Dilema

Dilema
Bertemu Audrey


__ADS_3

Beberapa jam kemudian pesawat yang mereka tumpangi tiba di bandara.


Benjamin dan Reno berpisah dari mereka, karena Reno langsung di naikkan ke ambulance ketika turun dari pesawat.


Ketika mereka tiba di dalam bandara, wajah Theodore Denisovich terlihat sangat senang. Theo langsung berlari mendekati seorang wanita cantik berambut coklat yang berada di samping Austin.


"Sayang, kamu sudah disini!" tanya Theo lalu memeluk wanita itu dengan sangat bahagia.


Baru beberapa detik, tapi Austin sudah menarik lengan Theo.


"Sudah, sudah cukup. sekarang peluklah calon kakak ipar mu ini." seru Austin.


Theo dengan malas melakukan apa yang di perintah Austin.


"Ku dengar kamu sudah melakukan banyak hal untuk membantu Bagas dan Reno, kerja bagus!" puji Austin pada Theo yang telinga nya mulai memerah.


Audrey tersenyum melihat Reno yang malu-malu seperti itu.


"Manis sekali!" seru Audrey sambil mencubit pipi Theo.


"Sayang, jangan mencubit pipiku, mereka semua akan menertawakan tunangan mu ini nanti!" protes Theo dengan lembut.


"Benarkah, katakan padaku siapa yang akan menertawakan mu, my sweet bear!" sahut Audrey tersenyum lebar.


"Panggilan mu belum berubah pada my sweet bear mu ini, Audrey?" tanya Bagas yang menghampiri mereka bersama Moetia.


"Hai Bagas!" sapa Audrey lalu memeluk Bagas.


"Hai, beauty. Bagaimana kabarmu?" tanya Bagas mengelus lembut kepala Audrey.


"Kenalkan ini istri ku tersayang, Moetia!" ucap Bagas memperkenalkan Moetia pada Audrey.


Audrey menoleh ke Moetia, lalu memeluknya.


"Hai Moetia, Bagas sudah banyak bercerita tentang mu! sekarang aku tahu kenapa para lelaki dingin ini menyukai mu!" ucap Audrey sambil memegang kedua lengan Moetia.


"Para lelaki dingin?" tanya Bagas.


Audrey menoleh ke Austin.


"Ku kira sudah tak ada rahasia lagi diantara kalian bertiga?" tanya Audrey membuat semua yang ada di situ penasaran.


"Sayang, apa maksudmu? kalian bertiga itu siapa saja?" tanya Theo.


"Tentu saja, kamu, Bagas dan kak Theo!" jawab Audrey dengan cepat.


"Lalu rahasia apa yang kamu bicarakan?" tanya Bagas.


Austin menepuk bahu Audrey.

__ADS_1


"Sudahlah, kalian pasti lelah. Oh iya aku belum mengucapkan selamat atas pernikahan kalian berdua, Bagas dan Moetia. Selamat untuk kalian!" ucap Austin lalu memeluk Bagas dan menjabat tangan Moetia.


Audrey hanya tertawa melihat kakaknya yang sepertinya sedikit gugup.


Mereka semua berjalan meninggalkan bandara.


Mereka menaiki mobil dan segera menuju ke rumah sakit tempat Reno akan di rawat lagi untuk pemulihan nya.


Bagas dan Moetia berada di dalam mobil berbeda dengan Theo dan Uston juga Audrey.


"Sepertinya dari tadi kamu tidak tenang?" tanya Moetia pada Bagas yang terlihat gelisah.


"Bagaimana aku bisa tenang jika harus tinggal terpisah dengan istriku!" sahut Bagas memalingkan wajahnya ke arah lain.


Moetia tersenyum lalu merangkul lengan Bagas dan menyandarkan kepalanya di lengan Bagas.


"Meskipun kita tinggal terpisah, bukankah kita akan sering bertemu di kantor. Kita juga masih bisa menghabiskan waktu bersama kan?" tanya Moetia lembut.


"Tetap saja tidak sama, aku sudah terbiasa tidur sambil memelukmu!" keluh Bagas.


Moetia lagi-lagi tersenyum, rasa haru ada di dalam hati nya mendengar Bagas begitu ingin bersama terus dengannya.


"Aku ada ide, bagaimana jika membuat sarung guling dengan print wajahku. Kamu bisa merasa memelukku kan!" kekeh Moetia.


Bagas mencubit hidung Moetia karena gemas.


Wajah Moetia sontak memerah mendengar pertanyaan Bagas itu.


Moetia mencubit kecil pinggang Bagas dan menggeser duduknya menjauh.


Bagas mendekati Moetia.


"Kenapa malah menjauh?" tanya Bagas.


Moetia menutup wajahnya sendiri dengan tangannya.


"Bagas, apa kamu tidak malu menanyakan itu. Lihatlah kita sedang dimana? Astaga!" kesal Moetia.


Bagas malah dengan enteng mendekat ke arah supir yang sudah berusia separuh baya dan sudah bekerja puluhan tahun di perusahaan Wiguna grup yang bernama Rahman.


"Pak Rahman, apa kamu mendengar apa yang aku tanyakan pada Moetia tadi?" tanya Bagas tanpa rasa malu.


Moetia lagi-lagi harus menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tidak habis pikir kenapa Bagas bisa bersikap tidak tahu malu begitu.


Pak Rahman yang bingung harus menjawab apa, akhirnya hanya menggeleng kan kepalanya berkali-kali dengan cepat.


"Tidak tuan, saya sangat fokus menyetir!" jawabnya yakin.


Bagas mundur dan mendekati Moetia lagi.

__ADS_1


"Sudah lihat, pak Rahman sangat fokus menyetir!" seru Bagas.


Moetia hanya bisa menghela nafas nya panjang ketika Bagas kembali mendekatinya dan ber manja-manja padanya.


Sementara di mobil lainnya, Theo masih penasaran ada rahasia apa yang Audrey dan Austin sembunyikan darinya dan Bagas.


"Sayang, cepat katakan! apa rahasia kecil yang maksud tadi?" tanya Theo manja pada Audrey.


Austin yang duduk di depan pun menoleh ke arah belakang, ke arah Theo.


"Sudah lah, untuk apa juga kamu tahu. Tidak ada hubungannya dengan mu!" sahut Austin.


Theo menggenggam tangan Audrey,


"Benarkah tidak ada hubungannya dengan ku?" tanya Theo.


Audrey mengangguk,


"Iya, sebenarnya ini hanya antara Bagas dan kak Theo. Lebih baik dilupakan saja sekarang. Oh ya, coba ceritakan padaku. Kudengar kamu membantu Benjamin meringkus penjahat yang hampir saja meledakkan bom! itu terdengar sangat luar biasa!" ucap Audrey mengalihkan perhatian Theo.


Wajah Theo langsung terlihat sombong dan dengan cepat dia menceritakan aksi heroiknya memanjat tembok dan mengalihkan perhatian si penjahat pembawa bom itu.


"Wah, my sweet bear ku memang luar biasa. Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Audrey.


"Ya, kami berhasil menangkap dua orang yang menculik Moetia berkat alat pelacak yang ada di kalung mu, tapi ternyata mereka menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak beres dengan kalung itu. Mereka mengecoh kami. Moetia masih ada di tangan Marvin saat kami membekuk dua penjahat itu!" jelas Theo.


"Marvin? apakah dia Marvin Payage?" tanya Audrey.


"Iya, kamu mengenalnya?" tanya Theo.


"Dia sangat terkenal, bahkan V.g grup pernah bekerja sama dengan perusahaan ku disana. Sayang sekali jika orang yang sudah sukses dan punya nama besar seperti itu harus tersandung kasus kriminal!" seru Audrey.


"Kenapa kedengarannya seperti kamu sedang kasian padanya?" protes Theo.


"Benarkah, apakah my sweet bear ku ini sedang cemburu?" tanya Audrey sambil terkekeh.


Theo malah memasang wajah cemberut dan melihat ke arah lain.


"Oh, baiklah jika kamu marah. Maka aku akan kembali saja ke Singapura!" gertak Audrey sambil menggeser posisi duduknya menjauhi Theo.


Theo langsung menoleh dan merangkul lengan Audrey.


"Sayang, tidak. Aku hanya bercanda. Mana berani aku marah padamu. Jangan pergi lagi ya, kontrak mu kan sudah selesai disana, jadi jangan pergi lagi. Aku akan meminta Daddy segera melamar mu, apa kamu tidak ingin seperti Bagas dan Moetia, mereka terlihat sangat bahagia setelah menikah." ucap Theo panjang lebar untuk meyakinkan Audrey agar tidak meninggalkannya.


Sementara Austin yang melihat tingkah sahabatnya itu hanya tersenyum kecil.


Tapi dia sangat lega, Audrey mencintai orang yang tepat.


...💕💕💕💕💕...

__ADS_1


__ADS_2