Dilema

Dilema
Part 40 Siapa wanita itu


__ADS_3

Sudah memasuki bulan ke tiga perkulihanku, aku sangat senang sekali, teman di kantor pun mendukungku,tak bisa memang kututupi, pada teman di kantor.


Karena dalam seminggu aku dua kali tak masuk dan merubah jadwalku , aku kuliah pagi dan selesai tengah hari untung saja jadwal bisa di atur.


Hari ini jam kuliah berakhir jam 12 siang, aku dan Anita memutuskan pergi untuk mencari makan, perut terasa lapar.Hari ini juga terasa panas dan sangat gerah.


"Makan apa kita Nad?" kata Anita


"Terserah" ucapku


"Loe ..laper nih, buruan !"ucap Anita lagi.


"Gimana kalau kita ke rumah makan padang saja" usulku


"Sip dah..!" seru Anita


"Let's go! Aku berkata penuh semangat.


Ku pakai helm dan juga masker,begitu juga dengan Anita kami pun meluncur dengan suka cita.


Mata kuliah hari ini sedikit melelahkan, kami presentasi di depan kelas, yah ada debat yang sedikit alot, maklumlah,yang kuliah rata-rata sudah lebih dewasa, katakanlah, bisa juga dikatakan tua, hehe..


Ku pesan makanan ku tawarkan pada Anita, dia bilang pesannya kayak kamu aja, diapun dengan cepat berjalan dan duduk di meja tengah ruangan.


Anita jadi orang pede sekali, tapi aku berusaha cuek saja sudah, orang kita sama- sama makan pikirku.


Setelah memesan makan ku lanjutkan memesan ayam goreng tepung untuk anakku, dan di bungkus saja.


Saat memberi kode minuman apa yang akan di pesan Anita, aku seperti melihat suamiku,dia ada di pojok ruang makan bersama seorang wanita.


ku kucek mata ini agar aku memang tak salah lihat.


Mungkin salah orang pikirku. .


Aku benarkan masker tak akan ku buka aku akan tetap mengawasi dan terus memastikan.


Setelahnya aku duduk di depan Anita.


"Say aku melihat di meja pojok kanan itu sepertu suamiku, apa aku salah lihat ya?" ucapku hati-hati.

__ADS_1


"Hah! mas iya". Kemudian Anita menoleh.


"Kamu yakin itu suami kamu?" Bertanya Anita penuh keheranan.


"Iya ". Mataku mulai basah.


"Ambil dulu fotonya dan pastikan dulu"


"Aku rasa itu benar dari gayanya aku tak akan salah" ucapku


"Wah! gawat ini"


Aku berdiri hendak melabrak rasanya, tapi tanganku di tahan anita, tenang say, jangan emosi.


"Sebentar,mana handphone mu, sini aku akan mengambil fotonya dulu".


Aku hanya diam dan menangis.


Anita mengambil handphoneku dan memfoto suamiku itu.


Tak berapa lama mereka berdiri


Segera ku rapatkan maskerku yang belum ku lepas, ku majukan sedikit kerudungku agar dia tak curiga.


ku duduk mematung tak bergerak, rasanya aku tak bernafas saat dia berjalan menuju keluar.


Dan aku lihat mereka bergandengan tangan, aku terbelalak melihatnya sementara


kerudungku tak memperlihatkan mataku, ingin berdiri, namun Anita lagi- lagi menahanku, kemudian dia memfoto kembali.


Dan keluarlah si b**** darat itu.


"b******!"umpatku kalap.


Anita terus saja menahanku, kulihat mereka menuju parkiran.


Ku usap wajah kasar dan kubuang maskerku , ingin ku mengejarnya tapi Anita menahanku.


Whaaat! Mereka menggunakan mobil dan wanita itu duduk di sampingnya.

__ADS_1


Tanganku mengepal , ingin ku hajar saja wanita itu, tapi ku urungkan, benar kata Anita aku jangan gegaba.


Aku harus punya bukti akurat dan jelas, agar suamiku yang pengecut itu tak dapat berkilah dengan bukti yang kutunjukan padanya nanti.


Memang sudah terbukti jelas tapi aku harus mengabadikannya ya dengan foto.


Mendadak rasa laparku hilang, masakan padang yang menggiurkan tak terlihat enak lagi rasanya, mood makanku ambyar.


Say sabar ya, cari bukti dulu lebih banyak "jangan bertindak tak di pikir".Ucap Anita.


Jangan seperti kakak ku dulu, bertindak tanpa di pikir proses perceraian nya berjalan sangat alot dan lambat, dua tak ada bukti sama sekali, dia tidak berpikir dan tak pintar waktu itu .


"Aku mendukung apapun keputusannmu" kata Anita .


Aku hanya menatap nanar pintu rumah makan padang ini, tak ku jawab perkataan anita.


"Yuk kita pulang , biar makanan yang tak kau makan aku bungkus saja"


Aku hanya diam seribu bahasa dengan deraian air mata.


"Nadia! Sudah ayo kita pulang"


"Lelaki seperti itu tak pantas untukmu"


"Jangan lembek"


"Biarkan saja, dia pasti akan kena karma nanti ayo kita pualng.


"Nadia ayo kita pulang kasian anakkmu menunggu dirumah"


Aku tersadar, Faira anakku, maafkan mama.


"Nadia ingat ! Kumpulkan bukti! Jangan bertindak ceroboh!"


Banyak sekali Anita berkata aku hanya diam saja.


Aku hanya mengangguk.


Kemudian pulang .

__ADS_1


__ADS_2