Dilema

Dilema
Perjanjian Damai 2


__ADS_3

Bagas menarik kursinya mendekat ke Moetia,


"Maafkan aku! aku sungguh menyesalinya. Aku hanya tidak ingin kamu disentuh oleh orang lain!" jelas Bagas.


Moetia menghela nafasnya dan meletakkan tangannya di atas meja.


"Apa kamu kira aku akan membiarkan orang lain menyentuh ku?" tanya Moetia kesal


"Apa aku serendah itu di mata mu?" tanya nya lagi.


"Aku sadar aku salah, aku begitu terbawa suasana dan melupakan seharusnya aku tidak melampiaskan amarah ku padamu di kamar itu.."


Moetia kesal dan berdiri,


"Cukup Bagas!" Moetia sangat kesal karena Bagas mengingatkan nya kembali kejadian yang ingin dia lupakan.


Dari luar Belinda terlihat panik,


"Hah, kenapa Moetia terlihat marah! apa yang Bagas katakan?" tanya Belinda pada Chairul.


Chairul hanya diam, sementara Soraya terlihat cemas. Disisi lain dia juga tidak ingin masalah ini berlarut-larut. Dia masih memikirkan Manda yang tadi dia tinggalkan dirumah dalam keadaan yang tidak begitu baik.


Dan Aries, dia terlihat gelisah melihat putri tunggalnya sepertinya sangat marah pada Bagas.


Bagas mencoba meredakan amarah Moetia,


"Baik, maaf kan aku jika perkataan ku menyinggung mu! Moetia duduklah, semua sedang memperhatikan mu!" seru Bagas.


Moetia kembali duduk tapi sebelumnya dia menggeser kan kursinya menjauh dari Bagas.


"Aku tidak cemas terhadap tuntutan ini Moetia, hukuman di penjara tidak lebih buruk dari hukuman mu mengacuhkan aku seperti ini!" lirih Bagas.


Moetia menoleh padanya, hatinya merasa sedih saat Bagas meratap seperti ini.


"Baiklah, aku akan memaafkan mu. Asalkan kamu mau membatalkan perjanjian aku harus tinggal di apartemen mu!" ucap Moetia pelan.


Bagas menatap Moetia lagi, dia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan cepat.


"Apa ini alasanmu yang sebenarnya menuntut ku?" tanya Bagas yang berbalik menjadi kesal


Moetia juga menatap Bagas,


"Tuntutan ini bukan keinginan ku, tapi papa dan mama ku yang ingin membela harga diri putri mereka!" jelas Moetia.


Bagas berdiri,


"Kalau begitu lanjutkan saja tuntutan nya, setelah aku bebas dari penjara kamu harus tetap memenuhi perjanjian kita!" seru Bagas lalu meninggalkan Moetia.


Moetia memejamkan matanya, dia sangat kesal. Apakah memang dia tidak akan pernah menang jika berdebat dengan Bagas.


Melihat Bagas keluar terlebih dahulu, Belinda segera menghampiri nya.


"Bagaimana Bagas? apakah Moetia akan mencabut tuntutan nya padamu?" tanya Belinda.


Moetia juga ikut keluar dan menghampiri Soraya dan Aries.


"Jadi bagaimana Moetia, apakah kamu akan melanjutkan perkara ini ke jalur hukum? atau akan ada perjanjian damai?" tanya Bram

__ADS_1


Moetia terlihat bingung, Bagas malah maju dengan yakin.


"Teruskan saja ke jalur hukum!" seru Bagas.


Semua terlihat terkejut, kenapa justru Bagas yang minta dituntut.


Belinda sangat syock, dia sudah memegang dadanya.


Moetia melihat Belinda hampir terjatuh dan segera membantu memapahnya.


"Tante," lirih Moetia


Semua orang lalu menoleh ke Belinda,


"Kita bawa ke dokter, ibu mu mungkin terkena serangan jantung lagi!" seru Chairul pada Bagas.


Saat Bagas ingin mengangkat Belinda, dia menolaknya,


"Tidak Bagas, masalah disini belum selesai. Bagaimana bisa kita pergi!" sela Belinda.


Moetia terlihat sangat merasa bersalah,


"Tidak tante, Tante harus segera dibawa ke dokter. Masalah disini akan selesai. Aku dan Bagas akan berdamai!" seru Moetia.


Aries yang mendengar keputusan putrinya itu hanya bisa pasrah. Dia mengenal dengan baik putrinya itu. Moetia memang sangat berhati lembut. Melihat Belinda seperti itu, Aries tahu Moetia akan mengalah.


"Baiklah sekarang kita bawa dulu mbak Belinda ke rumah sakit. Biar Bagas dan Moetia yang melanjutkan prosedur disini bersama Bram dan Felix." tutur Aries.


Belinda tersenyum,


Chairul dan Bagas membawa Belinda ke mobil. Aries dan Soraya mengikuti dari belakang.


Setelah itu Moetia dan Bagas kembali ke ruangan Bram.


"Ini Moetia, tentukan syarat kamu dan tulis disini. Om akan menyiapkan berkas lain. Setelah selesai kamu bisa langsung panggil om, di ruangan sebelah." seru Bram.


Moetia mengangguk paham,


"Terimakasih om," jawab nya.


"Kenapa tidak melanjutkannya saja?" tanya Bagas datar


Moetia menoleh ke arah Bagas,


"Kenapa kamu ingin sekali masuk ke dalam penjara?" tanya Moetia balik.


"Sudah Bagas! jangan membuat Moetia kesal. Silahkan Moetia, tuliskan saja apa syarat mu, Mas Chairul berjanji akan memenuhi setiap poin yang kamu tulis nantinya!" seru Felix.


Moetia meletakkan pulpen yang dia pegang ke atas kertas yang ada diatas meja.


"Tidak ada om Felix, aku tidak mengajukan syarat apapun. Semakin cepat masalah ini selesai maka akan semakin baik untuk kesehatan Tante Belinda. Aku setuju berdamai, berikan dokumen yang harus aku tanda tangani om!" seru Moetia.


Felix tersenyum lalu ke ruangan Bram untuk mengambil dokumen,


"Kamu benar-benar tidak mengajukan syarat apapun?" tanya Bagas memastikan.


"Jika tidak bisa membatalkan perjanjian itu, apa aku boleh kembali ke Williams Corp?" tanya Moetia.

__ADS_1


"Sudah kubilang kan sebaiknya kamu lanjutkan saja tuntutan itu!" balas Bagas.


"Sudahlah, percuma juga kan aku mengajukan syarat. Terserah padamu saja!" kesal Moetia.


"Setelah ini bisakah kita makan siang bersama?" ajak Bagas


Moetia memutar bola matanya, dia mulai jengah.


"Ibumu sedang sakit, apa kamu sangat lapar sampai kamu melupakan hal itu?" tanya Moetia emosi.


"Ada ayah ku disana. Papa dan mama mu juga. Atau kita bisa pergi bersama kesana?" tanya Bagas lagi.


Moetia mengalihkan pandangannya ke tempat lain,


"Terserah!"


Bram dan Felix keluar membawa dokumen yang harus ditandatangani oleh Bagas dan Moetia.


Bram menepuk bahu Bagas,


"Bagas, aku akan memberi mu saran. Tidak akan kamu temukan wanita sebaik keponakan ku ini. Jika kamu menyakiti nya lagi. Tanpa Aries yang memintanya aku pasti akan menjebloskan mu ke dalam jeruji besi!" nasihat sekaligus ancaman Bram pada Bagas.


Bagas mengangguk,


"Baik om, jika aku menyakiti Moetia lagi. Maka aku yang akan datang sendiri kemari dan mengajukan tuntutan untukku sendiri!" seru Bagas.


Felix terlihat senang Bagas mengatakan hal itu,


"Bagus! ini suatu pembelajaran buat kamu Bagas. Lain kali berfikir lah sebelum bertindak, mengerti?" tanya Felix.


"Mengerti!" sahut Bagas dengan cepat.


"Moetia, om akan mengantar mu!" seru Bram.


"Tidak perlu om, biar Moetia aku yang antar. Kami akan ke rumah sakit melihat kondisi ibuku!" sela Bagas


"Benarkah itu Moetia?" tanya Bram.


Moetia hanya mengangguk,


"Baiklah, hati-hati kalian di jalan ya." seru Bram.


Bagas, Moetia dan Felix pergi ke tempat parkir.


Felix pergi terlebih dahulu dengan mobil tang lain.


Bagas membukakan pintu mobilnya untuk Moetia, tapi Moetia malah memilih membuka pintu kursi penumpang di belakang.


"Apa kamu pikir aku ini supir?" tanya Bagas kesal.


Moetia berdecak kesal dan masuk ke kursi penumpang bagian depan. Setelah Moetia duduk, Bagas menutup pintu lalu masuk dan duduk di kursi kemudi.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️...


...Terimakasih ❤️❤️❤️...


...Tinggalkan Jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2