Dilema

Dilema
You are Mine


__ADS_3

Halo semuanya...


Hayo, yang masih di bawah umur skip aja ya...


Bab yang mau aunty tulis ini sebenarnya bikin aunty dilema. Beberapa kali revisi baru sukses. Maaf ya kalau kurang greget.


Soalnya aunty sendiri merinding disko gimana gitu nulisnya 🤭🤭🤭


Mohon di maklumi ya, makasih ✌️✌️✌️


Happy reading ❤️❤️❤️


_-_-


Bagas masih menatap Moetia yang mulai tenang, tidak seperti sebelumnya yang sangat sedih dan gelisah.


Bagas tahu Moetia kecewa padanya dan pada ayahnya, tapi sepertinya sekarang Moetia sudah memahami maksud dari Chairul yang sebenarnya.


"Sayang, semakin dingin disini. Ayo kita masuk saja. Hari juga semakin gelap!" seru Bagas mengulurkan tangannya ke depan Moetia.


Moetia mengangguk dan menerima uluran tangan dari Bagas.


Mereka masuk ke dalam kamar, Bagas menghubungi pihak penginapan untuk mengirimkan nakan malam nanti setelah Bagas memesannya.


"Kenapa harus menelpon mereka? bukankah jika waktunya makan malam, mereka pasti mengirimkannya kemari?" tanya Moetia yang sedang duduk di tepi kasur sambil meraih remote televisi.


Bagas meletakkan telepon, dan menghampiri Moetia.


"Aku hanya tidak ingin ada yang mengganggu urusan ku!" jawab Bagas dengan tatapan yang lagi-lagi membuat Moetia bergidik ngeri.


Moetia dengan cepat menekan tombol on pada remote control televisi yang dia pegang. Tapi Bagas meraihnya dan mematikan televisi yang baru saja menyala itu.


"Bagas! kenapa dimatikan? aku mau nonton televisi!" protes Moetia.


"Tidak kah kamu melihat ada hal yang lebih menarik daripada menonton televisi?" tanya Bagas duduk disebelah Moetia.


Moetia berdecak kesal.


"Apa?" tanya Moetia belum mengerti.


Bagas meraih dagu Moetia perlahan lalu mengecup bibir Moetia lembut.


Moetia menahan dada Bagas dengan ke dua tangannya.


"Empt..."


Moetia mendorong Bagas sedikit menjauh.


"Bagas, apa kamu akan melakukannya sekarang?" tanya Moetia merasa takut.


Bagas masih berusaha menahan hasratnya yang sedari tadi membuatnya merasakan panas di tubuhnya.


Hawa panas itu seketika menjadi dingin jika dia menyentuh Moetia.


"Aku sudah berusaha menahannya sejak tadi Moetia, tapi jika kamu belum siap maka aku sebaiknya mandi saja sekarang!" ucap Bagas lalu berdiri menuju ke kamar mandi.


Moetia jadi tidak enak hati pada Bagas, di cuaca dingin dan sedang hujan deras begini Bagas harus mandi malam-malam.


Bukankah mereka sudah menikah? Moetia terlihat ragu harus membiarkan atau menahan Bagas.

__ADS_1


Dengan mengumpul kan seluruh keberaniannya akhirnya Moetia memutuskan untuk tidak membiarkan Bagas tersiksa lebih lama.


Moetia memanggil Bagas yang sudah memegang handle pintu kamar mandi.


"Bagas!" panggil Moetia spontan.


Bagas menoleh pada Moetia sambil tersenyum.


"Tidak apa-apa sayang, aku tidak ingin kamu melakukan nya karena terpaksa atau kasihan padaku!" seru Bagas.


Moetia membulatkan matanya, dia kaget bagaimana Bagas bisa tahu apa yang sedang dipikirkan nya.


Bagas memasuki kamar mandi. Moetia merasa sangat bersalah, dia bahkan tidak berani memenuhi kewajibannya sendiri sebagai seorang istri.


Moetia menghela nafasnya panjang, dia tidak mau Bagas kecewa padanya.


Moetia berdiri lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Moetia mengetuk pintu kamar mandi perlahan.


Tok! tok! tok!


Dan belum ada jawaban dari dalam kamar mandi, hanya ada suara gemericik air dari shower yang sepertinya Bagas nyalakan sangat kencang.


Moetia makin merasa bersalah karena Bagas tidak menyahut.


"Bagas! apa kamu marah?" tanya Moetia pelan sambil menggigit bibir bawahnya.


Bagas masih tidak menjawab, Moetia merasa cemas. Semua ini memang salahnya karena terlalu takut.


Moetia membuka pintu kamar mandi yang memang tidak Bagas kunci.


Moetia terkejut melihat Bagas sedang berdiri dibawah guyuran shower dan kedua tangannya menekan pada dinding kamar mandi.


Bagas masih menunduk dan terus mengguyur kepalanya hingga belum menyadari Moetia sudah masuk ke dalam kamar mandi.


Wajah Moetia tentu saja sudah memerah melihat suaminya itu dalam keadaan polos.


Moetia perlahan mendekati Bagas lalu memeluknya dari belakang.


Bagas terkejut ada yang memeluknya, dengan cepat Bagas berbalik dan betapa kagetnya dia Moetia menyusulnya bahkan memeluknya.


"Moetia, kenapa kamu disini! lihat bajumu basah!" seru Bagas.


"Maafkan aku!" lirih Moetia.


Bagas tersenyum mengambil handuk dan memakainya pada Moetia.


"Tidak apa-apa, keluarlah dan ganti pakaian mu nanti kamu bisa sakit!" ucap Bagas dengan suara serak karena masih berusaha meredam hasrat nya yang menggebu-gebu.


Moetia malah meletakkan handuk yang dipakaikan oleh Bagas lalu berdiri mendekat pada Bagas.


"Apa yang harus kulakukan?" tanya Moetia dengan suara bergetar.


Bagas membelai lembut wajah Moetia yang ikut terguyur air dari shower.


"Kamu yakin?" tanya Bagas dengan suara makin serak.


Moetia mengangguk perlahan.

__ADS_1


"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa, aku yang akan melakukan segalanya!" seru Bagas dengan senyuman kebahagiaan terukir sempurna di wajahnya.


Bagas memulainya dengan mencium mesra kening, mata lalu ke bibir lembut dan manis Moetia.


Moetia memejamkan matanya berusaha membuat dirinya nyaman.


Bagas meraih kedua tangan Moetia dan merangkulkannya ke leher Bagas.


Bagas masih ******* bibir Moetia, dan Moetia pun berusaha sebaik mungkin membalas tiap ******* yang Bagas berikan.


Tangan Bagas perlahan turun dari punggung menuju ke pinggang Moetia. Bagas memasukkan tangannya ke dalam kaos istrinya.


Mata Moetia terbuka ketika Moetia menyadari bahwa kedua tangan Bagas sudah mengangkat keatas kaos yang Moetia pakai.


Jantung mereka sama-sama berdetak sangat kencang, mata Bagas benar-benar sudah dipenuhi kabut gairahnya.


Bagas tidak ingin berlama-lama di bawah shower. Dia melucuti satu persatu pakaian yang melekat di tubuh istrinya itu.


Moetia menutupi dadanya yang polos dengan kedua tangannya.


Bagas malah tersenyum ketika melihat wajah Moetia yang tersipu malu dan sangat merah seperti tomat.


Perlahan Bagas menggendong tubuh istrinya ke luar dari kamar mandi.


Moetia masih menyembunyikan wajahnya di dada Bagas dan mengalungkan tangannya ke leher Bagas.


Bagas merebahkan tubuh Moetia di atas kasur lalu mengecup kening Moetia dengan penuh kelembutan.


Bagas memposisikan tubuhnya di atas Moetia dengan siku tangan kanannya sebagai penahan agar tidak menimpa tubuh Moetia.


"You are Mine Moetia!" ucap Bagas sebelum menjadikan Moetia miliknya seutuhnya.


Moetia memejamkan matanya dan mencengkeram kuat punggung Bagas, ketika Bagas berusaha untuk menyatukan dirinya dengan Moetia.


Peluh benar-benar sudah membasahi seluruh tubuh Bagas. Lumayan keras usaha yang dilakukan Bagas untuk menembus pertahanan Moetia.


"Agghk..." teriakan Moetia ketika Bagas berhasil menembus pertahanan nya.


Moetia menyadari kecerobohan nya, bagaimana dia bisa berteriak seperti itu. Wajahnya kembali memerah disela nafasnya yang tersengal-sengal. Moetia menutup mulutnya sendiri.


Bagas pun memejamkan matanya ketika sudah mendapatkan apa yang selama dua hari ini dia tahan.


Bagas membuka matanya lalu melihat betapa manisnya wajah istrinya itu saat tersipu, Bagas menarik tangan Moetia yang masih menutupi mulutnya sendiri.


"Jangan di tutupi, aku senang mendengar teriakan mu seperti tadi!" seru Bagas.


Wajah Moetia makin memerah, dia memalingkan wajahnya ke samping.


"Sudah kan?" tanya Moetia.


"Apakah sakit?" tanya Bagas.


Moetia menggeleng perlahan, Bagas tersenyum menyeringai.


"Kalau begitu sekali lagi!" seru Bagas.


Moetia segera menoleh ke arah Bagas.


"Apa!" pekik Moetia sambil membulatkan matanya sempurna.

__ADS_1


...💖💖💖💖💖...


__ADS_2