Dilema

Dilema
Saat Seorang Lelaki Menjadi Lemah


__ADS_3

Moetia mengantarkan Bagas kembali ke apartemen nya.


Moetia keluar dari mobil dan menyerahkan kunci mobil pada Bagas.


"Sudah malam, aku akan pulang!" seru Moetia.


"Kamu sungguh tidak ingin mendengarkan penjelasan ku?" tanya Bagas.


Moetia menutup telinganya.


"Diam, aku tidak ingin mendengar me menyebut nama wanita itu!" kesal Moetia.


"Kamu cemburu?" tanya Bagas pelan.


Moetia tidak menghiraukan Bagas, dia melangkahkan kakinya menuju keluar area parkir.


"Moetia, tas mu ada di apartemen ku!" teriak Bagas berbohong.


Moetia menghentikan langkahnya. Dia ingat tadi sewaktu pergi dari kantor dia telah meninggalkan tas nya di kantor.


Moetia menoleh dan menghela nafasnya panjang.


Moetia melangkah mendahului Bagas ke unit apartemen Bagas.


Bagas tersenyum kecil dan mengikuti langkah Moetia.


Moetia menekan kode password, lalu membuka pintunya.


"Dimana tas ku?" tanya Moetia.


Bagas kembali menekan tombol merah pada tombol password.


Moetia berdecak kesal dan berkacak pinggang di depan Bagas.


"Terserah!" seru Moetia lalu duduk di sofa dan memalingkan wajahnya dari Bagas.


Bagas duduk di sebelah Moetia, dan perlahan dia malah berjongkok di depan Moetia.


Moetia hanya memainkan bibir bawahnya karena kesal dan sudah tidak tahu bicara apa lagi.


"Maafkan aku! maaf telah membuat menangis, dan sakit hati. Aku sungguh sedang tidak fokus saat dia menyentuh tanganku..."


"Menggenggam!" ralat Moetia.


"Iya, maksudku aku sedang tidak fokus saat itu. Aku hanya merasa kasihan padanya! hanya itu! kamu juga melihat kondisinya kan! dia lumpuh!" jelas Bagas.


Moetia memicingkan matanya pada Bagas.


"Bukan urusanku! aku tidak peduli mau kamu kasihan atau masih menyukainya, aku tidak perduli. Menjauh lah dariku!" teriak Moetia.


"Moetia, tidak seperti pikiran mu! aku hanya kasihan padanya. Sungguh hanya itu!" jelas Bagas belum menyerah.


"Diam!" seru Moetia.

__ADS_1


"Sayang, aku mohon. Aku hanya mencintai mu Moetia, sekarang dan selamanya!" Bagas masih terus mencoba membujuk Moetia.


"Aku bilang diam! aku tidak peduli!" Moetia menutup telinganya.


Saat Bagas ingin menyentuh nya, Moetia sangat marah dan segera menepis tangan Bagas.


Moetia berdiri dan menatap Bagas dengan penuh amarah.


"Jangan sentuh aku, sentuh saja wanita itu. Kamu bisa tegas pada Manda, kenapa dengannya berbeda? apa kamu merindukannya? merindukan suaranya? merindukan senyumnya? katakan!" tanya Moetia dengan nada suara makin meninggi.


"Moetia, dia lumpuh!" sela Bagas pelan.


"Aku tidak perduli, bukan itu pertanyaan ku!" sela Moetia.


Moetia menghela nafas, mencoba menahan agar tidak menangis.


"Aku benci kamu Bagas! pergilah! menjauh lah dariku!" teriak Moetia lagi.


Bagas berdiri, dia melihat kemarahan yang besar pada Moetia. Dia makin menyadari bahwa dia telah sangat salah sudah setuju bertemu dengan Calista.


"Aku janji padamu, itu pertemuan ku terakhir dengannya!" seru Bagas lembut.


"Apa kamu tuli, aku tidak perduli!" teriak Moetia lagi dan kali ini dia sudah tidak bisa menahan air mata nya untuk tidak mengalir.


"Moetia.." lirih Bagas.


Moetia membanting bantal sofa yang ada di hadapannya dan pergi meninggalkan Bagas ke arah balkon.


Moetia menggeser pintu balkon itu dengan kuat. Hatinya masih sangat sakit, dia sungguh kesal. Mudah sekali Bagas menerima wanita yang sudah mengkhianati nya itu lagi, bahkan dulu dia berkata tidak akan pernah mau melihat wajahnya.


Moetia mulai kesal, kenapa juga air matanya terus mengalir.


Moetia menghirup udara segar di luar dalam-dalam. Lalu dia menghembuskan nya lagi, berkali-kali dia melakukan itu untuk menenangkan hatinya, karena harus menunggu satu jam sebelum kunci otomatis pintu apartemen itu terbuka lagi.


Bagas masih berdiri mematung di tempatnya semula.


Dia melihat ke arah bantal-bantal sofa yang tadi di lempar oleh Moetia.


Dia melihat ke arah Moetia yang sedang berdiri di balkon dan sesekali menyeka tangisnya.


Bagas terduduk lemas, rasa kasihan yang timbul saat melihat kondisi Calista telah membuat istrinya terluka.


Bagas masih terus melihat ke arah Moetia yang mulai terduduk dan bersandar di dinding kaca balkon.


Satu jam kemudian, terdengar suara dari pintu.


Ting!


Tanda kunci otomatis kembali menyala, Moetia segera masuk dan menutup pintu geser balkon. Moetia sudah tidak perduli lagi dengan tas nya, dia segera menuju keluar.


Bagas berdiri dan terus berusaha menahan Moetia agar tidak pergi.


"Moetia, aku mohon! aku janji tidak akan menemui nya lagi. Moetia.."

__ADS_1


Moetia tetap tidak mau menghiraukan Bagas. Ketika Bagas berada di depan pintu untuk menghalanginya, Moetia kembali menatapnya dengan kesal.


"Minggir!" tegas Moetia.


"Moetia.."


Moetia menginjak kaki Bagas dengan kuat lalu mendorongnya hingga jatuh.


Tanpa memperdulikan Bagas yang terjatuh, Moetia menekan password dan membuka pintu.


Setelah keluar Moetia segera berlari masuk kedalam lift. Setelah keluar dari apartemen dia memesan sebuah taksi menuju ke rumahnya.


Bagas masih duduk diam di tempatnya terjatuh. Dia merasa sangat lemah dan berdaya.


Dia menghubungi Reno dan mengatakan semua yang terjadi pada Reno.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Bagas lemah.


"Jangan paksa Moetia mendengar apa yang tidak ingin dia dengar, aku memahami Moetia. Dia akan semakin kesal jika dipaksa, biarkan dia menenangkan diri dulu!" jelas Reno.


"Aku tidak bisa jauh darinya Ren!" bantah Bagas.


"Harusnya kamu memikirkan itu sebelum setuju untuk bertemu perempuan jahat itu!" balas Reno.


Bagas meletakkan ponselnya yang masih tersambung panggilan telepon dengan Reno.


"Bagas, halo...!


Bagas bersandar di dinding dan menatap lurus ke depan. Dia sungguh menyesali pertemuannya tadi dengan Calista.


Setengah jam kemudian Moetia sampai di depan gerbang, dia memanggil satpam dan memintanya membayarkan taksi untuknya.


"Terimakasih pak Usman," ucap Moetia.


"Sama-sama non, jangan gitu atuh! non mah kayak sama siapa aja!" sahut pak Usman satpam rumah Moetia.


"Nanti Moetia ganti ya!" lanjut Moetia.


Usman melambaikan tangan nya dengan cepat di depan Moetia,


"Tidak usah non, pak Usman teh seneng pisan bisa bantu non Moetia! jangan di ganti ya!" pinta Usman.


"Oke, Moetia gak ganti. Tapi Moetia tuker!" ucapnya sambil tersenyum dan masuk ke dalam rumah.


Saat masuk ke dalam, tidak ada orang yang terlihat. Moetia ke dapur mencari mamanya.


"Bi, mama kemana?" tanya Moetia pada asisten rumah tangga nya.


"Eh, non Moetia sudah pulang. Itu nyonya sama tuan, sama non Manda dan ibunya pergi ke acara ulang tahun perusahaan apa ya..." si bibi memutus perkataan nya karena lupa nama perusahaan Theo.


"Theodore advertise ya Bi?" tanya Moetia sambil mengambil air minum di lemari pendingin.


BI Irah mengangguk dengan cepat.

__ADS_1


"Iya, itu non. Kata nyonya, di undang sama calon mertua nona Manda jadi gak enak kalo gak dateng!" jelas nya lagi.


Moetia mengangguk paham. Dia segera ke kamarnya. Tapi dia kembali teringat pada Bagas. Dengan kondisi tangannya itu, mustahil baginya melakukan semuanya sendiri.


__ADS_2