
Moetia segera berdiri dan menyapa Chairul,
"Siang om," sapa Moetia dengan sopan
"Duduklah, tidak perlu formal seperti itu. Kita makan siang dulu ya, nanti baru kita bicara lagi!" seru Chairul.
Mereka bertiga memulai makan siang mereka. Moetia mulai makan setelah Chairul dan Irene makan.
Tidak ada yang berbicara selagi makan, Moetia hanya sesekali melirik ke arah Chairul dan Irene yang terlihat makan dengan tenang.
Sementara dirinya masih bingung memikirkan apa yang ingin Chairul katakan.
'Apa om Chairul sudah tahu tentang aku dan Bagas? ' batinnya sambil melirik Chairul sekilas lagi.
'Atau jangan-jangan dia akan marah padaku dan memintaku menjauhi Bagas, dia akan memberiku cek kosong dan menyuruh ku mengisinya sendiri asal aku putus dengan Bagas!' batin Moetia lagi
Moetia meletakkan sendok nya,
"Maaf aku sudah selesai, Om aku permisi sebentar ya!" ucap nya sopan meminta ijin pada Chairul.
Chairul hanya mengangguk pertanda dia mengijinkan Moetia pergi.
Moetia pergi ke toilet, dia membasuh wajahnya berusaha mendinginkan otaknya yang sejak tadi sudah berfikir yang aneh-aneh.
"Ayolah Moetia, tidak mungkin om Chairul melakukan itu di depan kak Irene kan. Tenanglah, pasti hanya urusan pekerjaan." gumamnya di depan cermin.
Tapi lagi-lagi Moetia menggelengkan kepalanya berkali-kali,
"Tidak, tidak. Bagaimana kalau kak Irene hanya alasan. Sebenarnya mereka berdua sudah tahu, astaga Bagas, dimana kamu saat situasi rumit begini?" kesal Moetia yang makin cemas.
Moetia menghirup nafas lalu mengeluarkan nya perlahan.
"Sudahlah, sudah di depan mata. Hadapi saja! ayo Moetia kamu pasti bisa!" seru Moetia menyemangati dirinya sendiri.
Saat Moetia kembali ke meja mereka, mejanya sudah di bereskan dan hanya ada tiga cangkir minuman saja.
'Berapa lama aku pergi?' tanya Moetia dalam hati
Moetia kembali duduk di kursinya tadi, dan Irene pun segera bertanya padanya,
"Apa kamu baik-baik saja Moetia?" tanya Irene
Moetia mengangguk,
"Iya kak, aku baik-baik saja!" jawab Moetia gugup.
Chairul terlihat tersenyum tipis,
"Jangan gugup Moetia, kami tidak datang untuk menginterogasi mu!" seru Chairul.
Ucapan Chairul itu justru membuat Moetia makin gugup,
"Kenapa harus menginterogasi Moetia?" tanya Irene
__ADS_1
Moetia segera menggelengkan kepalanya dengan cepat,
"Tidak, kak Irene. Oh ya sebenarnya ada apa kak Irene memintaku kemari?" tanya Moetia
"Sebenarnya begini Moetia, besok seharusnya aku pergi ke Singapura bersama Bagas. Tapi aku ada kepentingan yang sangat mendesak, dan visa ku juga bermasalah." jelas Irene
Moetia sudah menangkap maksud dari Irene dan Chairul tapi dia ingin lebih jelas.
"Jadi?" tanya Moetia
"Jadi kamu lah yang harus pergi bersama Bagas Moetia!" sahut Chairul.
Moetia menelan saliva nya dengan susah payah.
"Tapi aku bukan karyawan dari Wiguna grup om, aku juga tidak mengerti..."
"Bagas akan mengurus segalanya, kamu hanya harus menemaninya saja!" sela Chairul
'Itulah masalahnya, menemani Bagas di tempat yang jauh. Dan hanya berdua, bisa selesai aku!' batin Moetia mengeluh.
Irene terlihat menyerah kan beberapa dokumen pada Moetia,
"Ini visa lalu tiket pesawat nya, juga akomodasi untuk mu disana selama satu minggu!" jelas Irene.
"Satu minggu!" pekik Moetia
Chairul tidak heran dengan reaksi Moetia, dia malah akan terkejut jika Moetia senang.
"Tenang saja Moetia, kalian tidak hanya berdua. Reno akan ikut dengan kalian." seru Chairul.
"Baiklah om, kak Irene." ucap Moetia pasrah dan mengambil dokumen yang di berikan Moetia.
"Irene, bisa tinggalkan kami!" seru Chairul.
"Baik pak, " jawab Irene dengan cepat lalu pergi meninggalkan Chairul dengan Moetia.
'Kenapa kak Irene disuruh pergi?' tanya Moetia dalam hati yang kembali cemas
"Om sudah tahu tentang hubungan mu dengan Bagas!" seru Chairul
Jeger!
Moetia benar-benar kaget, yang dia takutkan ternyata benar. Lalu apakah selanjutnya adalah adegan pemberian cek dan maki-maki seperti yang sudah dia pikirkan tadi.
Mulut Moetia bahkan mengatup sempurna dan tak bisa berkata-kata.
"Terkejut?" tanya Chairul santai.
Moetia hanya mengangguk perlahan,
"Lalu apa yang ingin kamu katakan mengenai hal ini?" tanya Chairul memancing reaksi dari Moetia.
Moetia menggenggam tangan nya sendiri dan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Aku mencintai Bagas om!" jawab Moetia yakin lalu mengangkat wajahnya.
"Aku minta maaf atas kekeliruan ku ini, aku tahu tak seharusnya aku berhubungan dengan seseorang yang sudah bertunangan. Tapi aku dan Bagas sudah menjalin hubungan sebelum Bagas bertunangan dan sebelum aku tahu bahwa Manda juga mencintai Bagas!" ucap Moetia semakin pelan.
"Kamu mencintai Bagas?" tanya Chairul.
Moetia mengangguk dengan cepat,
"Iya om, aku mencintai nya." lirih Moetia.
"Bagaimana caramu menyelesaikan masalah ini? Bagas sudah bertunangan dan kamu juga tahu setelah bertunangan maka akan ada pernikahan. Apa yang akan kamu dan Bagas lakukan jika itu sampai terjadi?" tanya Chairul.
Moetia merasa dilematis, dia ingin egois dan menjawab bahwa dia akan tetap bersama Bagas apapun yang terjadi.
Tapi satu sisi ada Manda sahabatnya, bagaimana bisa dia bahagia diatas penderitaan Manda.
Tapi jika memaksa Bagas menikah dengan Manda, maka Bagas yang akan terluka. Dia akan membuat Bagas dan Manda tidak bahagia.
Moetia hanya bisa diam dan kembali menundukkan wajahnya,
"Moetia dengar, om tahu kesulitan kamu dan Bagas. Kamu yang harus merelakan cintamu demi sahabat mu dan hutang budi keluargamu, Bagas juga yang harus menuruti ibunya karena janji ibunya pada keluarga Manda. Om tahu situasi ini tidak mudah, tapi om juga ingin kebahagiaan kalian, om ingin Bagas bahagia." jelas Chairul.
Moetia mengangkat kepalanya dan memandang Chairul dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Moetia tidak menyangka Chairul sungguh pengertian dan tidak memarahi atau memakinya seperti pikiran nya tadi.
"Apa kamu sudah dengar cerita tentang Bagas dua tahun lalu?" tanya Chairul.
Moetia mengangguk lagi,
"Saat itu om merasa menjadi seorang ayah yang gagal, meskipun punya segalanya tapi Bagas malah sangat menderita. Belinda dan Roni juga ikut terkena dampaknya, hingga beberapa bulan ini om merasa sikap Bagas sudah sangat berbeda, om tidak menyangka semua itu karena kamu!" seru Chairul.
"Kondisi ibu Bagas sedang tidak baik, tapi om juga tidak mau karena alasan itu Bagas harus tersiksa karena harus berpura-pura mesra dengan Manda. Om tidak mau Bagas menderita lagi seperti dulu." jelas Chairul
Moetia masih memperhatikan dan menyimak dengan baik kata-kata Chairul.
"Jadi Moetia, selama masa pemulihan ibunya Bagas. Om sengaja mengirim kalian berdua ke luar negeri, om tahu seperti apa Bagas. Tapi dari yang om lihat, dia sangat posesif terhadap mu ya?" tanya Chairul.
Blush!
Wajah Moetia merona, dia hanya tersenyum tipis menanggapi pertanyaan Chairul.
Chairul terkekeh pelan,
"Baiklah, kamu bisa kembali ke kantor dan menyampaikan kabar baik ini pada Bagas!" seru Chairul.
Moetia mengangguk lalu berdiri,
"Iya om, permisi!" ucap Moetia dan di balas anggukan oleh Chairul.
Sampai di dalam mobil, Moetia menutup wajah nya sendiri dengan kedua tangannya.
"Astaga, seperti apa wajah ku tadi?" gerutunya merasa malu.
...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...
__ADS_1
...**Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🙏🌟🙏...
...Terimakasih ❤️❤️❤️**...