
Setelah mengatakan hal yang begitu mengejutkan Moetia, Bagas menutup panggilan teleponnya.
Moetia memandangi layar ponselnya,
"Tidak mungkin kan Bagas melakukan hal senekat itu?" gumam Moetia pada dirinya sendiri.
Moetia tidak ingin menduga-duga, dengan cepat dia menghubungi Bagas.
Tapi Bagas tidak mengangkat nya, Moetia terus mencoba tapi tidak membuahkan hasil.
Moetia akhirnya mengirimkan pesan pada Bagas.
Ting!
Bagas melihat ponselnya, ada sebuah pesan masuk dari Moetia.
'Sayang, aku mohon jangan nekat ya. Sampai jumpa besok pagi. Love u ❤️'
Begitulah isi pesan dari Moetia. Bagas tersenyum menyeringai,
"Ternyata begini caranya membuatmu menyatakan perasaan mu. Kamu benar-benar Moetia, di gertak dulu baru jadi penurut." gumam Bagas meletakkan ponselnya lalu pergi tidur.
Keesokan harinya, Bagas menunggu Moetia di bandara Husein Sastranegara Bandung.
Bagas terlihat tersenyum melihat Moetia datang membawa koper nya bersama Reno.
"Pagi sayang," sapa Bagas dengan nada menggoda Moetia.
Moetia melepaskan kacamata nya lalu mendekati Bagas.
"Selamat pagi, terimakasih sudah meminta Reno menjemput ku!" jawab Moetia.
"Tentu saja sayang, aku mana tega membiarkan mu mengangkat koper sendiri." seru Bagas.
Sementara Reno hanya bisa menghela nafasnya panjang. Bagaimana tidak, tadi pagi dia sudah tiba di bandara dan saat Bagas datang, Bagas malah menyuruhnya menjemput Moetia.
Bagas menoleh pada Reno yang terlihat lelah,
"Carilah sarapan dulu Reno, penerbangan kita ditunda setengah jam lagi!" seru Bagas.
Reno secepat kilat pergi dan mencari tempat makan, karena memang tadi dari tadi pagi dia belum sempat sarapan.
Moetia duduk di salah satu kursi tunggu penumpang, dan Bagas duduk di sebelahnya.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Bagas.
Moetia mengangguk,
"Berapa lama perjalanan kita sampai di Singapura?" tanya Moetia yang memang belum pernah pergi ke sana.
"Dengan pesawat yang kita tumpangi ini, mungkin nanti sore kita baru sampai. Pesawatnya akan transit dulu satu kali. Apa kamu menginginkan pesawat pribadi saja?" tanya Bagas.
Moetia dengan cepat menggelengkan kepalanya,
"Tidak, tidak perlu. Semakin ramai bukankah semakin seru!" sahut Moetia.
Bagas malah terkekeh kecil,
"Benarkah? bukan karena kamu takut harus berduaan dengan ku?" tanya Bagas.
'Sudah tahu pakai tanya!' kesal Moetia dalam hati.
__ADS_1
"Seandainya kita sudah menikah, akan lebih menyenangkan bila bisa berlibur kesana!" ucap Bagas tiba-tiba.
Moetia menoleh pada Bagas yang juga sedang menatapnya,
Deg! deg! deg!
Detak jantung Moetia begitu kencang, kata-kata Bagas barusan membuatnya tersentuh.
Moetia segera menundukkan wajahnya, dan Bagas malah tersenyum melihat tingkah Moetia. Bagas sudah tahu apa yang dipikirkan Moetia.
Setengah jam kemudian mereka bertiga naik ke pesawat yang akan membawa mereka ke Singapura.
Selama penerbangan yang dilakukan Bagas hanyalah menggangu Moetia.
"Hentikan Bagas! sebaiknya kamu istirahat. Bukankah Reno sudah bilang saat tiba nanti malam kita akan langsung mengikuti Rapat umum perusahaan!" seru Moetia mengingat kan Bagas.
"Baiklah, aku akan tidur. Kemari lah!" seru Bagas meraih Moetia dan membawanya ke dekapan Bagas.
"Bagaimana kamu tidur dengan posisi begini!" protes Moetia.
"Ini adalah posisi terbaik sayang." tegas Bagas.
Dan Moetia hanya bisa mengalah, daripada Bagas terus menganggu ya dan menggombal tidak jelas, akan lebih baik bila Bagas tidur saja.
Dan di kursi belakang nya, Reno hanya bisa lagi dan lagi menghela nafas nya panjang menyaksikan tingkah konyol sahabat sekaligus atasannya itu.
Jam tujuh lebih lima belas menit petang, mereka bertiga sampai di Internasional Changi airport Singapura.
Moetia terlihat merenggangkan otot-otot nya saat keluar dari bandara sambil menunggu mobil jemputan mereka.
"Welcome to Singapore sayang!" seru Bagas hendak merangkul Moetia tapi Moetia lebih dulu menghindar.
Melihat Reno terkekeh Bagas melotot padanya,
"Dimana kita akan menginap Ren?" tanya Bagas pada Reno.
"Di salah satu hotel di Marina Bay bos!" jawab Reno masih berusaha menahan tawanya.
Bagas hanya mengangguk paham, lima menit kemudian mobil jemputan mereka sampai. Mereka segera pergi ke hotel.
Bagas membantu Moetia membawakan kopernya, sementara koper Bagas sendiri, dia meminta Reno yang membawanya.
Bagas mengantar Moetia sampai ke depan pintu kamar hotelnya.
"Kamu ingin ikut Rapat atau tidak?" tanya Bagas.
Moetia mengerutkan keningnya,
"Maksudmu?" tanya balik Moetia.
"Jika kamu lelah, maka istirahat saja. Biar aku dan Reno yang pergi Rapat. Besok pagi aku akan mengajakmu jalan-jalan." jelas Bagas.
Moetia mulai mengerti maksud Bagas, dia berkacak pinggang di hadapan Bagas.
"Jadi sebenarnya aku disini adalah untuk menemani mu saja, sebenarnya pekerjaan ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan ku kan?" tanya Moetia sambil memicingkan matanya.
Bagas tertawa dan menarik pinggang Moetia lalu mencium mesra keningnya,
"Wanita yang sangat pintar, tugasmu disini hanya harus terus berada di dekatku!" seru Bagas lembut.
Moetia menarik dirinya menjauh, dia memanyunkan bibirnya.
__ADS_1
"Jadi kamu benar-benar sudah mengatakan tentang hubungan kita pada ayahmu ya?" keluh Moetia.
Bagas bukan memperhatikan pertanyaan Moetia, tapi matanya malah terfokus di tempat lain.
Cup!
Dengan cepat Bagas sudah menyambar bibir Moetia.
Moetia membulatkan matanya, Moetia mendorong Bagas.
"Bagas, ini di tempat umum!" protes Moetia.
"Salah siapa kamu menggoda ku!" bantah Bagas
"Siapa yang menggoda mu, aku sedang mengeluh padamu!" balas Moetia.
"Tapi bibir mu memang sangat menggoda!" seru Bagas blak-blakkan.
Blush!
Wajah Moetia kembali memerah, Moetia dengan cepat membuka pintu lalu menarik kopernya masuk dan dia masuk dengan cepat.
Ketika Moetia akan menutup pintu, Bagas menahannya dengan tangannya.
"Tunggu sayang, ingatlah untuk mengunci pintu kamar mu. Jangan buat aku cemas selama Rapat!" tegas Bagas.
Moetia memutar bola matanya,
"Bagas, ini hotel bukan hutan. Tidak akan ada binatang buas yang akan menerkam ku!" sanggah Moetia.
"Kamu belum tahu ya, ada yang lebih buas dari penghuni hutan itu!" seru Bagas.
"Iya, kamu!" seru Moetia lalu segera menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Bagas yang kesal belum sempat melampiaskan nya karena Moetia lebih dulu mengunci pintu.
"Sayang, awas kalau kamu keluar nanti!" seru Bagas.
Tidak terdengar jawaban dari dalam, Bagas hanya bisa berdecak kesal.
Reno yang sudah berganti pakaian dengan rapi keluar dari kamarnya yang berada di depan kamar Bagas.
Reno terkejut melihat Bagas belum ganti baju dan masih berada di depan pintu kamar Moetia pun menegurnya,
"Bos, Rapat nya setengah jam lagi. Bos belum ganti baju?" tanya Reno mengingatkan Bagas.
Bagas menepuk bahu Reno,
"Aku perlu mandi dulu Ren, undur rapatnya satu jam lagi!" perintah Bagas.
"Tapi bos, mana mungkin. Semua orang sudah menerima undangannya pukul sembilan malam tepat. Tidak mungkin mengundur nya lagi bos. Lagipula kalau Om Chairul tahu semua terjadi karena bos sibuk mengganggu Moetia, om Chairul pasti akan mengirimkan orang menjemput bos lagi!" jelas Reno.
Bagas lagi-lagi berdecak kesal,
"Kamu benar Ren, ayo bantu aku ganti baju!" seru Bagas menarik tangan Reno masuk ke dalam kamarnya.
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
...Terimakasih ❤️❤️❤️...
__ADS_1