Dilema

Dilema
PETIR DI SIANG BOLONG


__ADS_3

Sejak kejadian pak Arkan ngajak gue ke pantai dan gue nggak sengaja peluk pak Arkan, hubungan gue dan pak Arkan sedikit demi sedikit mulai menghangat. Pak Arkan yang dulunya dingin kini mulai hangat.


" Saya tunggu 15 menit sebelum makan siang. Seperti biasa tidak.."


" Tidak boleh terlambat dan saya tidak menerima penolakan", potong gue seraya mengikuti gaya bicara pak Arkan. Dia tertawa kecil dan menganggukkan kepalanya.


" Yaudah pak kalau gitu saya permisi dulu", pamit gue.


" Hmm, silahkan", kata nya mempersilahkan gue. Nah kalian bisa lihatkan betapa hangatnya pak Arkan sekarang. Tapi bukannya merasa aneh gue justru merasa sangat amat senang mendapat perlakuan hangat pak Arkan.


FLASHBACK ON


"Terimakasih pak", kata gue seraya memeluk pak Arkan dari belakang. Entah keberanian darimana, dan entah setan apa yang mendorong gue untuk melakukan hal itu. Gue menyandarkan kepala gue di punggung lebar pak Arkan. Nyaman, itulah yang gue rasakan saat ini. Merasa tak ada pergerakan dari pak Arkan, gue menyesali perbuatan gue. Gue terus mengutuk diri gue karena berani memeluk pak Arkan. Akhirnya setelah mengumpulkan keberanian gue mengangkat kepala gue. Oh wait, bentar bentar. Gue nggak salah lihat kan? Tengkuk dan telinga Pak Arkan memerah? Apa dia marah karena gue meluk dia? Gue pun spontan menarik tangan gue dan menunduk.


Cukup lama sebelum akhirnya pak Arkan berbalik. Gue nggak berani menatap pak Arkan dan hanya bisa menunduk.


"Apa kamu bisa menikmati sunset jika kau hanya menunduk?", tanya pak Arkan tanpa beban. Gue memberanikan diri mengangkat kepala gue, dan yang gue dapati adalah pemandangan seorang pria bak dewa yunani yang berdiri diantara sunset tersebut. Pak Arkan berdiri tepat di samping gue, gue bisa melihat betapa indahnya ukiran wajah tersebut. Gue hanya bisa tersenyum melihat pemandangan tersebut.


" Apa ketampanan saya lebih indah daripada sunset ini?", tanya nya menyadarkan gue.


" A... mmm.. Maaf pak atas kelancangan saya", kata gue gugup dan berbalik melihat sunset tersebut.


"Kamu nggak pernah kesini kan sama mantan kamu itu? Atau jangan-jangan kamu lagi bayangin kalau saya itu adalah dia?", kata pak Arkan menyimpulkan pikiran nya sendiri.

__ADS_1


"Ahkk, nggak kok pak. Saya justru nggak pernah pergi ketempat seperti ini dengan seorang pria", jujur gue. " Berarti saya yang pertama? Wah mengesankan sekali", kata nya tersenyum tipis. Gue hanya menanggapi nya dengan tersenyum dan mulai memfokuskan diri menatap sunset.


**FLASHBACK** ***OFF***


" Alexa, hey Alexa Putri", panggil pak Adam mengagetkan gue. Tunggu, sejak kapan pak Adam dimeja gue?


"Eh, maaf pak maaf. Kenapa Pak Adam? ada yang bisa saya bantu?", tanya gue ke pak Adam. Pak Adam menyodorkan kopi ke gue.


"Diminum mumpung masih hangat, kamu aku lihat-lihat kayak nya kecapean ya? Pak Arkan ngasih kamu tugas yang susah - susah ya? Atau kamu nggak dikasih istirahat sama dia?", tanya pak Adam bertubi - tubi. Ini mengherankan. Kenapa pak Adam tiba - tiba khawatir sama gue? Nih cowok kesambet atau kenapa?


"Tuh kan bengong lagi. Kamu kayak nya emang perlu istirahat deh Sa", sambungnya lagi.


Gue tersenyum mendengar semua kalimat yang keluar dari pak Adam adalah kekhawatiran. Tapi entah kenapa, hati gue nggak sehangat saat pak Arkan mengkhawatirkan gue. Ini cukup mengherankan, bukannya cowok yang gue suka itu pak Adam. Gue menggelengkan kepala gue. Gue kaget saat punggung tangan pak Adam menyentuh dahi gue. " Kamu sakit? Kok geleng - geleng?", tanya nya lagi.


"Makasih bapak udah khawatir sama saya", sambung gue lagi dan tersenyum.


"Mau makan siang bareng nggak?", tanya Pak Adam. Gue menatap arloji ditangan gue, dan ternyata 20 menit lagi adalah jam makan siang.


" Maaf pak, saya harus nemanin pak Arkan", jujur gue.


"Hmm, oke dehh. Tapi kapan - kapan kita dinner bareng yuk?", ajak pak Adam. Gue sedikit kaget. Kenapa pak Adam jadi merhatiin gue. Bukannya selama ini dia cuma nganggap gue rekan kerja? Ahk, udahlah bodo amat. Sekarang yang terpenting gue harus segera keruangan pak Arkan. Gue berpamitan dengan pak Adam dan segera menuju ruangan pak Arkan


Saat sampai di depan lift yang masih tertutup, gue melihat seorang perempuan cantik yang juga menunggu pintu lift terbuka. Tapi dia tidak terlihat seperti pegawai di kantor ini.

__ADS_1


Gue tersenyum saat dia menatap ke arah gue, dan dibalas senyuman tipis darinya. Pintu lift terbuka, perempuan itu masuk terlebih dahulu lalu gue juga masuk. Perempuan itu menekan angka yang menuju keruangan pak Arkan. Gue mengernyitkan dahi gue.


" Eh maaf, kamu mau ke lantai berapa?", tanya perempuan itu yang sepertinya baru menyadari keberadaan gue.


" Lantai yang sama kok mbak", jawab gue seramah mungkin. Gue melihat wajah cantiknya sedikit bingung lalu kemudian kembali datar.


"Kamu pegawai disini ya?", tanya nya memecah keheningan.


" Iya mbak", jawab gue pelan. Entah kenapa gue merasa insecure berada di dekat perempuan ini. Dia cantik, tinggi, putih dan sepertinya anak orang kaya.


" Mbak bukan pegawai di kantor ini ya? saya belum pernah ngeliat mbak di kantor ini soalnya", tanya gue memberanikan diri.


" Iya bukan, saya kesini mau kasih surprise sama pacar saya", jawabnya antusias. Mendengar jawabannya, seketika otak gue dipenuhi pertanyaan. Apa katanya tadi? Pacar? Angka lift yang ditekan olehnya hanya menuju keruangan pak Arkan. Otak gue hampir pecah memikirkan semuanya, sampai pintu lift terbuka.


Wanita itu dengan antusias berjalan setengah berlari menuju ruangan pak Arkan. Ya, ruangan pak Arkan. Jantung gue berdetak lebih cepat, dan gue juga spontan mempercepat langkah gue.


" Surprise by", teriaknya setelah membuka pintu dengan lebar. Gue melihat pak Arkan berdiri, dan perempuan itu langsung menghambur kedalam pelukannya. Gue memperhatikan semuanya, bahkan hal yang paling menyakitkan. Pak Arkan membalas pelukan itu dan tersenyum. Namun senyuman itu luntur ketika mata pak Arkan tak sengaja melihat ke arah gue. Gue membalikkan badan gue dan berencana ingin pergi.


" Alexa, tunggu", panggil pak Arkan.


Kenapa rasanya sangat sakit?. Padahal baru kemarin gue merasakan kebahagian.


Gue berbalik dan berusaha tersenyum. Sangat sakit rasanya melihat pak Arkan merangkul mesra pinggang perempuan itu.

__ADS_1


__ADS_2