
Setelah memastikan Marvin benar-benar sudah pergi, membuka pintu kamarnya dengan cepat.
"Sayang, ada apa? kenapa berteriak?" tanya Soraya dengan raut wajah cemas.
Moetia memeluk mamanya dengan cepat.
"Ma, Moetia... Moetia mimpi buruk!" jawab Moetia yang terpaksa berbohong agar mamanya tidak khawatir.
Soraya membelai lembut kepala Moetia.
"Sayang, kamu pasti masih syock ya, karena penculikan mu itu. Mama temani kamu tidur ya?" tawar Soraya.
Moetia mengangguk dengan cepat, dia berfikir jika ada mamanya Marvin tidak akan nekat menemui diam-diam.
Moetia dan Soraya pun bergegas ke tempat tidur, Moetia memeluk erat mamanya.
Soraya bersenandung pelan sambil mengelus-elus kepala Moetia dengan lembut.
Tanpa terasa air mata Moetia mengalir begitu saja.
Ada perasaan bersalah yang lagi-lagi datang dan membuatnya merasa telah mengkhianati kedua orang tuanya sendiri.
Moetia menyeka diam-diam air matanya dan kembali memeluk Soraya hingga perlahan memasuki alam mimpinya.
Soraya juga ikut tidur ketika memastikan Moetia sudah tidur nyenyak.
Di tempat lain, seseorang yang juga sangat merindukan Moetia mulai memetik gitar dan menyanyikan lagu kerinduannya dengan syahdu di depan para pengunjung cafe.
🎶Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
🎶Bintang malam samapaikan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi katakan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
🎶Tahu akan engkau malam ini
Ku ingin bertemu membelai wajahnya
Ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya
🎶Lagu rindu ini ku ciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan
🎶Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
__ADS_1
Hanya untuk dirinya
🎶Lagu rindu ini ku ciptakan
Hanya untuk bidadari hatiku tercinta
Walau hanya nada sederhana
Ijinkan ku ungkap segenap rasa dan kerinduan
Tepukan riuh dari penonton belum mampu membuat Gio melupakan mood sedih nya.
Gio perlahan turun dari panggung tanpa menyapa para penggemar nya. Seorang penggemarnya lari mendekatinya dan meminta tanda tangan rapi Gio mengacuhkannya dan masuk begitu saja ke ruang istirahat nya.
Diana yang melihat penggemar wanita remaja itu hampir menangis, akhirnya mengambil catatan kecil ditangannya.
"Mau tanda tangan Gio?" tanya Diana.
Penggemar Gio itu mengangguk dengan cepat dengan tangan digenggam di bawah dagu dan mata berbinar-binar.
"Tolong ya kak!" jawabnya penuh harap.
"Tunggu disini!" seru Diana.
Diana lalu masuk ke ruangan khusus Gio.
"Tanda tangani ini!" seru Diana sambil menyodorkan catatan kecil milik penggemar wanita tadi.
Gio menoleh ke Diana dan meraih kertas itu, dia menandatangani dan menulis kata-kata manis di sana.
Diana menarik kertas itu dari tangan Gio lalu keluar.
"Ini!" seru Diana memberikan catatan kecil itu pada pemiliknya.
"Terimakasih kak!" jawab si penggemar dengan senyuman sangat lebar lalu pergi.
"Masa muda, memang naif!" gumam Diana lalu masuk kembali ke ruangan istirahat Gio.
"Aku antar pulang, atau mau ku pesankan taksi online?" tanya dia sambil memainkan ponselnya di depan Gio.
"Aku bawa motor!" sela Gio.
"Aku tidak mengijinkan mu mengendarai motor dalam keadaan seperti ini!" seru Diana mulai galak.
"Aku punya SIM kak!" bantah Gio.
"SIM itu kamu dapat saat kondisi mu normal dan baik, tapi lihat sekarang! kamu bahkan belum makan dari tadi siang!" balas Diana.
"Aku puasa!" sela Gio.
"Mana ada! kulihat tadi pagi kamu minum kopi!" bantah Diana.
Gio memang tidak pandai berbohong di depan Diana.
Gio mengambil jaket dan ponselnya.
"Aku ikut kakak saja ya, di rumah kakak ada ibu kan?" tanya Gio.
Diana mengangguk cepat.
"Iya ada ibu, ada Doni juga. Kenapa?" tanya Diana.
"Aku mau makan masakan ibu, ayo kak!" seru Theo menggandeng tangan Dian dan mengajaknya pulang ke rumah Diana.
Di rumahnya, lebih tepatnya rumah orang tuanya Diana tinggal bersama dengan ibu dan adik laki-laki yang masih kuliah.
__ADS_1
Ayah Diana meninggal setahun setelah Diana menikah dengan Sony. Tapi pernikahan itu juga tidak berlangsung lama karena keluarga Sony sangat kaya dan mereka melakukan segala cara untuk memisahkan Sony dengan Diana.
Sampai suatu saat itu benar-benar terjadi, dan hak asuh Mirza jatuh pada Sony. Karena waktu itu Diana belum punya pekerjaan tetap seperti sekarang.
Mereka mengobrol sepanjang jalan agar Gio tidak melamun. Diana melihat Gio makin kalut karena tidak bisa menghubungi Moetia.
Sebenarnya tadi pagi Gio ke rumah Moetia karena mendengar Moetia akan pulang. Tapi sayangnya ketika sampai di depan gerbang, beberapa orang memaksanya untuk meninggalkan rumah Moetia.
Mereka bilang mereka adalah suruhan Aries Mahendra, hal itu membuat Gio sedih karena menyangka kedua orang tua Moetia tidak menyukainya.
Diana menepuk bahu Gio sekilas lalu kembali fokus menyetir.
"Sudahlah, jika dia ada waktu. Dia pasti menemui mu!" ucap Diana menghibur Gio.
"Aku rasa aku harus berlatih karate atau semacamnya kak!" ucap Gio yang sontak saja membuat Diana harus menginjak pedal rem.
"Ada apa kak?" tanya Gio yang terkejut karena Diana mengerem mendadak.
"Kamu yang ada apa? apa maksudmu ingin belajar karate?" tanya Diana.
"Aku juga harus bisa berkelahi kak!" protes Gio.
"Mau berkelahi dengan siapa?" tanya Diana sambil menjewer telinga kanan Gio.
"Aduh, sakit kak!" pekik Gio.
Diana menarik tangannya.
"Jangan macam-macam ya, kontrakmu dengan Denisovich advertise masih tiga bulan lagi. Jangan membuat wajahmu terlihat menyedihkan!" kesal Diana.
"Aku hanya ingin belajar karate!" bantah Gio.
"Hei, aku bahkan sudah memegang sabuk hitam. Kamu tahu tidak walaupun hanya latihan pukulan dan tendangan itu pasti akan kamu terima nanti. Sudah diam! aku tidak ingin berdebat lagi. Kalau kamu butuh pengawal ada Djarot and the geng kan!" Diana malah makin kesal pada Gio.
Sebenarnya Gio masih tidak puas, dia sudah bertekad ingin belajar bela diri. Karate atau semacamnya.
Diana kembali menyalakan mesin mobilnya dan melaju menuju ke rumahnya. Tidak sampai setengah jam mereka sampai di rumah Diana.
Kebetulan, Doni adik Diana sedang berada di luar rumah bermain game di ponselnya.
Begitu dia melihat Gio keluar dari mobil, dia segera berlari menghampirinya.
"Kak Gio, wah kebetulan kak Gio datang. Aku sedang bermain game seru di ponsel ku! ayo kita main bareng!" ajak Doni.
"Biarkan Gio masuk dulu Doni, mama masak apa?" tanya Diana.
"Mama masak gulai ayam dan sambal jengkol, kak Gio menginap kan?" tanya Doni antusias.
"Iya, kakak Gio mu akan menginap. Siapkan selimut dan bantal untuknya di kamar mu! Setelah dia makan, terserah kalian mau apa!" seru Diana lalu masuk duluan meninggalkan Gio dan Doni.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Gio.
"Aku kan baru semester satu kak, everything ia under control!" ucap Doni sombong.
"Baguslah, ayo masuk. Kakak lapar sekali!" seru Gio.
Doni terkekeh.
"Benarkah? memangnya sudah berapa lama kakak tidak makan?" tanya Doni.
"Aku sudah tidak makan sejak setahu...n!" jawab Gio yang kemudian kembali sedih karena ingat Moetia pernah mengatakan hal yang sama seperti itu.
...❤️❤️❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Terimakasih ❤️❤️❤️...