
Setelah Manda pergi, Bagas kembali memelototi Theo.
"Apalagi salahku?" tanya Theo dengan wajah memelas.
Austin hanya menggeleng kan kepalanya berkali-kali melihat Bagas dan Theo yang selalu membuatnya harus ikut dalam masalah mereka.
"Kamu menyebutkan alamat apartemen ku pada semua orang, masih bertanya apa salahmu?" kesal Bagas.
Theo duduk di sofa dan mengeluarkan rokok dari kantong celananya.
"Aku sedang membantumu, bukankah kamu meminta Moetia tinggal bersamamu? sudah kutemukan caranya bukan?" balas Theo.
Austin ikut duduk di sebelah Theo,
"Dia benar, dan kamu cukup mengganti nama kepemilikan apartemen itu. Anggap saja permintaan maaf mu pada Moetia." seru Austin.
Bagas diam sejenak,
"Baiklah, tolong urus surat-surat nya ya!" pinta Bagas pada Austin.
Austin menegakkan punggung nya yang tadinya bersandar di sandaran sofa,
"Aku lagi?" tanya Austin.
Theo menepuk bahu Austin,
"Tentu saja, memangnya siapa lagi yang bisa mengurus segalanya dengan baik!" sahut Theo.
Austin menepis tangan Theo, lalu memukul lengannya,
Plak!
"Aku sepertinya sudah salah memilih teman!" seru Austin sambil memegang kepalanya.
"Jangan bersyukur seperti itu!" seru Theo tanpa dosa
Austin lagi-lagi memukul lengan Theo.
"Diam! dasar pembuat masalah!" kesal Austin.
Sementara itu, Reno sudah mengantarkan Manda sampai di depan rumah Moetia.
"Terimakasih Reno!" ucap Manda sebelum turun dari mobil.
Sementara Reno hanya mengangguk sekali. Setelah Manda turun Reno segera pergi meninggalkan rumah Moetia.
"Apa-apaan dia itu, sepanjang jalan bahkan satu kata pun tidak keluar dari mulutnya" gumam Manda berdecak kesal
Manda masuk ke dalam rumah, dia tidak melihat siapapun, dan dia kembali ke kamarnya.
"Sore Bu, Manda pulang!" seru Manda masuk ke kamarnya dan melihat Malika sedang merapikan pakaian di lemari.
"Sore sayang, ada apa?" tanya Soraya melihat wajah Manda yang terlihat tidak senang.
"Apa ibu lihat konferensi pers di televisi tadi?" tanya Manda lalu duduk di tepi kasurnya.
Malika ikut duduk di sebelah Manda,
"Iya, tadi ibu lihat bersama Tante Soraya dan om Aries, mereka bahkan sekarang pergi ke kantor Om Bram. Bagas benar-benar membuat masalah!" seru Malika.
"Apa om Aries mengatakan sesuatu?" tanya Manda.
"Iya, Om kamu itu bilang akan menuntut Bagas ke jalur hukum!" seru Malika cemas.
__ADS_1
Manda berdiri karena terkejut,
"Kenapa ibu tidak mencegahnya?" tanya Manda
Malika ikut bangun,
"Manda, yang Bagas lakukan itu memang salah. Moetia adalah putri rumah kita. Kita tidak bisa membiarkan seseorang berbuat seenaknya padanya, walaupun itu Bagas!" jelas Malika.
Manda menggeleng kan kepalanya berkali-kali,
"Tidak bu, tidak boleh. Bagas tidak boleh di tuntut. Bagaimana kalau sampai dia di penjara. Aku akan menemui Moetia dan memintanya untuk membujuk Om Aries." seru Manda.
Saat Manda akan pergi, Malika menahannya.
"Manda, apa yang kamu lakukan. Jangan karena kamu mencintai Bagas, kamu jadi tidak perduli pada Moetia, dia adalah sahabatmu. Dia adalah putri dari orang yang sudah membiayai semua kebutuhan mu, kebutuhan kita. Mereka sudah merawat dan membiayai sekolah mu, kuliah mu bahkan sampai sekarang!" teriak Malika kesal pada Manda.
"Gak Bu, aku akan bicara pada Moetia!" teguh Manda.
Manda tidak menghiraukan Malika dan berlari ke kamar Moetia.
Manda mengetuk pintu kamar Moetia dengan keras.
Dug! dug! dug!
"Moetia, buka pintunya ini aku!" teriak Manda
Moetia membukakan pintu, Manda dengan cepat masuk dan menggenggam kedua tangan Moetia.
"Moetia, aku mohon telpon om Aries sekarang juga!" seru Manda tergesa-gesa.
Moetia tidak mengerti kenapa dengan Manda,
"Ada apa?" tanya Moetia datar.
"Om Aries akan menuntut Bagas Moetia. Tolong hentikan itu! jangan tuntut Bagas Moetia!" pinta Manda yang sudah berkaca-kaca.
Sahabatnya ini bahkan memohon untuk orang yang sama sekali tidak perduli padanya.
"Aku..." Moetia ragu-ragu
"Tolong Moetia, demi aku!" pinta Manda
Moetia tidak tega melihat Manda, tapi dia juga sangat kesal pada Bagas.
"Manda, semua itu keputusan papa dan mama, aku tidak bisa..."
"Moetia, jangan lakukan ini padaku. Bagas akan lebih membenciku jika aku tidak bisa membantunya!" seru Manda yang sudah meneteskan air mata nya
"Manda, tapi bagas..."
"Theo sudah memberimu kompensasi, artinya mereka benar-benar sangat menyesal kan? bukankah setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua, maafkan lah mereka. Telepon om Aries sekarang Moetia!" pinta Manda
Moetia mengambil ponselnya lalu menghubungi papanya.
"Halo pa," sapa Moetia
"Iya nak, ada apa?" tanya Aries.
"Em, pa aku rasa kita tidak perlu menuntut Bagas!" seru Moetia ragu.
"Apa Manda yang memintamu melakukan itu?" tanya Aries.
"Iya, tapi mereka juga sudah minta maaf dan mereka juga memberikan kompensasi, jadi aku rasa mereka memang serius dengan permintaan maaf mereka itu!" terang Moetia.
__ADS_1
"Maaf sayang, tapi papa sebagai orang tua kamu harus membela mu nak. Apa menurut mu papa tidak bisa membelikan mu apartemen di tempat itu? Dan papa juga sudah meminta Om Bram memberikan somasi pada Bagas! Kita akan bertemu dengan Bagas si kantor Om Bram besok!" jelas Aries.
"Iya pa!" jawab Moetia sambil menoleh pada Manda yang terlihat kecewa bercampur cemas.
Moetia menyimpan ponselnya di kantong celananya,
"Kamu sudah mendengarnya kan?" tanya Moetia.
"Tapi masih bisa di batalkan Moetia!" sanggah Manda
Moetia menghela nafas nya panjang,
"Baiklah, kita lihat besok saja ya." seru Moetia
Manda tidak menjawab dan keluar begitu saja dari kamar Moetia.
Moetia lagi-lagi menghela nafasnya panjang,
"Manda, maafkan aku!" lirih Moetia
Di kediaman Bagas, Belinda baru saja mendapatkan sebuah surat dari seorang kurir.
"Surat apa Bu?" tanya Chairul sambil duduk di samping Belinda.
Dan ketika Belinda membacanya, Belinda berdiri karena terkejut,
"Yah, ini surat somasi yah. Aries Budiawan menuntut Bagas pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan pada putrinya Moetia Tamara. Ya Tuhan Bagas!" seru Belinda terduduk lemas.
Chairul meraih surat somasi yang di pegang oleh Belinda. Chairul meremas surat itu dengan kesal,
"Keterlaluan!" seru Chairul.
Chairul memanggil anak buahnya lalu meminta mereka mencari Bagas dan membawanya pulang.
"Bagaimana ini yah?" tanya Belinda cemas.
"Bagas harus menghadapi semuanya Bu, dia harus mempertanggung jawabkan apa yang sudah dia lakukan!" seru Chairul.
Sementara itu di kamar Theo, Bagas masih terus menghubungi Moetia,
"Sudahlah, dia tidak mungkin mengangkat telepon darimu!" seru Austin
"Kalau begitu, kamu yang harus menelepon nya!" seru Bagas.
Austin mengibaskan tangannya ke udara,
"Tidak akan diangkat" sahutnya lagi.
Tiba-tiba, Reno masuk ke kamar itu dengan tergesa-gesa,
"Bos gawat!" serunya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Ada apa?" tanya Bagas
"Bos, anak buah om Chairul mencari mu! mereka bilang kamu harus pulang, om Aries telah mengajukan tuntutan padamu!" jelas Reno terputus-putus karena kecapekan berlari.
(Anggap aja Reno ngomongnya putus-putus gitu ya ✌️).
Austin dan Bagas berdiri bersamaan. Bagas mengacak rambutnya sendiri,
"Sial!" serunya kesal.
...❤️❤️❤️❤️❤️🌹❤️❤️❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Jangan lupa tinggalkan Like, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍❤️👍👍...
...Think u ❤️...