Dilema

Dilema
Keluh Kesah Malika


__ADS_3

Moetia kembali menghubungi Bagas. Dia menjauh dari Soraya dan Malika.


Moetia keluar dan menghubungi Bagas di teras rumahnya.


"Halo Bagas," ucap Moetia cepat.


"Menurut mu apakah Marvin yang menculik Manda?" tanya Moetia.


"Moetia, apa maksud mu? untuk apa Marvin menculik Manda?" tanya Bagas balik.


"Entahlah, tapi itulah yang aku pikirkan! bagaimana jika itu benar?" tanya Moetia.


"Baiklah, aku akan bicarakan ini dengan Benjamin dan ayah, segala kemungkinan memang bisa terjadi. Tapi Moetia, aku minta kamu jangan pernah bertindak sendiri ya, ingat aku akan selalu ada untukmu!" seru Bagas.


Moetia tersenyum.


"Aku tahu!" sahut Moetia.


"Moetia!" panggil Aries yang baru pulang ke rumah.


Moetia menoleh dan segera mematikan panggilan ponselnya.


"Papa!" sahutnya lalu menyalami papanya.


"Apa sudah ada kabar tentang Manda?" tanya Moetia pada Aries.


Aries merangkul Moetia dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.


"Belum ada, tapi supir taksi itu mengatakan bahwa dia sudah mengantarkannya sampai di studio ke tempat yang memang akan di tuju oleh Manda, kemungkinan besar Manda di culik setelah tiba di studio!" jelas Aries.


"Dan apa yang kamu lakukan di luar tadi sendirian?" tanya Aries.


"Aku sedang menelpon pa! seseorang yang mungkin bisa membantu kita mencari Manda!" jawab Moetia.


Aries mengusap kepala Moetia lembut.


"Jangan cemas nak, kita pasti akan menemukannya." ucap Aries dengan tenang.


Mereka berdua lalu pergi ke ruang tengah tempat dimana Soraya dan Malika berada.


Aries sudah menjelaskan semua yang terjadi pada mereka.


Aries juga sudah meminta tolong pada temannya yang pengacara dan polisi untuk menyelidiki rekaman CCTV di luar studio.


"Jadi berapa lama kita akan tahu tentang rekaman itu?" tanya Soraya.

__ADS_1


"Tenanglah, mereka sedang kesana. Mungkin beberapa jam lagi!" jawab Aries masih sangat tenang.


Malika masih terus menangis, mereka juga telah memberitahukan kabar ini pada Ahmad. Tapi Aries meminta Ahmad agar jangan cemas karena Aries akan berusaha semaksimal mungkin menemukan Manda.


Soraya juga terus berusaha menguatkan Malika. Mereka bahkan sudah melewatkan waktu makan malam.


Malam semakin larut, Soraya masih terus menemani Malika di kamarnya. Dan Aries juga masih terus berkomunikasi dengan teman-temannya yang ikut mencari keberadaan Manda.


Keesokan harinya, Moetia pergi ke kamar Malika untuk melihat keadaan tantenya itu.


"Pagi ma, Tante!" sapa Moetia mendekati Soraya yang sedang memakaikan selimut pada Malika.


"Ma, Tante Malika..."


"Tante mu sedang tidak enak badan, Mama sudah panggil dokter. Sayang tolong jaga Tante mu dulu ya. Mama harus menyiapkan sarapan untuk papa!" kata Soraya.


"Baik ma!" jawab Moetia cepat.


Moetia duduk di tepi tempat tidur dan memijat tangan Malika.


"Tidak usah sayang, maafkan Tante selalu merepotkan kamu dan mama papa mu!" ucap Malika sedih.


"Tidak apa-apa Tante, kita kan keluarga. Tante jangan cemas papa dan Bagas sedang berusaha mencari keberadaan Manda!" seru Moetia.


"Bagas?" tanya Malika tak percaya.


Moetia menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Iya, aku sudah memberitahu nya tentang Manda yang menghilang dan kemungkinan di culik. Dia bilang bersedia membantu kita, Tante!" jelas Moetia.


Malika mengulas senyum tipis di bibirnya.


"Kamu sungguh baik Moetia, Tante tidak bermaksud membandingkan mu dengan Manda, tapi jika saja manda tidak manja dan keras kepala, mungkin saja Bagas juga bisa berteman dengan nya seperti Bagas bisa menjadi teman mu, iya kan Moetia?" tanya Malika.


Moetia terbengong lalu tersenyum kikuk pada Malika.


"Tante sudah berkali-kali mengingatkan Manda bahwa cinta tidak bisa di paksakan, tapi dia tetap keras kepala ingin menjadi nyonya Bagas. Tante tidak bisa membayangkan hidupnya nanti jika menikah dengan orang yang sama sekali tidak memperdulikannya. Manda bahkan tidak perduli tentang perasaan Bagas, bagaimana jika Bagas mencintai orang lain. Bukankah hidup mereka berdua akan menderita!" keluh Malika.


Malika menggenggam ke dua tangan Moetia.


"Kamu sudah cukup dekat dengan Bagas kan? apa kamu mengetahui sesuatu? apakah Bagas menyukai wanita lain?" tanya Malika.


Pertanyaan Malika itu membuat tenggorokan Moetia menjadi kering dan seperti tercekik.


Moetia tersenyum kikuk lagi.

__ADS_1


"Tante, kenapa Tante menanyakan itu padaku?" balas Moetia.


Malika melepaskan tangan Moetia dan melihat ke arah foto Manda yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya.


"Mereka sudah bertunangan, meskipun demikian Bagas bahkan tidak pernah mengangkat panggilan telepon dari Manda." keluh Malika.


"Tante tidak bisa membayangkan kehidupan rumah tangga mereka nanti jika memang mereka jadi menikah! Meskipun begitu, Tante juga tidak bisa menghentikan Manda. Kamu tahu sendiri kan Moetia, berapa kali dia mencelakai dirinya sendiri hanya untuk mendapatkan perhatian dari Bagas? apa yang harus Tante lakukan Moetia?" tanya Malika yang sudah mulai emosional.


Moetia mengelus lembut lengan dan bahu Malika.


"Sudah Tante, sudah ya... " ucap Moetia lembut.


Malika tak bisa lagi membendung air mata nya.


"Selama ini Tante dan Om berusaha mengajarkan kebaikan pada Manda, kami selalu mencontohkan agar setiap kita melakukan kebaikan jangan pernah mengharapkan apalagi meminta balasan. Tapi ternyata semua itu tidak bisa dipahami oleh Manda." ucap Malika di sela Isak tangisnya.


"Tante, sudah. Manda saat ini masih muda. Saat dia sudah dewasa nanti dia akan mengerti!" sela Moetia.


"Kalian seumuran Moetia, kalian bahkan sudah berusia dua puluh lima tahun, kalian sudah dewasa. Tante takut, jika orang-orang sudah mulai kesal pada Manda, mereka akan meninggalkan Manda!" keluh Malika lagi.


Moetia hanya bisa diam sambil mengelus punggung tangan Malika yang sedang menceritakan keluh kesahnya tentang putri sulungnya itu.


Moetia bukannya tidak mengerti apa maksud Malika, tapi dia tidak ingin ikut campur dalam urusan keluarga mereka terlalu dalam. Meskipun sudah di anggap keluarga masalah intern tetap saja dia tidak ingin mencampurkan nya.


Tak lama kemudian dokter datang dan memeriksa Malika. Setelah memberinya sarapan dan obat. Malika pun istirahat.


Sesaat setelah Soraya dan Moetia keluar dari kamar Malika. Ponsel Moetia berbunyi, ada pesan masuk.


*Datang ke daerah pergudangan xxx satu jam dari sekarang, kami mengawasi mu! jangan beritahukan isi pesan ini pada orang lain dan letakkan ponselmu di jendela yang ada di depan mu! jika tidak sahabat mu akan kehilangan masa depan nya!*


Begitulah isi pesan dari nomer tak di kenal itu. Moetia melihat ke sekeliling.


'Dia bahkan mengawasi ku! apa yang harus aku lakukan?' batin Moetia cemas.


Moetia hanya diam sambil berfikir, dia ingin mengirim pesan itu pada Bagas. Tapi tiba-tiba ada pesan masuk lagi.


*Jangan macam-macam, tinggalkan ponsel itu di jendela di depan mu, sekarang! atau kamu tidak akan pernah bertemu sahabat mu!*


Moetia dengan cepat meletakkan ponselnya ke depan jendela. Dia bergegas keluar dari rumah.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like Komentar dan Vote serta Favoritnya ya ❤️❤️❤️...


...Terimakasih ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2