Dilema

Dilema
Bagas Nekat


__ADS_3

Sisilia kembali terduduk lemas di kursi, dia terus memijit pelipisnya sendiri.


"Apa yang sudah kamu lakukan Moetia?" sesal Sisilia.


"Kakak, maafkan aku tapi..."


"Tidak ada alasan membenarkan sebuah kebohongan Moetia, jika memang dia tidak bisa kamu miliki maka mundur lah, jangan mempermalukan dirimu sendiri. Jangan membuat seolah papa dan mama mu tidak pernah mengajarimu mana yang salah dan mana yang benar!" seru Sisilia memarahi Moetia.


Sisilia sangat kecewa dengan apa yang sudah di lakukan Moetia. Menikah diam-diam bukan solusi yang tepat menurut nya.


Melihat Moetia merasa terpojok. Bagas maju beberapa langkah berusaha menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya.


"Aku mencintai Moetia, aku bertunangan dengan Manda atas keinginan Moetia. Dan pernikahan ini terjadi atas keinginan kami berdua. Moetia sama sekali tidak bersalah!" ucap Bagas.


Sisilia menoleh kearah Bagas.


"Tanpa restu om dan Tante, bukankah dia hanya menjadi istri siri mu saja!" kesal Sisilia.


"Tidak!" jawab Bagas dengan cepat.


Moetia hanya menundukkan kepalanya, merasa sangat bersalah.


"Pernikahan kami sah menurut hukum dan agama, Om Aries sudah menandatangi surat perwalian, bahkan dia juga hadir disana!" jelas Bagas mencoba meyakinkan Sisilia bahwa Moetia tidak bersalah.


"Kebahagiaan seseorang tidak bisa dipaksakan, kami saling mencintai. Aku sangat mencintai Moetia lebih dari diriku sendiri!" sambung Bagas.


Sisilia memijit kepalanya lagi, dia berfikir sejenak.


"Moetia, bawa suami masuk ke dalam. Carikan dia baju ganti, jika dia terus dalam keadaan basah kuyup begitu maka dia akan sakit!" seru Sisilia.


"Dan kamu Gio, istirahat lah di kamar tamu. Sepertinya hujannya tidak akan cepat reda!" serunya lalu meninggalkan mereka bertiga.


Moetia masih berdiri membelakangi Bagas, sedangkan Gio sudah mulai melangkahkan kakinya perlahan ke kamar tamu.


Hatinya hancur, tidak ada kata-kata yang dapat dia ucapakan.


Gio menutup pintu kamar dan menjatuhkan dirinya terduduk di lantai bersandar di balik pintu.


Gio mengusap wajahnya kasar.


"Sial, kenapa aku harus mendengar semua ini!" lirihnya pelan.


Sementara itu Bagas berusaha mendekati Moetia setelah Gio pergi.


"Moetia, yang kamu lihat di kantor itu.."


"Ikuti aku!" seru Moetia menyela Bagas.


Bagas mengikuti langkah kaki Moetia menuju ke kamar tamu lain. Dikamar itu terdapat beberapa pakaian pria, biasanya pakaian itu memang disiapkan oleh Sisilia jika ada penghuni rumah singgah yang baru datang dan tidak punya pakaian yang layak.


Moetia mengambilkan sebuah kemeja dan celana santai panjang dan dia meletakkan nya diatas kasur.


"Gantilah dengan ini, aku keluar!" serunya cuek.


Bagas menghentikan Moetia, dia menarik pergelangan tangan Moetia.


"Lepaskan!" teriak Moetia kesal sambil terus menghentak-hentakkan tangannya.

__ADS_1


"Dengarkan penjelasan ku dulu.."


"Jangan sentuh aku dengan tangan bekas menyentuh wanita lain, lepas!" teriak Moetia lagi sambil mendorong Bagas dengan kuat.


Bagas terdiam, dia melihat emosi yang begitu meluap-luap dari Moetia. Sebelumnya dia tidak pernah melihat Moetia seperti itu.


Moetia keluar dengan kesal dan membanting pintu kamar yang ada Bagas di dalamnya.


Brak!


Sisilia yang berada di kamar sebelah mereka bisa dengan jelas mendengarkan teriakan Moetia.


Dia baru tahu ternyata Moetia sedang cemburu pada suaminya itu


Moetia menenangkan dirinya di dekat jendela sambil memandangi rintikan hujan yang turun.


Dia mengusap dengan kasar pergelangan tangannya yang tadi di pegang oleh Bagas.


Entah kenapa dia sangat kesal dan merasa jijik saat Bagas menyentuhnya.


Sementara itu di rumah sakit, Calista dan ibunya segera pergi kerumah sakit setelah Calista jatuh di kantor Bagas tadi.


"Bagaimana dok! apa sudah ada perkembangan?" tanya Liana.


"Maaf sekali, tapi masih sama seperti Minggu lalu. Sebaiknya ibu Calista harus segera menjalani terapi khusus itu. Semakin cepat maka tingkat kemungkinan kesembuhannya pun semakin besar!" jelas dokter ahli yang menangani Calista.


Calista dan Liana saling pandang,


"Baiklah dok! terimakasih!" seru Liana.


Mereka berdua pun keluar dari ruangan itu. Liana menghentikan langkahnya dan duduk di kursi tunggu rumah sakit.


"Aku juga sedang berusaha Bu!" jawab Calista.


"Bagaimana reaksinya ketika melihat mu menderita begini?" tanya Liana.


"Sepertinya dia masih simpatik padaku, dia bahkan tidak menepis tanganku saat alu menggenggam tangannya! tapi sayang gara-gara sekertaris nya muncul, kesempatan ku merayu Bagas hilang begitu saja!" seru Calista.


"Sudahlah, tidak apa-apa. Kita masih bisa mencoba lagi lain kali. Sekarang kita pulang. Ibu sudah sangat lelah!" keluh Liana.


Calista dan Liana akhirnya meninggalkan rumah sakit. Sementara mereka tidak sadar bahwa anak buah Benjamin sudah mengawasi mereka sejak keluar dari kantor tadi.


Bagas juga merasa aneh, kenapa tiba-tiba Calista datang padanya. Hingga dia meminta agar Benjamin menyelidiki semuanya.


Suasana masih begitu tidak nyaman di rumah Sisilia.


Sisilia meminta agar Moetia memanggil Bagas dan Gio ke ruang makan, karena sekarang sudah waktunya makan siang.


Moetia mengetuk pintu kamar Gio.


"Gio, ayo kita makan siang bersama!" seru Moetia.


Gio membuka pintu,


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Gio.


Moetia sangat sedih, meskipun Gio sudah kena pukul tadi oleh Bagas. Gio tetap saja mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


"Jangan terlalu baik padaku Gio, aku sama sekali tidak pantas mendapatkan nya!" lirih Moetia menundukkan wajahnya.


"Kenapa bicara begitu?" tanya Gio.


Gio menggenggam tangan Moetia.


"Aku sahabatmu, sampai kapanpun aku akan selalu ada untukmu! ingat itu ya!" ucap Gio sambil tersenyum.


Moetia juga tersenyum.


"Terimakasih!" sahutnya.


"Dimana makanannya, aku sangat lapar!" kelakar Gio.


"Di ruang makan, pergilah dulu. Kak Sisilia sudah ada disana!" seru Moetia.


Moetia ragu untuk mengetuk kamar yang ada Bagas di dalamnya.


Dia hanya berteriak dari luar.


"Makanan sudah siap, datanglah ke ruang makan untuk bergabung!" seru Moetia dari luar pintu.


Bagas membuka pintu dengan cepat. Ketika melihat Bagas, Moetia memalingkan wajahnya.


"Kamu tidak suka dengan tangan ini karena telah disentuh oleh orang lain kan? aku akan menghukum tangan ini yang diam saja ketika wanita lain menyentuhnya!" seru Bagas.


Moetia menoleh, dia tidak mengerti apa maksud Bagas.


Tapi ketika Moetia menoleh, Bagas sudah meletakkan telapak tangan kanannya di sudut pintu. Bagas menutup pintu dengan kuat hingga pintu itu menjepit telapak tangannya.


Moetia membulatkan matanya tak percaya Bagas senekat itu.


"Bagas!" teriak Moetia.


Bukannya berhenti Bagas malah melakukan hal mengerikan itu hingga tiga kali hingga telapak tangannya terluka, lecet dan berlumuran darah.


Moetia segera menarik kedua tangan Bagas dan mendorongnya menjauh dari pintu.


"Kakak, kak Sisilia.." teriak Moetia.


Sisilia berlari, di ikuti oleh gio melihat kenapa Moetia berteriak.


Sampai di depan kamar, Sisilia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


Gio yang melihat ada darah menetes di lantai pun segera mencari asal dari benda itu.


Matanya tertuju pada tangan Bagas.


"Bagas! apa yang kamu lakukan?" tanya Gio tak percaya.


"Kakak, tolong ambil kotak obat. Cepat kak!" teriak Moetia panik.


Sisilia segera bergegas ke kamarnya mengambil kotak obat.


"Aku akan ambil es batu!" ucap Gio segera berlari ke dapur.


"Jangan menangis!" ucap Bagas membelai rambut Moetia dengan tangan kirinya.

__ADS_1


"Diam! apa kamu bodoh. Kenapa menyakiti dirimu sendiri?" kesal Moetia.


"Aku hanya ingin membagi rasa sakit yang dirasakan istriku!" ucap Bagas.


__ADS_2