Dilema

Dilema
Menyerah lah!


__ADS_3

Setelah sampai di depan gerbang rumahnya, Moetia merasa bertambah aneh karena mendadak melihat begitu banyak orang yang hilir mudik dan banyak pedagang kaki lima yang tiba-tiba saja berdagang dekat rumah.


Karena selama ini biasanya tidak ada, rumah Moetia jaraknya cukup jauh dari rumah lain.


Moetia membayar taksi lalu turun bersama Manda.


"Dimana barang-barang mu?" tanya Manda yang baru menyadari bahwa Moetia tidak membawa kopernya pulang.


"Oh itu, Bagas bilang akan mengirimkannya ke rumah nanti!" jawab Moetia.


Manda lagi-lagi menghentikan langkahnya padahal Moetia sudah memegang handle pintu.


"Ada apa?" tanya Moetia menoleh ke belakang.


Manda menatap Moetia sedih.


"Kamu sangat beruntung Moetia, meski hanya masalah pekerjaan kamu bisa mengobrol dengan Bagas, sedangkan aku?" keluh Manda.


'Entah apa yang harus aku katakan padamu Manda, apakah aku harus mengatakan semuanya padamu' batin Moetia.


Manda lalu menghela nafasnya panjang,


"Sudahlah Moetia, ayo kita masuk!" seru Manda


Moetia membuka pintu dan masuk ke dalam bersama Manda.


Soraya yang melihat Moetia datang segera menghampiri dan memeluk Moetia.


"Sayang, mama sangat merindukanmu!" seru Soraya.


Moetia tersenyum dan memeluk lagi mamanya.


"Moetia juga sangat rindu pada mama!" sahut Moetia.


"Selamat datang sayang, Tante senang kamu baik-baik saja!" sapa Malika lalu merentangkan tangannya memeluk Moetia.


"Terimakasih Tante!" sahut Moetia.


Mereka lalu duduk bersama, Malika dan Soraya sangat penasaran dengan kisah penculikan yang menimpa Moetia.


Tapi Manda seperti nya sudah mulai bosan mendengar kisah temannya itu.


"Manda, permisi ke kamar dulu ya. Semuanya!" serunya lalu masuk ke kamarnya.


"Ada apa lagi dengan anak itu?" keluh Malika.


"Tante, sebenarnya tadi di rumah sakit..."


Moetia ragu untuk menceritakan bahwa Bagas telah mengacuhkan Manda sewaktu di rumah sakit.


"Bagas lagi ya?" tanya Malika menyela Moetia.


Moetia dengan cepat menganggukkan kepalanya.


Malika menghela nafasnya lalu memijit pelipisnya sendiri.


"Aku sudah lelah menasehatinya, seharusnya dia menyerah!" keluh Malika.


Moetia melihat Malika sedih, rasanya tidak tega. Karena bagaimanapun Moetia juga menyayangi ibu Manda itu.


Moetia mendekati Malika dan duduk di sebelahnya.


"Sabar ya Tante!" ucap Moetia tulus.

__ADS_1


Soraya hanya diam, dia sendiri sejak awal memang tidak menyukai Bagas. Jadi dia tidak ingin ikut campur ke dalam masalah ini lebih jauh.


"Sayang, kamu pasti lelah. Pergilah ke kamar mu dan beristirahat. Saat makan siang nanti mama akan membangunkan mu!" seru Soraya.


"Baiklah ma," sahut Moetia.


"Sayang dimana koper mu?" tanya Soraya yang menyadari anaknya tidak membawa koper.


"Bagas akan mengirimnya kemari ma, Moetia masuk ke kamar dulu ya ma!" ijinnya pada Soraya.


"Ya sayang!" sahut Soraya dengan senyuman merekah di wajahnya.


Moetia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sudah seminggu lebih ini dia rindukan.


"Home sweet home, ah senang sekali kembali ke rumah!" gumam Moetia.


Tiba-tiba Moetia mendengar ponselnya berdering. Moetia melihat suami tercintanya yang memanggil.


"Halo!" sapa Moetia.


"Sayang, sudah sampai di rumah?' tanya Bagas.


"Iya, sudah sampai. Kamu sendiri?" tanya Moetia.


"Sayang, aku masih di rumah sakit. Aku sangat merindukanmu!" seru Bagas.


Moetia tersipu.


"Benarkah?" tanyanya sedikit usil.


"Percayalah Moetia, aku sangat merindukanmu. Nanti malam aku ke kamar mu ya?" ijin Bagas pada Moetia.


"Ke kamar ku?" tanya Moetia mengulangi perkataan Bagas.


"Iya, aku pasti tidak disambut di rumahmu, tapi pasti aku akan disambut oleh istriku di kamarnya kan!" ucap Bagas mode mesum on.


"Kamu berteriak padaku, aku akan menghukum mu nanti malam" gertak Bagas.


"Bagas, bisakah jangan membuat ulah lagi, papa dan mama sedang sangat kecewa padamu. Aku mohon jangan membuat masalah lagi. Aku akan sangat sulit menjelaskannya pada mereka!" pinta Moetia.


"Aku akan meminta maaf pada mereka!" seru Bagas.


"Benarkah?" tanya Moetia ragu.


"Iya, tapi kalau aku ketahuan!" seru Bagas lalu memutus panggilan teleponnya.


"Bagas!" pekik Moetia lagi.


Tut! Tut! Tut!


Moetia kesal dan melemparkan ponselnya ke atas kasur.


"Menyebalkan!" gumam Moetia.


Sementara di rumah sakit, Bagas masih tertawa karena sudah berhasil mengerjai istri tercinta nya.


Belinda yang baru saja keluar ruangan melihat Bagas tertawa seperti itu sangat senang.


"Bagas!" panggil Belinda.


"Eh ibu, kenapa Bu? ibu mau kemana?" tanya Bagas.


"Ibu mau ke restoran, mau pesan makanan buat Reno. Dia tidak suka makanan rumah sakit!" jawab Belinda.

__ADS_1


"Manja sekali dia!" protes Bagas.


"Diam, jangan bicara begitu. Sesekali bersikaplah lembut pada Reno!" pinta Belinda.


"Ibu, bukankah ibu lebih tahu dari siapapun kalau Reno tidak ingin di kasihani atau di berikan sikap lembut seperti yang ibu bilang tadi!" bantah Bagas.


Belinda mengangguk paham,


"Tapi kamu perhatikan tidak, dia sangat suka Moetia bersikap lembut padanya!" seru Belinda.


Telinga Bagas mendadak panas mendengar ucapan Belinda.


"Jangan berfikir menjodohkan Moetia dengan Reno, Bu!" seru Bagas.


Belinda terkejut.


"Kenapa?" tanya Belinda.


"Reno sudah punya pacar!" jawab Bagas spontan.


Belinda sangat terkejut bahkan membulatkan matanya.


"Benarkah, siapa dia?" tanya Belinda.


"Ibu tahu Vivian, sekertaris Reno. Mereka sudah lama berpacaran. Hanya tidak ingin orang-orang tahu, supaya tidak terjadi kehebohan di kantor!" karang Bagas seadanya karena tidak ingin Belinda meneruskan rencananya menjodohkan Moetia dan Reno.


'Enak saja, Moetia itu istriku. Tidak akan aku biarkan ibu memikirkan hal aneh itu padanya!' batin Bagas.


Belinda pun tersenyum senang.


"Tidak masalah, Vivian juga sangat manis. Apalagi maminya adalah teman arisan ibu. Kami akan bertemu besok lusa, bolehkah ibu memberitahukannya pada mami Vivian?" tanya Belinda antusias.


"Sebaiknya jangan Bu, jangan ikut campur. Nanti Reno marah pada ibu, bagaimana?" gertak Bagas.


Belinda diam dan berfikir sejenak.


"Benar juga, apalagi dia masih sakit. Baiklah ibu akan bersabar sampai Reno mau mengakuinya sendiri. Oh ya, nanti malam ibu mengundang Manda makan malam bersama, kamu harus ikut ya! jangan kabur lagi!" perintah Belinda.


"Jika aku tidak sibuk ya!" jawab Bagas santai.


Belinda hanya menggeleng kan kepalanya berkali-kali,


"Sudahlah, ibu mau ke restoran dulu!" seru ya kesal pada Bagas.


Sementara itu di kamarnya, Manda sedang mencoba beberapa gaun yang akan dia pakai untuk datang ke acara makan malam bersama dengan keluarga Bagas.


"Sedang apa sayang?" tanya Malika ketika masuk ke kamar Manda.


"Bu, Manda sedang mencoba gaun. Menurut ibu, mana yang lebih cocok untuk menghadiri makan malam dengan Bagas?" tanya Manda pada Malika.


Malika menunjuk gaun berwarna biru tua yang diletakkan di atas kasur.


"Yang ini bagus dan sopan. Oh ya nak, boleh ibu tanya?" tanya Malika.


Manda mengangguk dengan cepat.


"Apakah mbak Belinda atau Bagas yang mengundangmu?" tanya Malika merasa khawatir.


"Apa bedanya Bu!" bantah Manda.


"Sayang, menyerah lah. Bagas tidak mencintai mu!" lirih Malika.


...❤️❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...


...Think u ❤️❤️❤️...


__ADS_2