
Moetia masuk ke dalam rumahnya, ketika dia masuk.
Aries dan Soraya sedang membicarakan tentang kedatangan Diana tadi sore.
"Malam ma, pa!" sapa Moetia lalu mencium pipi papa dan mamanya.
"Sayang, selamat malam!" sahut Aries.
"Moetia duduk dulu, papa dan mama mau bicara!" seru Soraya menarik tangan Moetia agar duduk di sebelah nya.
"Sayang, kapan kamu akan mengenalkan Gio pada kami?" tanya Soraya sangat antusias.
Moetia berfikir sejenak, pasti mama dan papanya sudah salah paham. Selama ini dia tidak pernah mengatakan bahwa Gio adalah pacarnya.
"Ma, pa sebenarnya Gio bukan pacar Moetia. Kami memang dekat, tapi hubungan kami hanya sebatas teman saja!" jelas Moetia.
Soraya terlihat kecewa,
"Begitu ya!" serunya pelan.
Sebaliknya, Aries justru terlihat senang dan lega mendengar penjelasan Moetia.
"Bagus lah Moetia, jika kalian hanya berteman. Papa juga tidak terlalu menyukainya, sepertinya dia belum dewasa. Mungkin usianya saja lebih muda darimu, benarkan?" tanya Aries
Moetia mengangguk,
"Gio memang dua tahun lebih muda dariku," jawab Moetia.
Soraya terlihat sedih,
"Sayang, tapi Gio itu sangat manis. Dia juga sangat perhatian padamu. Mama rasa usia itu bukan masalah, banyak teman-teman mama yang menikah dengan pria lebih muda tapi rumah tangga mereka awet juga!" terang Soraya.
Aries menepuk bahu Soraya dengan lembut,
"Sudahlah ma, menyerah saja." ucap Aries.
Soraya berdecak kesal,
"Pantas saja, tadi saat manager Gio kemari dia terlihat kaget saat aku bilang Gio itu pacarnya Moetia!" seru Soraya.
Moetia menoleh,
"Kak Diana kemari ma?" tanya Moetia
Soraya mengangguk,
"Iya, dia bilang Gio sangat mencemaskan mu karena tidak bisa dihubungi beberapa hari, lalau mama memberikan nomer ponsel mu padanya!" jelas Soraya lagi.
"Begitu ya, baiklah ma, pa. Moetia ke kamar dulu ya!" pamitnya sambil tersenyum.
Setelah Moetia pergi, Soraya dan Aries melanjutkan obrolan mereka
"Aku benarkan! Gio itu bukan pacar Moetia. Dari cara memandangnya saja sudah ketahuan kalau Moetia seperti nya tidak mencintai Gio. Meskipun sangat terlihat kalau Gio menyukai Moetia," terang Aries.
"Kenapa Moetia tidak menyukai Gio?" tanya Soraya.
Aries mengangkat bahunya sekilas,
"Entahlah, mungkin Gio bukan tipe Moetia!" jawab Aries sekenanya.
Soraya terkekeh,
"Moetia bukan wanita seperti itu, dia tidak akan menilai seseorang tipenya atau bukan, memangnya papa? pemilih sekali!" sindir Soraya.
Aries malah tersenyum dan menyenggol bahu Soraya,
"Kenapa kalau aku pemilih, akhirnya kan aku mendapatkan wanita paling cantik dan Peking baik seperti kamu!" seru Aries menggoda Soraya.
Blush!
Wajah Soraya memerah, dia terjebak kata-kata nya sendiri.
Sementara itu dikamar Moetia, dia segera membersihkan dirinya dan berganti pakaian.
Setelah itu Moetia mengambil ponselnya dan menelpon Gio.
__ADS_1
"Halo!" sapa Moetia
"Halo Moetia," jawab Gio lemah.
Mendengar suara Gio tidak bersemangat, Moetia pun cemas.
"Gio ada apa? ada yang terjadi?" tanya Moetia khawatir.
"Tidak ada Moetia, aku hanya lelah." jawab Gio pelan.
Moetia tahu ada yang tidak beres pada Gio.
"Maafkan aku ya, tadi saat kamu menelpon ku. Bagas sedang bersama ku, dan ada sesuatu yang terjadi. Sehingga aku harus menutup panggilan teleponnya. Apa kamu kesal karena hal itu?" tanya Moetia.
"Tidak, dia kekasihmu. Aku hanya temanmu! kenapa aku harus kesal?" balas Gio.
"Hei, jangan bicara begitu. Kamu adalah teman terbaikku, Oh ya! bukankah besok kamu juga akan hadir dalam konferensi pers penandatanganan kontrak eksklusif mu dengan perusahaan Theo?" tanya Moetia
"Darimana kamu tahu?" tanya Gio
"Dari Manda, dia yang akan jadi model iklan nya! Selamat untuk mu Gio! Setelah ini karirmu pasti akan semakin cemerlang!" puji Moetia.
"Kamu akan datang kan?" tanya Gio berharap.
Moetia terkekeh, sepertinya dia sudah menemukan apa yang membuat Gio cemas.
"Aku akan datang!" jawab Moetia yakin.
"Benarkah? baiklah kalau begitu. Aku akan istirahat lebih awal, agar besok pagi terlihat baik di depan kamera!" seru Gio bersemangat.
"Baiklah, selamat malam Gio!" seru Moetia
"Selamat malam Moetia." sahut Gio
Moetia menutup panggilan teleponnya lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
Baru saja diletakkan ponselnya kembali berdering, Moetia meraihnya. Ada nama Bagas disana, Moetia segera menerima panggilan itu,
"Halo," sapa Moetia
Moetia sampai harus menjauhkan ponselnya dari telinganya karena kerasnya teriakan Bagas.
"Jangan berteriak Bagas! kamu akan melukai tenggorokan mu sendiri." sahut Moetia.
"Aku menghubungi sejak tadi, dan nomer mu sibuk! Siapa yang menelepon mu?" tanya Bagas lagi.
"Aku menghubungi Gio," jawab Moetia
"Dia lagi!" protes Bagas.
"Ayolah Bagas, kita sudah membahasnya tadi. Besok dia akan menandatangani kontrak dengan perusahaan Theo, aku hanya mengucapkan selamat padanya! bagaimana pun dia adalah temanku!" jelas Moetia.
"Benar, dia temanmu selamanya akan seperti itu! " tegas Bagas.
"Baiklah, sekarang katakan ada apa?" tanya Moetia.
"Besok pagi aku juga menandatangani kontrak itu, apa kamu tidak akan mengucapkan selamat pada ku juga?" tanya Bagas
Moetia malah terkekeh,
"Hei tuan besar, kamu adalah bos nya. Kontrak itukan dibuat oleh mu!" sahut Moetia.
"Lupakanlah, aku terlalu berharap padamu!" seru Bagas kesal.
"Maafkan aku, baiklah. Selamat ya Bagas atas kontrak eksklusif nya!" seru Moetia menyenangkan Bagas.
"Bisakah jika kamu tambahkan kata sayang, Moetia?" pinta Bagas.
"Baiklah, Selamat ya Bagas atas kontrak eksklusif nya sayang!" goda Moetia sengaja mengacaukan kata-kata nya.
"Gantilah kata Bagas dengan sayang, Moetia jangan membuatku kesal!" tegas Bagas
Moetia kembali terkekeh,
"Baik, baik. Selamat ya Sayang! aku mencintaimu!" ucap Moetia lembut.
__ADS_1
Satu detik! dua detik! tiga detik!
Tidak terdengar sahutan dari Bagas.
"Bagas, apa kamu masih disana?" tanya Moetia.
"Aku tidak percaya kamu menyatakan cinta sebelum aku! aku rasa aku tidak akan bisa tidur malam ini!" seru Bagas.
Moetia tersenyum senang,
"Kalau begitu selamat begadang ya, aku mau tidur. Bye!" seru Moetia lalu mematikan ponselnya.
Sementara itu Bagas yang masih diam menatap layar ponselnya dikagetkan oleh suara Belinda yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya.
"Bagas! akhirnya kamu pulang. Ayah dan ibu ingin bicara dengan mu!" kata Belinda.
"Soal apa Bu?" tanya Bagas.
" Besok adalah konferensi pers, alangkah baiknya jika kamu dan Manda datang bersama sebagi pasangan, itu akan..."
"Sudahlah Bu, aku sudah mengikuti keinginan ibu untuk bertunangan dengan nya, jangan memaksaku melakukan lebih dari itu!" sela Bagas.
"Apa maksudmu Bagas, kamu tidak akan melakukan lebih dari pertunangan! apa kamu tidak akan menikah dengan Manda?" tanya Belinda cemas
"Tidak akan!" tegas Bagas
Belinda terhuyung sedikit kebelakang,
"Ya Tuhan Bagas, apa yang kamu pikirkan? bagaimana bisa kamu setuju bertunangan tapi tidak setuju untuk menikah?" tanya Belinda.
"Seharusnya ibu memikirkan itu sebelum memintaku bertunangan dengan wanita yang sama sekali tidak aku sukai! aku hanya membantu ibu memenuhi janji pada om Ahmad. Dan janji itu hanya untuk bertunangan tidak lebih!" tegas Bagas.
"Ibu melakukan semua ini untuk mu, nak. Ibu hanya ingin kamu lepas dari bayang-bayang Calista!" seru Belinda.
Bagas mendekati ibunya den menyentuh kedua bahu Belinda,
"Aku sudah melupakannya Bu, lihat hidupku sudah sangat baik sekarang. Aku sungguh telah melupakan nya!" tegas Bagas meyakinkan Belinda.
"Bukalah hatimu untuk wanita lain!" seru Belinda.
"Sudah kulakukan, tapi wanita itu bukan Manda!" tegas Bagas
Belinda terkejut,
"Siapa dia?" tanya Belinda penasaran sekaligus kaget.
Bagas hanya tersenyum,
"Sudahlah Bu, aku ingin istirahat. Aku harus bangun pagi untuk acara besok!" seru Bagas sambil naik ke atas ranjangnya dan membaringkan tubuhnya.
"Bagas, ibu serius. Jika bukan Manda, siapa wanita itu?" tanya Belinda makin penasaran.
"Tolong tutup pintu ya Bu!" seru Bagas lalu menarik selimut dan memejamkan matanya.
Sebenarnya Belinda masih penasaran tapi melihat Bagas sudah memejamkan matanya dia pun keluar dari kamar Bagas dan menutup pintu kamarnya.
Belinda kembali menemui Chairul di kamar mereka,
"Bagaimana? apa Bagas mau datang bersama Manda?" tanya Chairul.
Belinda duduk di sebelah Chairul,
"Bagas tidak mau! dan apa kamu tahu apa yang baru saja Bagas katakan padaku!" seru Belinda sambil menatap Chairul dengan serius.
"Apa?" tanya Chairul
"Dia sudah membuka hatinya untuk wanita lain, tapi wanita itu bukan Manda!" seru Belinda yang bahkan masih sangat terkejut bercampur cemas.
Chairul menutup buku yang dia baca,
'Jangan-jangan kecurigaan ku selama ini benar!' batin Chairul.
...💕💕💕💕💕💕...
...Jangan Lupa Vote, Like, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍...
__ADS_1
...Think u ❤️...