang dia pakai dan melemparkannya ke lantai.
Dia tersenyum menyeringai, sungguh membuat siapapun yang melihatnya merinding.
"Aku senang, kamu masih mengingatku Moetia!" seru nya lalu duduk dengan santainya di tepi kasur Moetia.
Marvin melihat sekeliling kamar Moetia, dan Moetia masih berdiri mematung di tempatnya tadi.
Moetia tak percaya orang yang telah menembak Reno sekarang sedang ada di hadapan nya, di dalam kamarnya.
Bukankah Benjamin bilang dia di penjara.
"Kamu kabur dari penjara?" tanya Moetia gugup.
"Tidak, mereka membebaskan ku!" jawab Marvin enteng.
Marvin menatap Moetia yang melihatnya dengan tatapan kesal.
"Kamu terlihat marah Moetia?" tanya Marvin santai.
"Apa tidak ada pelukan, kita sudah beberapa hari tidak bertemu bukan?" tanya nya lagi.
Moetia mendekati Marvin, tadinya Marvin mengira Moetia akan memeluknya tapi ternyata,
Plakkk!
Moetia menampar dengan sangat keras wajah Marvin.
"Hei.." pekik Marvin sambil berdiri.
Sekilas amarah menyeruak di diri Marvin, tapi setelah melihat wajah Moetia yang dipenuhi amarah, Marvin menahan emosinya.
"Itu pantas kamu dapatkan, bahkan harusnya lebih dari itu! kamu sudah menembak kakak ku. Aku tidak akan memaafkan mu!" seru Moetia dengan mata yang sudah memerah.
"Jadi dia kakak mu? tapi bukankah kamu anak tunggal?" tanya Marvin mendekati Moetia.
Moetia mundur selangkah saat Marvin maju selangkah.
"Menjauh lah dariku!" seru Moetia.
Marvin tidak menghiraukan peringatan dari Moetia, dia malah makin mendekat dan menyentuh wajah Moetia.
Moetia segera menepis tangan Marvin.
"Jangan kurang ajar ya!" seru Moetia dengan nada yang meninggi.
Marvin meletakkan jari telunjuknya di bibir Moetia.
"Pelan kan suaramu, aku tidak akan macam-macam padamu. Aku hanya sangat merindukan mu dan hanya sekedar mengunjungimu saja, Moetia!" seru Marvin.
Moetia menepis jari telunjuknya Marvin itu.
"Pergi!" seru Moetia kesal.
"Kamu makin galak ya Moetia, aku makin menyukai mu!" seru Marvin sombong.
Moetia bergidik ngeri mendengar ucapan Marvin.
Moetia memalingkan wajahnya ke arah lain.
Marvin malah kembali duduk. Dan kali ini dia duduk di sofa.
"Aku akan pergi, tapi setelah kamu mengobati rasa perih akibat tamparan mu ini!" seru Marvin.
"Jangan harap!" jawab Moetia dengan cepat.
"Jadi, tidak mau?" tanya Marvin.
__ADS_1
"Tidak akan pernah!" balas Moetia cepat.
"Reno, dia yang kamu anggap sebagai kak itu masih berada di rumah sakit kan? bagaimana jika ada seorang perawat gadungan yang menyuntikkan sesuatu yang bisa membuatnya bertambah sakit? apa itu yang kamu mau?atau.." gertak Marvin.
"Cukup!" sela Moetia.
"Aku obati, jangan ganggu kak Reno!" serunya lagi.
Marvin pun tersenyum penuh kemenangan.
Moetia bertambah kesal.
Meskipun di rumah sakit banyak yang menjaga Reno, tapi jika orang itu menyamar menjadi perawat gadungan, maka Reno pasti tidak bisa lolos.
Moetia menyerah, dia berjalan menuju ke arah meja riasnya dan mengambil satu tube gel lidah buaya.
Perlahan dia mendekat ke arah Marvin dan mengulurkan gel itu pada Marvin.
"Pakai ini, panas dan lebamnya akan berkurang!" seru Moetia.
Marvin malah berdecak kesal,
"Sepertinya hanya gertakan saja belum cukup membuatmu mengerti ya Moetia!" ucap Marvin.
Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Moetia tahu Marvin kesal dan sedang menunjukkan seberapa serius dia dengan ancamannya.
Sebelum Marvin bicara dengan orang itu, Moetia duduk di depan Marvin.
"Aku oleskan!" ucap Moetia dengan cepat.
Marvin menyimpan ponselnya kembali.
Moetia membuka tutup tube gel lidah buaya itu lalu menuangkannya sedikit di ujung jari telunjuk kanannya dan mengoleskannya perlahan ke pipi Marvin yang memerah akibat tamparan yang keras darinya.
Marvin tersenyum karena merasa senang Moetia menyentuh wajahnya meskipun itu karena tamparan.
Marvin kembali membuat Moetia kesal karena dengan sengaja menggigit telunjuk Moetia yang tadi mengoleskan gel di pipinya.
"Apa kamu an****? kenapa menggigit jariku?" pekik Moetia menarik tangannya.
Moetia mengibaskan jari telunjuknya yang terasa perih akibat perbuatan Marvin.
Marvin malah terkekeh pelan.
"Kamu makin berani Moetia, belum ada yang bicara begitu kasar padaku. Tapi tidak apa, karena kamu istimewa kamu adalah pengecualian, itu adalah tanda yang aku berikan padamu." seru Marvin.
Moetia memicingkan mata nya melihat Marvin sekilas.
"Jika sudah hilang, akan ku berikan lagi!" seru Marvin.
Moetia sudah tahan lagi, dia mendorong Marvin.
"Pergi!" teriak Moetia.
Karena teriakan Moetia, Soraya datang dan mengetuk pintu.
Tok! tok! tok!
"Sayang, ada apa? buka pintunya Moetia!" terdengar teriakan Soraya dari luar.
Marvin malah tersenyum melihat Moetia sangat marah.
"Wanita pintar, sampai jumpa lagi Moetia!" seru Marvin lalu mengambil penutup wajahnya dan melompat keluar jendela.
...❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
...Terimakasih ❤️❤️❤️...
__ADS_1