
Moetia merasa tenggorokan mendadak sangat kering.
Tatapan Bagas sungguh membuatnya merinding.
Moetia tahu Bagas sekarang sudah menjadi suaminya, tapi rasanya sangat kikuk saat Bagas terus menerus membelai wajah hingga lehernya.
Moetia meraih tangan Bagas yang sedang menyusuri lehernya.
"Em, Bagas. Aku sedikit haus aku akan mengambil air mineral, apa kamu mau?" tanya Moetia mengalihkan perhatian Bagas.
Tapi sepertinya usahanya sia-sia saja, Bagas masih terus menatap Moetia seperti serigala kelaparan yang melihat seekor domba gemuk di depannya.
Moetia menelan saliva nya susah payah. Bagas makin lincah dengan tangannya, kali ini tangan kirinya mulai meraba perut Moetia.
Moetia merasa jantungnya berdetak sangat cepat, Moetia memejamkan matanya saat tangan Bagas bersamaan meraba perut dan leher Moetia.
Bagas menatap manik wajah Moetia yang mulai bersemu merah. Tangannya terus bergerilya di area leher dan wajah Moetia.
Begitu lembut, membuat Moetia terlena. Moetia membuka matanya dan membulatkan matanya saat tangan Bagas masuk ke dalam kaos yang Moetia pakai.
Moetia menahan tangan Bagas,
"Bagas, aku rasa ini terlalu cepat. Bisakah kamu memberiku waktu untuk ini!" pinta Moetia dengan wajah memelas.
Bagas tersenyum lalu menarik tangannya dari dalam kaos Moetia.
Bagas mengecup kening Moetia dengan penuh perasaan.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu siap!" seru Bagas.
Moetia menghembuskan nafas lega, dia bergegas ke dapur lalu mengambil air dingin dari lemari pendingin.
Moetia meminum air sangat banyak, dia merasa sangat haus. Tenggorokan nya terasa sangat kering dan Moetia merasa hawa di tubuhnya memanas.
Bagas yang ikut keluar pun kembali mendekati Moetia dan meraih botol minum dari tangannya.
"Aku juga haus!" seru Bagas lalu ikut meminum air dingin itu.
Tentu saja, hawa tubuh Bagas juga sudah memanas sejak tadi.
Sambil minum mata Bagas tak lepas dari istri tercinta nya itu.
Moetia jadi salah tingkah, dia melangkahkan kakinya keluar, ke balkon.
Bagas menghela nafas nya panjang, sebenarnya saat ini dia sangat menginginkan istrinya itu, tapi dia juga tidak ingin memaksa Moetia.
Bagas kembali ke dalam kamar lalu mengambil selimut dari atas tempat tidur. Dia membawa selimut itu ke luar balkon dan memakaikan nya pada Moetia.
__ADS_1
"Terimakasih!" ucap Moetia sambil tersenyum pada Bagas.
Bagas tersenyum dan duduk di sofa panjang yang ada disana.
"Kemari lah!" ucap Bagas sambil merebahkan dirinya dan bersandar di pegangan sofa sambil meluruskan kakinya.
Moetia menoleh, dia bingung. Maksud Bagas bagaimana? dia menyuruh Moetia ikut duduk tapi dia tidak menyisakan tempat yang kosong untuknya.
Bagas tahu Moetia tidak mengerti, Bagas menarik tangan Moetia hingga terjatuh diatas tubuh Bagas.
"Bagas!"protes Moetia berusaha untuk bangkit.
Tapi sayangnya Bagas memeluk pinggangnya sangat erat hingga Moetia tidak bisa meloloskan diri dari Bagas.
"Bagas, ini masih sore. Jangan begini!" keluh Moetia lagi.
Bagas malah tersenyum menyeringai,
"Jadi nanti malam, boleh?" tanya Bagas lembut.
Moetia berdecak kesal, seperti nya dia salah bicara lagi.
Sementara Moetia masih kesal dan berusaha untuk bangun, Bagas malah meraih kepala Moetia dan menyandarkannya di dadanya.
"Sudahlah, seperti ini saja boleh kan?" tanya Bagas sambil memejamkan matanya.
Beberapa menit mereka berpelukan dan memejamkan mata mereka di atas sofa. Rintikan air hujan dan angin yang berhembus kencang membuat mereka berdua makin larut dalam suasana.
"Bagas!" panggil Moetia perlahan.
"Hem" Bagas hanya berdehem dan masih memejamkan mata.
"Apa yang harus ku katakan pada papa dan mama ku saat kita kembali nanti?" tanya Moetia sangat resah.
Bagas membuka matanya, dia menuntun Moetia agar bangun.
Moetia bangun di ikuti Bagas lalu mereka duduk bersama.
Bagas merangkul Moetia mendekat kepadanya.
"Jadi hal itu yang membuatmu terus menolak ku?" tanya Bagas lalu mencubit hidung Moetia.
Moetia menepis tangan Bagas,
"Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan nya pada papa dan mamaku, mereka pasti sangat kecewa padaku Bagas!" keluh Moetia.
Moetia menatap nanar ke depan, ke arah rintikan hujan yang masih begitu bersemangat untuk saling bersahutan.
__ADS_1
"Mereka sudah membesarkan dan merawat ku, mereka selalu memenuhi semua kebutuhanku, mereka menjagaku melindungi ku!" tanpa disadarinya air mata Moetia sudah menetes dari sudut matanya.
Moetia menautkan tangannya dan menangkup wajahnya.
"Aku sudah mengecewakan mereka Bagas, bagaimana hal sebesar ini bisa aku sembunyikan dari mereka! aku tidak menyukai ini! aku merasa sangat egois bahkan pada kedua orang tuanya sendiri!" ucap Moetia menumpahkan semua perasaan yang masih mengganjal di hatinya.
Bagas masih diam dan hanya menatap Moetia dengan penuh kasih sayang. Dia tidak ingin menyela Moetia, Bagas ingin Moetia mengutarakan semua keluh kesah yang menganggu hati dan pikirannya.
Sambil terisak Moetia masih terus bicara.
"Apapun yang akan orang lain katakan, aku tidak perduli. Tapi bagaimana bisa aku melakukan hal ini pada papa dan mama ku! mereka benar-benar akan kecewa padaku. Aku adalah putri mereka satu-satunya, dan aku membuat mereka sedih dan kecewa!" ucap Moetia makin terisak.
Melihat Moetia makin terisak, Bagas akhirnya mengelus lembut punggung Moetia.
Moetia menyeka air matanya lalu menoleh memandang Bagas.
"Katakan, aku harus bagaimana? apa yang harus aku katakan pada papa dan mama jika mereka tahu aku sudah menikah tanpa memberitahu mereka!" seru Moetia
Bagas mengangguk paham.
"Aku tahu kamu sangat marah padaku, mungkin kamu juga marah pada ayahku. Tapi ayah melakukan semua ini demi kita. Ibuku bersikeras menikahkan aku dengan sahabatmu itu, dan papa mu sangat bersimpati pada Reno. Bahkan perjodohan kalian sudah mulai di bicarakan! sekarang aku tanya padamu? apa yang akan kamu lakukan jika aku menikah dengan wanita lain?" tanya Bagas tegas.
Moetia seketika merubah ekspresi dari wajah kesal menjadi wajah yang sedih.
"Apa kamu juga akan menikah dengan orang lain?" tanya Bagas lebih tegas lagi.
Moetia dengan cepat menggelengkan kepalanya berkali-kali.
"Pikirkan lah, jika dua hal itu terjadi apa kita akan bahagia?" tanya Bagas lagi.
Moetia lagi-lagi menggeleng kan kepalanya perlahan.
"Jika kita tidak bahagia, apa kita bisa membahagiakan orang-orang yang ada di sekitar kita, jika aku menikah dengan Manda aku hanya akan menyiksa diriku sendiri juga Manda. Karena pasti aku tidak akan pernah mencintai nya, aku bahkan tidak ingin bersalaman dengannya!" seru Bagas.
Moetia mulai melupakan amarah dan mulai menyimak dengan baik apa yang dikatakan Bagas.
"Lalu dirimu, jika kamu memutuskan untuk tidak menikah dengan orang lain, apakah kamu akan membiarkan kedua orang tuamu sedih sepanjang usia senja mereka? Bukankah itu juga akan menyiksamu dan papa mama mu? Apa itu yang kamu mau?" tanya Bagas serius.
Moetia menundukkan wajahnya, dia menyadari kekeliruannya. Apa yang dilakukan om Chairul semata-mata hanya ingin dia dan semua nya bahagia pada akhirnya.
Meskipun untuk itu pasti banyak kesalahpahaman yang harus mereka luruskan.
Bagas meraih dagu Moetia agar menatap wajah nya.
"Jangan memikirkan hal itu lagi ya, aku yang akan menjelaskan pada mereka nanti. Aku yang akan datang pada mereka dan mengakui segalanya, bahwa aku sangat mencintai putri mereka yang sangat manis dan wajahnya sangat mudah memerah ini!" ucap Bagas lalu mencubit pipi Moetia.
Moetia kembali menepis tangan Bagas.
__ADS_1
"Bagas, kamu menyebalkan. Tadi kamu mencubit hidungku, sekarang pipiku. Kamu tahu tidak ini termasuk KDRT tahu!" protes Moetia.
"Apa, KDRT?" tanya Bagas tak percaya dengan apa yang dikatakan Moetia.