Dilema

Dilema
Marvin Yang Keji


__ADS_3

Marvin tidak main-main dengan ucapannya, sedari tadi dia berusaha untuk makin dekat dengan moetia.


Marvin meraih kepala Moetia dan mencoba mencium Moetia tapi sekuat tenaga Moetia mendorong wajah Marvin dengan kedua tangannya.


Moetia menggigit tangan Marvin yang mulai tidak waspada.


"Moetia!" pekik Marvin.


Karena gigitan di telapak tangan nya Marvin melepaskan Moetia. Marvin mengibaskan tangannya ke udara beberapa kali.


"Berani-beraninya kamu menggigit tangan ku Moetia!" kesal Marvin.


Moetia melangkah mundur menjauh dari Marvin.


"Aku sudah bilang, jangan menyentuhku!" teriak Moetia.


Mata Marvin memerah, dia benar-benar sudah sangat terbawa suasana.


"Aku akan memberi mu pelajaran!" teriak Marvin sebelum kembali mendekati Moetia.


Moetia berusaha melarikan diri sebelum Marvin kembali mendapatkan nya. Moetia berlari memutari sebuah meja dan melemparkan beberapa barang yang ada di atas meja ke arah Marvin. Tetapi Marvin selalu bisa mengelak dari lemparan Moetia.


Moetia menuju kearah pintu dan berusaha membuka pintu itu. Tapi sebelum bisa membukanya Marvin sudah berhasil menarik pinggang Moetia hingga Moetia menubruk tubuh Marvin.


Marvin memeluk Moetia dari belakang dengan sangat kencang, satu tangannya memeluk erat pinggang dan tangan Moetia, satu tangan lagi dia letakkan di leher Moetia.


Moetia sudah merasa sesak, dia sudah kehabisan tenaga.


"Kamu tidak boleh menyentuhku!" teriak Moetia disela usaha lepas dari dekapan Marvin.


Marvin justru makin terobsesi padanya, Marvin menempelkan pipinya pada pipi Moetia.


Moetia merasa merinding saat Marvin melakukan hal itu. Sebisanya dia berusaha untuk memalingkan wajahnya dari Marvin.


"Aku mohon jangan lakukan ini!" ucap Moetia lemah.


Moetia masih terus berusaha memberontak dengan sisa kekuatan yang masih dia miliki. Dia menginjak keras kaki Marvin. Setelah Marvin melonggarkan dekapannya tapi dia kembali mendorong Moetia hingga terjatuh ke atas tempat tidur.


"Kamu tidak boleh menyentuh ku Marvin, aku ini istri orang!" teriak Moetia dengan nafas yang sudah ngos-ngosan karena berusaha keras menghindari Marvin.


Marvin tercengang, dia berhenti dan terpaku di tempatnya.


"Apa katamu?" tanya Marvin masih tidak percaya.


Moetia menarik nafas dalam-dalam, karena setelah mengatakan hal ini, mungkin saja Marvin akan memakai alasan itu untuk mengancam Moetia selanjutnya.

__ADS_1


Tapi jika tidak mengatakannya pada Marvin bahwa dia sudah menikah dengan Bagas mungkin juga Marvin tidak akan melepaskannya sekarang.


Meskipun berada dalam dilema, Moetia memilih menjaga dirinya untuk saat ini. Karena pasti tidak akan ada yang bisa membantunya lolos saat ini.


"Aku sudah menikah, satu bulan yang lalu di Singapura dengan bagas!" jelas Moetia kembali mengatur nafasnya.


"Jadi aku mohon padamu, lepaskan aku. Kamu punya segalanya Marvin. Tidak akan sulit bagimu menemukan wanita lain." jelas Moetia.


Di luar dugaan Moetia yang mengira Marvin akan melepaskannya jika dia mengatakan bahwa dia sudah menikah dengan Bagas. Marvin malah membuka kemeja yang dia pakai lalu melemparkannya ke sembarang arah.


Moetia menggeleng kan kepalanya berkali-kali sambil mundur menjauh dari Marvin.


Marvin ikut merangkak ke atas tempat tidur dan mencengkram kuat kedua lengan.


Moetia benar-benar sangat takut.


'Bagas, tolong aku!' jerit Moetia dalam hati.


Marvin benar-benar sudah tidak waras, dia bahkan tidak segan menyentuh istri orang lain.


"Aku akan sangat membenci mu, jika kamu melakukan ini Marvin!" gertak Moetia sambil terisak.


Tenaganya benar-benar sudah habis melawan Marvin selama hampir setengah jam.


Moetia mulai lemah, tapi dia masih terus mengelak saat Marvin akan menciumnya.


Moetia masih terus berusaha menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri menghindari Marvin. Tapi akhirnya percuma, Marvin berhasil juga mendaratkan bibirnya ke bibir merah muda Moetia.


Moetia tetap berusaha menutup rapat bibirnya tapi Marvin justru berpindah ke leher Moetia. Marvin mengecup leher Moetia perlahan.


"Tidak... Argh!" pekik Moetia ketika Marvin menggigit lehernya.


Sepertinya Marvin memang sengaja melakukan itu, dia meninggalkan jejak nya disana.


Moetia bisa merasakan nafas Marvin mulai memanas, dia benar-benar sangat takut. Tapi bahkan kakinya tidak bisa bergerak karena Marvin menekan nya dengan kuat.


'Bagas, maafkan aku!' batin Moetia.


Moetia memejamkan matanya, dia sudah tak punya tenaga lagi untuk melawan.


Brakk!


Pintu kamar itu di dobrak oleh seseorang, Marvin menoleh dan melihat Carlos berdiri di ujung pintu sambil menendang sisa pintu yang dia dobrak.


Eduardo segera masuk dan menarik Marvin dengan kuat.

__ADS_1


Plakk!


Eduardo menampar Marvin dengan kencang. Sementara Moetia beringsut ke ujung tempat tidur sambil melipat lututnya dan memeluknya dengan kuat, tangannya gemetar dan air matanya tidak berhenti mengalir.


"Dasar anak kurang ajar!" teriak Edo.


"Kamu bilang kamu mencintai wanita ini, lihat dia!" teriak Edo lagi.


Marvin menoleh dan melihat Moetia yang sedang sangat ketakutan dan menangis terisak.


Marvin baru menyadari, dia telah menyakiti Moetia.


"Moetia," panggil Marvin menyesali perbuatannya.


Ketika Marvin akan mendekatinya, Moetia menjadi histeris dan menjerit.


"Pergi, jangan sentuh aku. Jangan menyentuh ku!" jeritnya sambil sesenggukan dan menggeleng kan kepalanya berkali-kali.


Eduardo meminta Carlos menghubungi Chairul, sepertinya selain Bagas atau orang tuanya Moetia tidak ingin orang lain mendekatinya.


Eduardo menarik Marvin keluar dari kamar itu, di luar kamar Edo memukul Marvin dengan tongkatnya.


"Tuan..." sela Syarif.


"Kau juga Syarif, kenapa kau biarkan Marvin melakukan hal memalukan seperti itu. Lihat wanita itu, apa kau juga tidak kasihan padanya. Bayangkan jika dia putrimu Syarif!" teriak Edo.


Edo sangat kesal hingga merasa tangannya gemetar, Carlos mendekatkan sebuah kursi pada Edo.


"Marvin, kau harus ikut Daddy pulang. Jika tidak tuan Chairul pasti tidak akan melepaskan mu!" serunya sambil memijit pelipisnya sendiri.


"Aku tidak tahu, bagian mana aku salah mendidik mu!" kesal Edo pada Marvin yang masih tersungkur di lantai karena pukulan-pukulan Edo.


Edo menghela nafasnya panjang,


"Carlos, bawa Marvin pergi dari sini, pastikan besok dia sudah berada di Singapura. Dan kau Syarif, cari pelayan wanita untuk menemani menantu tuan Chairul si dalam. Pastikan menantu tuan Chairul itu tidak menyakiti dirinya sendiri." perintah Edo.


Hampir satu jam lebih setelah Carlos menelpon Chairul. Bagas, Chairul dan Reno sampai ke tempat itu.


Bagas segera turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam penginapan, dia melihat ke arah Eduardo.


"Dimana Moetia?" tanya Bagas cepat.


"Dia di dalam!" jawab Edo sambil menunjuk ruangan di sebelah nya yang pintunya sudah porak-poranda.


Bagas segera masuk dan betapa terkejutnya melihat kondisi Moetia yang masih beringsut di ujung tempat tidur dan masih menangis.

__ADS_1


"Moetia!" lirih Bagas.


__ADS_2