
Warning, harap bijak membaca ya...
Di bawah umur skip aja oke πππ
Hai semuanya...
Apa kabar para pembaca dan sahabat author ku semua. Semoga kalian selalu diberi limpahan keberkahan dan kesehatan senantiasa setiap hari bahkan setiap detiknya.
Bab ini buat yang dibawah umur di skip aja ya, karena mengandung secuil adegan yang bikin aunty aja kembali merinding disco.
Semangat buat semuanya, selalu jaga kesehatan karen virus Corona itu nyata. Saling mengingatkan untuk patuh pada protokol kesehatan. Dirumah saja sambil baca novel Dilema.
Terimakasih, selamat membaca...
πΈπΈπΈ
Bagas mendorong Moetia ke dalam kamar mandi dan menutup pintu lalu menguncinya.
Moetia masih menundukkan wajahnya dan melipat tangannya di depan dadanya.
Sikap Moetia yang terus menghindarinya membuat Bagas merasa hatinya seperti tercubit.
Mungkin ini yang disebut sakit tapi tak berdarah.
Sadar jika Bagas memperhatikannya, Moetia menaikkan tangannya ke arah leher dan mencoba menutupi bekas gigitan Marvin.
Bagas menarik tangan Moetia dan memeluknya.
"Maafkan aku sayang, aku sudah membuatmu ketakutan!" sesal Bagas.
Moetia mencoba memberontak dan menjauh dari Bagas tapi dia tidak cukup kuat untuk melakukan itu.
"Lepaskan, aku tidak pantas lagi kamu sentuh!" Isak Moetia.
Air mata Bagas juga sudah menetes dari sudut matanya.
"Moetia, jangan seperti ini. Kamu adalah istriku, bagaimana mungkin kamu tidak pantas.."
"Lihat ini!" teriak Moetia menyela kalimat Bagas dan menunjukkan bekas gigitan di lehernya.
Mata Bagas melebar dan memerah, dalam hatinya Bagas sangat mengutuk perbuatan Marvin. Tapi Bagas berfikir lagi, jika saat ini dia emosi maka Moetia akan menganggap dirinya benar-benar tidak layak lagi.
Bagas menyentuh lembut luka di leher Moetia itu.
"Apa kamu menggosoknya dengan kuat? lehermu sampai tergores ini!" kata Bagas pelan.
"Aku merasa jijik pada diriku sendiri, pergilah Bagas! pergilah!" seru Moetia terisak dan jatuh bersimpuh di lantai.
Hati Bagas benar-benar hancur, Moetia begitu menyesali karena Marvin sudah menyentuhnya.
Bagas ikut bersimpuh di depan Moetia.
Tangannya perlahan menangkup lembut wajah Moetia dan mengarahkannya agar melihat Bagas.
Moetia masih menundukkan matanya, dia benar-benar tidak sanggup menatap Bagas. Dia benar-benar merasa sudah tidak pantas lagi.
__ADS_1
"Sayang, lihat aku..." pinta Bagas lembut.
Moetia menggelengkan kepalanya.
"Sayang, apa kamu sudah tidak mencintai aku lagi?" tanya Bagas lembut.
Moetia akhirnya menatap Bagas dan hatinya semakin sedih. Moetia terus menangis sambil menatap Bagas.
"Aku mencintaimu!" seru Bagas.
"Tidak ada yang lebih pantas dari mu, Moetia!" sambungnya lagi.
Moetia memejamkan matanya, air matanya masih deras mengalir.
"Dia menyentuh ku Bagas, aku mencium bau bajin*** itu di seluruh tubuh ku, dia bahkan mencium ku. Aku tidak akan memaafkannya Bagas! tidak akan pernah!" keluh Moetia menumpahkan kekesalan nya pada Marvin seiring dengan tumpahnya air matanya.
Bagas merasakan nyeri di hatinya, Marvin sudah membuat luka hati yang tak bisa terhapus begitu saja.
Bagas menempelkan keningnya dengan kening Moetia.
"Dia tidak akan pernah menyakitimu lagi, dia sudah pergi jauh. Aku akan selalu bersama mu! kamu percaya kan pada ku?" tanya Bagas lembut.
Moetia memejamkan matanya dan mengangguk perlahan. Bagas meraih dagu Moetia dan mendaratkan ciuman singkat di bibir Moetia.
Cup!
Moetia membuka matanya dan menatap Bagas.
Bagas menyeka air mata Moetia, dan menyentuh wajah Moetia dengan lembut.
Moetia yang masih memejamkan mata, karena tadi Bagas mencium kelopak matanya yang terpejam, menggidikkan bahunya sekilas merasa Bagas menyentuh area sensitif nya.
Moetia membuka matanya, dan melihat Bagas melepas tali bathrobe miliknya.
"Bagas!" lirih Moetia.
"Sayang, aku akan menghilangkan semua bau yang tidak kamu sukai di tubuh mu!" ucap Bagas dengan suara serak.
Mata Moetia membulat sempurna ketika Bagas benar-benar membuat bathrobe yang Moetia pakai melorot jatuh ke bawah.
Moetia menutupi area dadanya dengan kedua tangannya, sedangkan dia menyembunyikan area intinya dengan menutup rapat pahanya karena porsinya sedang duduk bersimpuh.
Bagas dengan tatapan matanya yang sudah berkabut, meraih kedua tangan Moetia dan mengalungkannya di lehernya.
Bagas mulai menyasar bibir merah Moetia dan menyesapnya dari atas kebawah bergantian. Moetia memejamkan matanya terbuai dengan kelembutan yang Bagas berikan.
Moetia mulai mendesah ketika tangan Bagas mulai nakal dan bermain dengan salah satu bukit di dadanya.
"Ah!" desah Moetia.
Menyadari suara yang keluar dari mulutnya, Moetia segera menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
Bagas tersenyum kecil dan menarik tangan Moetia yang membungkam mulutnya itu.
"Jangan di tutup, aku menyukai suara mu saat kamu..."
__ADS_1
Moetia menutup mulut Bagas agar tidak melanjutkan kata-katanya, Moetia sungguh merasa malu mendengar Bagas bicara seperti itu.
"Kita lakukan di kamar mu ya!" ajak Bagas.
Moetia kembali membulatkan matanya ketika tiba-tiba Bagas menggendongnya ala bridal style, dan membawanya ke luar dari kamar mandi.
Moetia mengalungkan tangannya ke leher Bagas dan sedikit menunduk. Meski bukan pertama kalinya bagi mereka berdua, tetapi tetap saja rasanya sangat membuat jantung Moetia berdetak kencang saat akan melakukannya.
Bagas merebahkan Moetia di kasurnya. Ketika Bagas akan mencium Moetia lagi,
"Em.. itu Bagas! pintunya belum di kunci!" ucap Moetia gugup.
Bagas tersenyum lagi, dia melepaskan Moetia dan berjalan dengan cepat ke arah pintu kamar Moetia lalu menguncinya.
Moetia menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Bagas berbalik setelah mengunci pintu, sambil berjalan mendekati Moetia dia membuka kancing kemejanya.
Moetia menggigit bibir bawahnya, dia merasa sangat gugup.
Bagas yang sudah polos pun masuk ke dalam selimut yang di pakai oleh Moetia.
Dan perlahan Bagas mulai memberikan tandanya di tubuh Moetia, dari atas ke bawah. Semuanya, seluruh bagian tubuh Moetia tidak luput dari kecupan dan tarian lincah lidah Bagas.
Suara desahan Moetia mulai terdengar, Moetia selalu berusaha menutup mulutnya dengan tangannya, tapi Bagas selalu melarangnya.
"Bagas! tapi.... Agh!" jerit kecil Moetia ketika Bagas berhasil menyatukan mereka.
Peluh membasahi seluruh tubuh keduanya, Moetia masih mengatur nafasnya ketika Bagas sudah selesai dan kemudian mengecup keningnya.
"Seandainya kita di apartemen, aku tidak hanya akan melakukannya satu kali sayang!" ucap Bagas pelan menggoda Moetia.
Moetia tidak menjawab, dia terlalu lelah.
"Baunya sudah hilang, jadi mulai sekarang jangan membenci dirimu sendiri lagi ya!" ucap Bagas mencium kening Moetia lagi.
Moetia sendiri merasa sangat beruntung, Bagas mencintai nya dengan tulus. Dia awalnya berfikir bahwa setelah tahu Marvin menyentuhnya Bagas akan merasa jijik padanya. Tapi ternyata Bagas bahkan begitu lembut dan hangat padanya.
"Bagas, maafkan aku karena kemarin aku menghindari mu!" sesal Moetia.
Bagas yang sedang memakai kembali pakaiannya menoleh dan tersenyum pada Moetia.
"Aku mengerti, jangan minta maaf sayang..."
"Moetia sayang, mama masuk ya!" teriak Soraya dari luar pintu.
Bagas dan Moetia saling pandang
"Mama!" seru Moetia melompat dari tempat tidurnya dan masuk ke kamar mandi.
Sementara Bagas memakai pakaiannya dengan cepat dan lompat ke luar jendela.
πΈπΈπΈ
Semuanya maafkan aunty ya jika masih banyak typo dan tidak sesuai dengan ekspektasi kalian.
Tapi percayalah, aunty sudah berusaha.
__ADS_1
Peace βοΈβοΈβοΈ