
Aku mengganti baju anakku, dia masih memakai baju sekolah baru saja ku jemput dari rumah Ibu, hati ini terasa panas dan apa maksudnya mengatakan itu Ibu mertua.
*
Ku gandeng Faira menuju rumahku, saat dia berjalan bersamaku dia terlihat lain dari biasanya, aku pun bertanya.
"sayang kenapa?" ucap ku pada anakku.
Anakku diam saja.
Ku hentikan langkah, kulihat anakku dan aku berjongkok di hadapannya, setelahnya aku bertanya kembali.
"Ada apa" ku ulangi lagi pertanyaan ku.
" kenapa sayang" ku usap pipinya sambil menatapnya.
"Kata nenek aku ga pernah makan" ucap nya
"ga ah.." masa bilang gitu nenek, kataku lagi.
"Iya ma" ucapnya lagi.
__ADS_1
" gak ap-apa sayang, nenek cuma bercanda" ku berkata meyakinkan anakku.
Pasti ada perkataan lain, ingin ku bertanya kembali,tapi ku urungkan, buat apa, dari pada aku jengkel, lebih baik ku abaikan, lagi pula sepetinya aku sudah bisa menebak maksudnya.
Mungkin perawakan anakku kurus , tapi bukan berati tak pernah makan donk, sebal juga ini rasanya Ibu mertua, kenapa juga hal seperti itu di katakan pada anak kecil.
Tak makan , bagaimana aku bisa hidup kalau ga makan, aneh saja.
Apa lagi pagi sarapan itu aku harus, karena aku punya maag, jadi tida kbisa telat makan.
Setiap pagi aku memasak, biarlah mungkin dia sengaja bilang seperti itu.
sementara dia tidak suka pedas, aku makan kalau tanpa sambal terasa hambar, bahkan hambar seperti sayur tanpa garam.
Bagaimana kalau tak makan, apalagi tak sarapan bisa kliyengan setiap hari, xixixi..
Kadang bila tak memasak sayur atau lauk, aku akan membeli diwarung yang menjual khusus sayur dan ikan yang sudah matang.
kalau untuk nasi aku memask di rumah,aku pun tak masalah, apalagi suamiku kadang terima saja, dia paham kadang aku pulang sudah siang.
Dia kadang keberatan, tidak usah beli, bisa aja masak, hemat dan hemat yang selalu dia bilang padaku, tapi aku tetap saja membeli bila aku tak sempat, lagian membeli yang matang ku rasa lebih hemat dari pada memasak.
__ADS_1
Misalnya saja beli sayur matang sebanyak sepuluh ribu, kalau kita membeli sayur mentah, terus bumbu juga, belum minyak dan gas, yah begitulah, apa lagi sekaramg harga barang pada naik semua,
Aku membelinya masakan matangnya tak setiap hari juga.
Ada-ada saja Ibu mertua ini sepertinya Julid saja dengan ku, heem..
Bisa jadi juga sih tak makan artinya adalah aku mengantar masakan ke rumahnya seperti biasanya, jadi aku itu makan, hehe.
Kubiarkan saja Ibu mertya seperti itu.
*
Ku hidupkan Televisi dan ku cari chanel kartun,setelahnya aku tinggal be beres ke dapur dan sedikit memasak untuk makan nanti malam.
Ku sapu lantai dan ku pel, dan melakukan kegitan di rumah seperri biasanya,tak berapa lama Ayah Faira datang dari arah dapur.
Kulihat suamiku juga mau mandi sore, dia pasti habis dari rumah Ibu, akupun masuk kedalam kamar membuka lemari dan menyiapkan baju dan celana ganti untuknya.
Kuletakkan baju dan celana di ujung kasur, ya itu selalu kulakkukan dan ku siapkan, jadi dia tinggal memakai saja, tak perlu repot mencari, dan aku lebih baik mengambilkan saja.
Apabila suamiku yang mengambil pakaian, habis kadang baju di dalam lemari, dan baju itu terjatuh dan di dalam lemari itu seperti di aduk, huh! Aku kadang mengomel melihatnya.
__ADS_1