
Moetia mengantarkan Manda pulang, sepanjang jalan tadi Manda hanya terdiam dan ketika Moetia bicara pun dia hanya menjawabnya dengan anggukan atau gelengan kepala.
Moetia mengantarkan Manda ke kamar nya.
"Istirahat lah, aku akan ke kamarku!" ucap Moetia berjalan keluar.
"Moetia!" panggil Manda.
Moetia kembali berbalik dan melihat Manda.
"Ya," sahut Moetia.
"Apakah mungkin Bagas tidak menyukai ku karena ini?" tanya Manda.
Moetia ikut terdiam, dia memperhatikan ekspresi Manda yang sepertinya sangat menyesali sikapnya selama ini.
"Apakah Bagas tidak menyukai wanita yang ingin tampil sempurna seperti ku? mungkinkah itu Moetia?" tanya nya dengan ekspresi wajah bertambah sedih.
Manda terjatuh lemah ke lantai. Dia mulai menangis.
Moetia mendekatinya dan ikut bersimpuh di depan Manda.
"Manda!" lirih Moetia.
Manda mengangkat kepalanya dan memeluk Moetia.
"Aku hanya ingin tampil sesempurna mungkin di depan Bagas, aku tidak menyadari bahwa selama ini aku sudah menjauhkan diriku sendiri darinya. Aku ingin tampak seperti Calista, sempurna dan manja." Isak Manda.
"Saat aku SMP aku melihat perlakuan berbeda dari teman-teman ku. Mereka sangat baik pada siswi yang cantik, pintar dan kaya. Sebelum aku mengatakan bahwa aku adalah keponakan dari Aries Mahendra, tidak ada yang mau menjadi temanku. Setelah aku mengatakan pada mereka bahwa aku adalah keponakan Aries Mahendra mereka mengantri ingin menjadi temanku!" ucap Manda sambil terisak.
Manda mengulas senyum kecut di wajahnya.
"Sejak saat itu aku selalu membanggakan bahwa aku adalah orang yang selevel dengan mereka, apapun yang aku mau aku harus mendapatkan nya. Tapi aku tidak menyadari bahwa semua itu bukan identitas ku yang sebenarnya, aku tetaplah Manda yang miskin dimata Audrey dan teman-temannya. Aku hanya Muthia Amanda yang bukanlah siapa-siapa, kenapa Moetia? kenapa?" lirih Manda makin terisak.
Moetia ikut merasakan perih dihatinya mendengar ucapan Manda. Moetia tahu benar bahwa Manda sangat tertekan saat ini. Dia hanya ingin di sayangi dan disadari keberadaan nya oleh orang lain. Dia ingin terlihat sempurna agar semua orang memperhatikan dan memperhitungkan keberadaan nya.
Moetia ikut menangis sambil memeluk erat Manda. Bagi Moetia dia adalah sahabat yang baik untuknya. Moetia juga melihat bagaimana seseorang diperlakukan berbeda hanya karena status sosial mereka.
Bagaimana seseorang bisa memilih mereka akan lahir di keluarga yang seperti apa. Tapi tentu saja jika semua orang terlahir baik tentu saja tidak akan ada yang menjadi polisi dan penegak hukum di dunia ini.
Moetia keluar dari kamar Manda setelah Manda sedikit tenang.
Langkahnya masih begitu lemah, dia baru tahu sahabatnya itu menyimpan perasaan tak berdaya begitu dalam.
__ADS_1
Moetia masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai.
Dia juga masih merasa sedih karena masalah dirinya dengan Bagas.
Moetia menutup pintu kamarnya dan berjalan ke arah tempat tidur.
"Hai, sayang!"
Mata Moetia segera menoleh ke arah sumber suara orang yang memanggil namanya.
"Marvin!" seru Moetia tak percaya.
Moetia menghela nafas nya panjang. Belum cukupkah semua masalah yang menghampiri nya hari ini. Kenapa datang lagi masalah baru.
Moetia berkacak pinggang, dia menunjukkan ekspresi wajah tidak bersahabat pada Marvin.
"Apa kamu merindukan ku?" tanya Marvin santai sembari bangun dari sofa dan menghampiri Moetia.
"Sejak kapan kamu disini?" tanya Moetia.
"Sejak kamu dan sahabat mu itu turun dari taksi. Aku sedikit kesulitan melewati beberapa pengawal yang kekasihmu itu siapkan! tapi akhirnya aku berhasil masuk kan!" ucap Marvin membanggakan dirinya.
Moetia terdiam, dia terkejut. Ternyata dugaannya selama ini benar. Orang-orang yang diluar itu sangat mencurigakan. Tapi meskipun begitu, dia sedikit lega karena mereka adalah anak buah Bagas.
"Tidak tertarik!" sahut Moetia singkat.
"Benarkah? bagaimana kalau aku katakan pada sahabat mu itu jika tunangannya adalah kekasihmu?" tanya Marvin menggertak Moetia.
Moetia membulatkan matanya,
"Kamu!" kesal Moetia.
"Kamu pasti ingin tahu darimana aku tahu, aku sudah meminta pak Syarif mencari tahu segala yang bisa dia ketahui tentangmu! jadi Moetia apa kamu masih tidak bersedia pergi dengan ku?" tanya Marvin.
"Dengar, kamu ingat apa yang terjadi terakhir kali saat kamu membawaku pergi kan, kamu tentu tidak mau masuk ke dalam penjara lagi kan?" tanya Moetia gantian menggertak Marvin.
Marvin malah terkekeh.
"Itu hal berbeda Moetia." ucap Marvin melangkahkan kakinya maju dan makin mendekati Moetia.
Moetia menahan dada Marvin dengan kedua tangannya.
"Ada apa dengan mu? bukankah masalah mu dan Bagas hanya masalah kontrak kerja sama itu, dan itu semua sudah selesai kan?" tanya Moetia pelan.
__ADS_1
Marvin malah meraih beberapa helai rambut Moetia dengan jari telunjuknya dan membawanya ke depan bahu Moetia.
Moetia melirik tangan Marvin itu, perasaan nya mulai tidak enak.
"Aku sudah tidak menginginkan kontrak kerja sama itu lagi, ada yang lebih aku inginkan dari sekedar kontrak kerja sama, bukan uang ataupun kekuasaan!" seru Marvin di depan Moetia.
Jarak yang begitu dekat membuat Moetia sangat tidak nyaman.
Moetia mundur selangkah dan berbalik ingin berlari ke pintu kamarnya.
Tapi sebelum sempat melakukan itu Marvin sudah menarik tangan Moetia hingga Moetia menubruk Marvin.
Saat Moetia ingin menarik dirinya, Marvin meraih pinggang Moetia dan memeluknya erat.
"Lepaskan!" seru Moetia.
"Apa kamu tidak ingin mendengar apa yang sangat aku inginkan sampai aku jauh-jauh kesini meninggalkan uang, perusahaan bahkan keluargaku?" tanya Marvin menatap Moetia.
Moetia memalingkan wajahnya dan terus memberontak berusaha melepaskan pinggangnya dari dekapan Marvin.
"Aku menginginkanmu Moetia!" seru Marvin.
Moetia menoleh, dia tertegun.
"Aku menginginkanmu lebih dari apapun, sungguh lebih dari apapun di dunia ini!" tambahnya lagi.
Sepintas Moetia merasa perkataan Marvin itu tulus. Tapi kemudian dia menyadari bahwa semua ini tidaklah benar.
"Aku mohon lepaskan aku!" pinta Moetia dengan suara lembut.
Marvin pun luluh mendengar permintaan Moetia yang begitu lembut.
Marvin melepaskan nya, Moetia segera menjauh dari Marvin.
Moetia segera berlari ke arah pintu kamar lalu keluar dari kamar nya.
Marvin malah terkekeh melihat dirinya sendiri yang sudah di permainkan oleh Moetia.
"Kita lihat saja Moetia, sampai kapan kamu bisa terus lari dan menghindari ku!" gumam Marvin lalu melompat keluar jendela kamar Moetia.
...❤️❤️❤️...
...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...
__ADS_1
...Terimakasih ❤️❤️❤️...