Dilema

Dilema
Penolakan Aries


__ADS_3

Keesokan paginya, Bagas terbangun lebih dahulu daripada Moetia. Dia bangun perlahan dan turun dari tempat tidur sambil mengendap-endap tak ingin membuat Moetia terbangun.


Sebelum masuk ke dalam kamar mandi dia tersenyum melihat istrinya yang sedang tertidur pulas itu.


Beberapa menit kemudian Bagas sudah mandi dan berganti pakaian.


Dia melihat Moetia masih tertidur, mungkin karena pengaruh obat yang di berikan kepadanya.


Bagas kemudian meraih ponselnya di atas meja lalu keluar dari kamarnya.


Bagas membuat secangkir teh hangat lalu meletakkan nya di meja makan. Dia duduk dan menghubungi Reno.


Bagas berniat meminta Reno membelikan bubur ayam untuk Moetia, karena dari kemarin siang dia belum makan.


Asupan nutrisi dan tenaga hanya dia dapatkan dari satu setengah botol infus yang diberikan oleh dokter kemarin.


"Halo Bagas, apa Moetia sudah membaik?" sapa Reno yang langsung bertanya pada Bagas tentang keadaan Moetia.


Bagas menghela nafasnya dalam.


"Kamu begitu khawatir tentang Moetia, jangan bilang sekarang kamu bahkan sudah berada di depan pintu apartemen ku?" tanya Bagas.


"Sebenarnya sudah dari lima belas menit yang lalu aku berada di depan apartemen mu, bisakah cepat bukakan pintunya bos. Bubur yang aku bawa sudah akan dingin!" jawab Reno.


Bagas menutup panggilan teleponnya, dia mengusap wajahnya perlahan.


"Astaga, dia bahkan sudah membawa bubur, kenapa dia selalu selangkah di depan ku kalau urusan begini!" gerutu Bagas sambil berjalan ke arah pintu.


Bagas membukakan pintu, dan Reno langsung tersenyum sambil menunjukkan bungkusan bubur ayam yang dibawanya.


"Tiga bungkus, untuk kita bertiga. Kamu pasti juga belum makan kan?" tanya Reno.


Bagas hanya menaikkan alisnya sekilas lalu berbalik menuju meja makan.


"Dia masih tidur, mungkin efek obatnya!" seru Bagas yang langsung duduk dan meminum teh nya.


Sikap Bagas pada Reno. memang selalu seperti itu, cuek dan santai. Bukan karena Bagas menganggap dirinya bos Reno jadi dia memperlakukan Reno semena-mena.


Tapi karena Bagas sangat mengenal Reno, dan dia tahu Reno tidak pernah suka diperlakukan dengan berbeda, dia tidak suka di kasihani. Masa lalu Reno membuatnya tidak ingin ada yang terlalu baik padanya.

__ADS_1


Reno mengikuti Bagas menuju dapur. Dia mengeluarkan dua mangkuk plastik bubur ayam dari bungkusannya lalu menyodorkan salah satunya ke depan Bagas.


"Itu tidak pedas!" seru Reno.


Reno juga duduk dan membuka buburnya. Dia mulai menyendok kan suapan pertama ke mulutnya.


"Bagaimana?" tanya Reno pada Bagas.


"Kamu lihat aku belum makan kan! mana aku tahu rasanya bagaimana?" jawab Bagas dengan nada ketus.


"Bukan buburnya, bagaimana kondisi Moetia dan apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" tanya Reno lagi menjelaskan maksudnya.


"Entahlah, mungkin aku akan ambil cuti beberapa hari dan menemaninya dulu di sini, ingat untuk tidak mengatakan kepada siapapun termasuk ayah dan ibu ku alamat apartemen ini!" seru Bagas.


"Aku tahu, tapi kemarin malam aku sudah menemui om Chairul. Maafkan aku, aku tidak bermaksud ikut campur terlalu dalam tapi menurutku jika orang tua bertemu dan bicara dengan orang tua, mungkin akan lebih mudah. Mereka lebih bijaksana, sama-sama berpengalaman, dan cara menyampaikan penjelasan pasti lebih bisa dimengerti daripada yang masih muda seperti kita!" jelas Reno.


Bagas terdiam, dia meletakkan sendok di mangkuknya.


"Apa kamu tahu Reno, terkadang aku yakin kamu lebih muda dariku!" seru Bagas.


Reno malah terkekeh pelan.


Bagas spontan melemparkan tutup mangkuk buburnya pada Reno.


"Sial** jaga bicaramu. Kamu tidak lihat aku dan ayah sama-sama tampan!" bantah Bagas.


Reno tidak membalas dan hanya tersenyum sekilas lalu menghabiskan sarapannya.


Setelah selesai sarapan Bagas dan Reno masuk kedalam kamar Moetia. Dan ternyata dia masih tertidur.


Reno memutuskan untuk kembali ke kantor. Dan Bagas mengambil cuti beberapa hari untuk merawat dan menemani Moetia.


Di tempat lain, di rumah sakit dimana Manda dirawat. Soraya dan Malika sedang bersiap-siap untuk membawa Manda pulang. Karena kondisinya juga sudah membaik.


Manda mengadukan apa yang terjadi kemarin malam, saat Reno datang menemuinya. Malika hanya bisa diam dan menghela nafasnya panjang tidak habis pikir kenapa Manda malah mengadu pada Soraya.


"Dia bahkan mengatakan aku tidak tahu malu karena hanya menumpang hidup pada om dan Tante!" adu Manda.


Soraya mengelus kepala Manda dengan lembut.

__ADS_1


"Sudahlah, jangan di pikirkan. Dia juga tidak ada urusannya dengan kita!" sahut Soraya berusaha tetap tenang dan tersenyum.


Sebenarnya hatinya sedang tidak baik-baik saja, Soraya sedang sangat sedih. Biasanya sehari saja dia tidak mendengar suara Moetia dia akan panik menghubunginya.


Itulah yang saat ini Soraya rasakan, dia sangat merindukan dan mencemaskan putri tunggalnya itu.


"Tante.." panggil Manda sambil menepuk punggung tangan Soraya karena Soraya tak juga merespon ucapan Manda.


"Manda, jangan bicara seperti itu pada Tante mu!" tegur Malika yang mendengar Manda memanggil Soraya dengan suara meninggi.


Soraya hanya tersenyum pada Malika. Mereka lalu pulang ke rumah keluarga Aries.


Sampai di depan gerbang, Soraya sedikit terkejut melihat mobil Aris dan satu mobil lain yang tidak dia kenal ada di halaman rumahnya.


"Om tidak ke kantor Tante?" tanya Manda yang baru turun dari mobil di papah oleh Malika.


"Tadi pagi om mu sudah berpamitan akan ke kantor, mungkin saja ada yang ketinggalan. Ayo kita masuk, pelan pelan ya jalannya!" seru Soraya sambil membantu ikut memapah Manda.


Lebih terkejut lagi ketika Manda, Malika, dan Soraya masuk ke dalam rumah. Dia melihat ada Chairul dan Bastian sedang duduk di sofa bersama dengan Aries.


"Selamat pagi!" sapa Soraya ramah sambil tersenyum dan sedikit menundukkan kepalanya sekilas pada Aries dan Chairul.


"Selamat pagi!" sahut Chairul.


Aries bangun dan memanggil Soraya agar ikut bergabung dengan mereka.


"Soraya kemari lah, mas Chairul ingin bicara pada kita!" seru Aries datar raut wajahnya menunjukkan ketidaksukaan jelas sekali terlihat.


Manda ikut berjalan mendekat, tapi Benjamin berdiri dan menghalanginya.


"Maaf, tuan hanya ingin bicara dengan tuan dan nyonya Mahendra. Kalian berdua silahkan.." seru Benjamin tegas sambil mempersilahkan Malika dan Manda ke ruangan lain.


Manda sangat penasaran apa yang akan di katakan Chairul pada om dan tantenya itu yang juga adalah papa dan mama Moetia.


Chairul kembali berdehem.


"Hem, aku rasa kalian sudah tahu apa yang akan aku jelaskan pada kalian. Anak-anak kita..."


"Tidak ada kata anak-anak kita mas Chairul, aku bersedia pulang dan menemui mu karena aku ingin Bagas dan Moetia berpisah!" tegas Aries.

__ADS_1


__ADS_2