Dilema

Dilema
Apa yang Kalian Bicarakan?


__ADS_3

Malika dan Soraya menemani Manda di klinik, Malika terlihat sangat cemas.


Soraya menepuk bahu Malika,


"Tenanglah, kamu sudah dengar apa yang dikatakan dokter tadi kan? Manda akan segera sadar dan kondisinya juga sudah membaik!" ucap Soraya menenangkan Malika.


Malika berdiri dan memegang tangan Soraya,


"Maafkan kami ya, kami selalu merepotkan mu!" ucap Malika sedih.


Soraya tersenyum,


"Jangan bicara begitu, kita ini keluarga iya kan?" ucap Soraya memeluk Malika.


Sementara, Bagas terlihat sangat tidak nyaman berada di acara makan malam perusahaan nya. Reno menghampiri Bagas dan memberikannya segelas minuman,


"Bos, tenanglah. Atau akan ada yang salah paham jika melihatmu gelisah begitu!" seru Reno.


Bagas berdecak kesal,


"Ck, diam lah. Aku hanya sedikit tidak tenang membiarkan Theo menemani Moetia, harusnya tadi Theo ku ajak saja kemari!" seru Bagas


Reno benar-benar tidak bisa menahan tawanya,


"Ha ha ha, bos jangan bilang kamu cemburu pada Theo. Tenang saja bos, dia itu cinta mati pada Audrey." sela Reno.


"Tetap saja, aku jadi tenang meninggalkan Moetia bersama berandalan itu!" bantah Bagas.


"Tenang saja bos, jika kamu takut Moetia akan di bully Theo, itu tidak akan terjadi. Aku malah berpikir sebaliknya, bukankah kamu sudah melihatnya bos. Moetia lah perempuan pertama yang berani memukul Theo!" tutur Reno apa adanya.


Bagas mengulas senyum, sebenarnya yang dia takutkan adalah mulut bocor Theo. Dia takut Theo akan menceritakan sesuatu tentang masa lalunya yang akan membuat Moetia salah paham.


Di waktu yang sama, di hotel tempat Moetia menginap.


Dari tadi Theo bersin-bersin dan membuat Moetia menertawakan nya,


"Apa aku terlihat seperti pelawak? kenapa kamu tertawa begitu,?" tanya Theo


"Ha ha, lihat lah pasti ada seseorang yang sedang mengutuk mu!" sahut Moetia sambil mengunyah cemilan yang berada di tangannya.


Theo yang dari tadi sibuk dengan ponselnya berdiri dan mendekati Moetia yang sedang duduk di atas kasur sambil menonton drama Korea favoritnya dan mengemil makanan ringan yang tadi di belikan oleh Bagas.


Theo mengambil makanan yang sedang Moetia pegang lalu ikut duduk di sebelah nya.


"Apa yang kamu tonton?" tanya Theo.


"Kelanjutan film yang tadi," jawab Moetia santai sambil mengambil satu bungkus keripik kentang yang baru.


Theo mengambil Snack itu saat Moetia akan membukanya,


"Hei, kenapa kamu ambil lagi?" tanya Moetia kesal.


"Lihat badanmu itu, sudah seperti body guard kamu tahu!" jawab Theo.


Moetia kembali merebut Snack itu dari tangan Theo,


"Apa masalahnya, aku kan bukan seorang model. Dan berat badanku ini masih ideal!" balas Moetia.


Theo tertawa,


"Ha ha ha, apa kamu bilang? ideal?" tanya Theo

__ADS_1


Theo memperhatikan Moetia dari ujung kaki sampai ujung kepala,


"Aku rasa ukuran bajumu saja pasti size L." ucap Theo kembali mengejek Moetia.


"Memangnya kenapa kalau size L, berat badanku setidaknya masih sepertiga dari tinggi badan. Dan itu masih bisa di sebut ideal!" tegas Moetia.


"Apa kamu tahu, banyak yang menahan untuk tidak makan makanan enak demi menjaga tubuh mereka agar tetap ideal, apa kamu tidak takut Bagas akan berpaling darimu jika badan mu nanti melebar?" ucap Theo menakuti Moetia.


Moetia berhenti mengunyah, dia berfikir sebentar.


Moetia lalu menoleh ke Theo,


"Benarkah? tapi kurasa selama ini Bagas tidak pernah protes padaku! Lagipula Theo, aku hanya berusaha menikmati hidup, memanjakan lidahku. Selama yang aku makan itu makanan yang sehat dan juga tidak berlebihan, aku rasa semua akan baik-baik saja!" ucap Moetia lalu melanjutkan memakan camilannya.


Theo menggelengkan kepalanya, tadinya dia ingin memberitahu Moetia tentang Manda. Tapi dia mengurungkan niatnya karena tidak ingin menjadi perusak suasana.


Theo kembali melihat ponselnya yang bergetar, dia melihat balasan pesan dari asistennya di Bandung yang tadi mengabarinya tentang kondisi Manda.


Harusnya malam ini mereka ada pemotretan, tapi Malika mengabari nya bahwa Manda sedang ada di klinik. Dan dengan polosnya Malika mengatakan semua yang di katakan dokter Risma pada asistennya Theo itu.


Dan ketika asisten nya bilang kondisi Manda sudah membaik. Theo jadi tenang dan tidak ingin membuat Moetia menjadi cemas.


Moetia melirik sekilas pada Theo,


"Apa ada masalah? wajahmu terlihat serius?" tanya Moetia.


Theo mengerut kan keningnya,


"Apa terlihat di wajahku jika ada masalah?" tanya Theo balik.


Moetia berdecak kesal,


"Lupakan saja, apa Bagas masih lama?" tanya Moetia.


"Theo, kenapa selalu menjawab pertanyaan ku dengan pertanyaan!" kesal Moetia.


Theo malah tertawa,


"Ha ha ha, Moetia kamu lucu sekali!" ucap Theo sambil mencubit pipi Moetia.


Moetia menepis tangan Theo dan memukul lengan Theo,


Plak!


"Sakit Theo!" protes Moetia mengelus-elus pipinya yang tadi dicubit Theo.


Bukannya berhenti Theo malah kembali mencubit hidung Moetia, entah kenapa Theo jadi sangat terhibur saat bersama dengan Moetia.


Moetia sangat kesal dan memukulkan bantal yang tadinya dia pangku ke wajah Theo.


"Moetia, awas kamu ya!" seru Theo sambil berusaha membalas Moetia.


Tapi sebelum Theo sempat melempar bantal itu, Moetia lebih dulu turun dari tempat tidur dan berlari ke sofa.


Moetia mengambil dua bantal sofa dan melemparkan keduanya ke arah Theo.


Bugh! bugh!


Dua bantal sofa itu mendarat sempurna di wajah Theo.


"Ha ha ha, rasakan itu!" ucap Moetia senang.

__ADS_1


Theo bertambah kesal dan mengejar Moetia.


Tapi Moetia juga berlari menghindarinya, sambil dia mengambil lagi bantal sofa yang masih tersisa dan melemparkannya pada Theo.


Theo menangkap bantal yang di lemparkan oleh Moetia dan mengambil ancang-ancang untuk membalas Moetia.


Moetia segera berlari ke arah pintu, ketika Theo melempar kan bantal sofa yang lumayan berat itu, Moetia menghindar dan,


Bugh!


Bantal itu mengenai wajah Bagas yang baru saja membuka pintu.


"Theo!" teriak Bagas.


Moetia menoleh ke arah teriakan itu, dan ketika melihat Bagas yang terkena lemparan Theo. Moetia tertawa senang tanpa suara. Dan menjulurkan lidahnya mengejek Theo.


Bagas segera mendekat ke Theo yang terlihat panik.


"Bagas, aku tidak sengaja. Tadi itu.."


Bugh!


Bagas melemparkan bantal itu ke Theo. Theo berdecak kesal lalu meraih bantal itu dan meletakkan nya di sofa, lalu dia duduk dengan wajah kesal dan memicingkan matanya pada Moetia.


Bagas menoleh pada Moetia yang terlihat sangat senang,


"Apa dia mengganggu mu?" tanya Bagas.


Moetia menggeleng dan mendekat pada Bagas,


"Tidak, dia sangat menghibur!" jawab Moetia mengejek Theo lagi.


Bagas meraih pinggang Moetia dan mencium pipinya sekilas.


'Astaga, apa kalian sudah melupakan kalau disini ada aku! Audrey cepatlah pulang!' batin Theo.


Theo mengusap wajahnya kasar,


"Hei, apa kalian tidak bisa menunggu ku keluar dari sini?" keluh Theo.


Bagas melirik Theo,


"Lalu kenapa kamu masih disini?" tanya Bagas ketus.


Theo segera berdiri dan berdecak kesal lagi, dia berjalan keluar kamar Moetia sambil membanting pintu dengan keras.


Bagas mengusap lembut wajah Moetia,


"Apa saja yang kalian bicarakan?" tanya Bagas.


Moetia tersenyum,


"Tidak ada yang serius, kami hanya membicarakan masalah bentuk tubuh yang ideal!" jawab Moetia jujur.


Bagas membulatkan matanya,


"Apa!" pekik Bagas.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like 👍, Komentar kalian 😘 dan Favorit ya ❤️...

__ADS_1


...Terimakasih 💕💕💕...


__ADS_2