
Diana sampai di tempat balapan ketika semua orang sedang bersorak karena kemenangan Gio.
Dari kesal Diana berubah menjadi senang, karena melihat Gio baik-baik saja.
"Dasar anak nakal!" kesal Diana.
Djarot dan teman-teman nya juga sudah tiba disana.
Djarot mendekati Diana bersama ke lima teman yang dia bawa dalam satu mobil.
"Aya' naon teh?" tanya Djarot pada Diana.
Diana menunjuk ke arah Dion,
"Lihat adik kecil kalian itu, sepertinya dia akan dalam masalah!" sahut Diana ketika melihat seorang gadis menghampiri Gio.
Setelah gadis itu menghampiri Gio, seorang pria dan beberapa temannya ikut mendekat pada Gio.
Diana bergegas menghampiri Gio, dan benar saja saat Gio menjelaskan sesuatu, pemuda itu sudah mengambil ancang-ancang dan akan memukul Gio.
Diana sangat kesal, sebelum kepalan tangan pemuda itu sampai di wajah mulus Gio yang seperti boy band Korea itu. Diana lebih dulu melayangkan bogem mentah pada si pemuda yang bernama Komar itu.
Bugh!
Komar pun tumbang, dengan lecet di sudut bibirnya yang mengeluarkan sedikit darah.
Komar bangkit dan memaki Diana,
"Sial, siapa lo?" tanya Komar.
Teman-teman Komar juga sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul Diana dan Gio, tapi anak buah Diana juga memasang badan mereka melindungi Diana dan Gio.
"Kak Diana!" seru Gio terkejut lalu turun dari motor yang tadi dia pakai balapan.
Diana menarik telinga Gio mendekat padanya,
"Dasar anak nakal, kamu pikir kamu Moreno Soeprapto, hah!" tanya Diana kesal.
Djarot yang berada di depan Diana menoleh dan membenarkan ucapan Diana,
"Teh, Moreno Soeprapto eta mah pembalap mobil, bukan motor!" ucap Djarot.
Diana berdecak kesal,
"Sudah diam, Djarot urus anak-anak itu, berani-beraninya mereka akan memukul adik kecil kita!" seru Diana.
Djarot mengangguk,
"Siap teh!" sahut Djarot sambil mengacungkan jempolnya.
Diana pun mengajak Gio masuk ke dalam mobilnya, sementara Djarot dan yang lain memberi pelajaran pada Komar dan teman-temannya.
Setelah babak belur dipukuli Djarot dan teman-teman nya, Komar dan yang lain pun memohon maaf dan memohon ampun!.
__ADS_1
"Ampun kang, kami teh janji gak akan ganggu budak eta deui!" teriak salah seorang teman Komar.
"Dasar kalian, mau-mau nya di bohongi sama awewe macam gini!" seru Djarot memandang tak suka pada si Euis.
Djarot pun meninggalkan Komar dan teman-temannya yang sudah babak belur, dan menghampiri Diana di mobilnya.
"Beres teh!" seru Djarot.
"Bagus, sekarang kalian bisa pergi. Nanti aku transfer bayaran kalian seperti biasanya!" ucap Diana lalu melajukan mobilnya dan meninggalkan rombongan Djarot.
Djarot and the geng, adalah pengawal sewaan yang biasa Diana sewa untuk mengawal Gio jika ada pertunjukan besar atau pertunjukan di luar kota. Juga untuk hal-hal semacam tadi.
Di dalam mobil Diana masih diam karena kesal pada Gio,
"Kak, maaf ya. Tapi mereka duluan yang menantang ku!" ucap Gio menjelaskan pada Diana.
"Coba bayangkan jika tadi aku datang terlambat lima menit saja, pasti wajahmu yang semulus Lee dong Wook itu akan berubah seperti wajah zombie!" kesal Diana.
"Tapi kan kakak datang tepat waktu!" sahut Gio sambil tersenyum.
Diana memukul lengan Gio dengan kotak tissue yang ada di dashboard mobil Diana,
Plakk!
"Sakit kak!" pekik Gio.
"Lihat kan! baru terkena kotak tissue saja, kamu sudah merengek seperti perempuan begitu, bagaimana kalau terkena bogem mentah dan tendangan dari mereka. Aku yakin kamu pasti akan meraung-raung!" ejek Diana.
Gio terdiam,
"Sudahlah, lupakan saja. Untung saja pelayan restoran itu mengenalmu! jika tidak aku tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi padamu!" ucap Diana lagi.
"Siapa kak?" tanya Gio.
"Itu, pelayan restoran di bawah apartemen mu! orang nya imut dan manis, dia juga ramah. Sepertinya dia menyukai mu!" ejek Diana lagi.
Gio berdecak kesal,
"Aku tidak mengenalnya, mungkin salah satu fans ku!" sahut Gio.
"Ingat yang kukatakan, lain kali jika keluar sendirian pakailah masker dan kacamata. Kamu ini bandel sekali sih!" kesal Diana.
Gio malah tersenyum diceramahi oleh Diana. Gio sangat suka melihat saat Diana mengomel, dia sudah menganggap Diana itu seperti ibu, kakak, dan sahabatnya.
"Aku rasa otak mu sudah error karena balapan tadi, aku sedang mengomel Gio, bukan memuji mu. Kenapa tersenyum seperti itu?" tanya Diana kesal.
"Omelan mu terdengar seperti pujian di telinga ku kak!" sahut Gio.
Diana bergidik,
"Astaga, aku harus segera membawamu pulang dan memberimu obat!" balas Diana.
Sementara itu di rumah Moetia, para asisten rumah tangga Moetia sedang kebingungan dan panik karena Manda tiba-tiba pingsan di dekat kolam renang, sehabis dia berenang.
__ADS_1
Para asisten rumah tangga Moetia segera membawa Manda ke sofa ruang tengah dan memanggil Soraya dan Malika yang sedang berkebun di halaman belakang.
"Nya, nyonya!" teriak bi Yati
"Kenapa bi?" tanya Soraya menoleh pada bi Yati yang berlari dan berteriak ke arahnya.
"Itu nya, nona Manda pingsan abis berenang!" jawab bi Yati.
"Manda!" seru Malika yang langsung berlari ke dalam rumah.
Soraya sampai menjatuhkan teko air yang dia pegang,
"Astaga bi, cepat telpon dokter. Cepat bi!" seru Soraya lalu bergegas mengikuti Malika masuk ke dalam.
Sampai di dalam, Malika segera mendekati Manda dan menepuk-nepuk pipi putri sulungnya itu.
"Manda, bangun nak. Kamu kenapa?" seru Malika yang sudah berderai air mata.
Soraya meraih minyak angin yang di pegang bi Irah dan mengoleskannya di kaki dan tangan Manda.
"Bagaimana bisa Manda pingsan bi?" tanya Soraya pada bi Irah.
"Itu nya, tadi non Manda berenang. Pas naik dari kolam, dia sepertinya sempoyongan. Lalu bibi menghampiri nya, untung tidak jatuh lagi ke kolam Nya!" jelas bi Irah.
"Soraya, kapan dokternya datang?" tanya Malika panik.
"Sebentar lagi Malika, sementara kita bisa oleskan minyak ini dulu. Atau lebih baik kita bawa Manda ke kamar dan ganti dulu bajunya!" seru Soraya.
Malika mengangguk paham, dia dan Soraya serta bi Irah dan bi Yati mengangkat manda ke dalam kamar.
Malika dan bi Yati membantu mengganti baju, sementara Soraya menunggu dokter di depan.
Soraya juga meminta Bu Irah membuatkan teh jahe untuk Manda.
Karena dokternya belum datang juga, Soraya mendatangi bi Irah di dapur.
"Sudah bi?" tanya Soraya.
"Sebentar lagi Nya!" jawab bi Irah.
"Apa tadi pagi Manda belum sarapan bi?" tanya Soraya.
"Sepertinya belum Nya, bahkan semalam saat nyonya meminta saya membawakan makanan ke dalam kamarnya, tadi pagi saya lihat makanan itu masih utuh Nya!" jelas bi Irah.
Soraya menghela nafas nya panjang,
"Manda, anak ini begitu keras kepala. Kenapa dia menyakiti dirinya sendiri!" gumam Soraya.
...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...
Author : Jangan lupa Like, Komentar dan Favoritnya ya teman-teman....
Yang baca : Banyak banget maunya thor!
__ADS_1
Author : He he he, kan biar author semangat jadi rajin up nya 😘😘😘
...Think u ❤️...