Dilema

Dilema
Trauma Moetia


__ADS_3

Moetia yang masih merasa sangat ketakutan mendengar suara Bagas, dia bahkan menutup telinganya karena takut itu hanya halusinasi nya saja.


"Moetia, sayang!" panggil Bagas sambil mendekati Moetia.


Saat Bagas menyentuh tangan Moetia dia malah berteriak sambil menutup matanya.


"Jangan menyentuhku, aku mohon jangan menyentuhku!" jerit Moetia sambil memejamkan matanya dan seluruh tubuhnya gemetaran.


'Aku tidak pantas lagi untuk mu Bagas! aku tidak pantas...' batin Moetia sangat merasa bersalah pada Bagas.


Bagas menarik kembali tangannya dan mengepalkan nya dengan kencang. Bahkan air mata Bagas sampai menetes dari sudut matanya melihat Moetia seperti itu.


Chairul masuk karena mendengar Moetia berteriak.


"Moetia!" lirih Bagas.


Moetia menoleh, melihat Bagas membuatnya semakin takut, Marvin telah menyentuhnya bahkan Marvin telah mencium dan meninggalkan jejak di lehernya.


Moetia menutupi bekas gigitan Marvin itu dengan tangannya dan meringkuk kan badannya sambil terisak.


Bagas duduk dekat Moetia, Bagas tak kuasa lagi menahan kesedihannya. Bagas kembali mengarahkan tangannya ke dekat Moetia tapi Moetia malah menjauhinya.


Chairul mendekati Bagas dan menepuk bahunya.


"Reno, masuklah!" seru Chairul.


"Moetia!" panggil Reno.


Moetia menoleh mendengar suara Reno, dengan cepat dia bergerak hendak menghampiri Reno.


Tapi Reno bergegas mendekatinya dan memeluknya.


"Kak, bawa aku pulang. Aku mau pulang!" pinta Moetia sambil terisak.


Reno mengelus punggung Moetia dengan lembut, dia melihat ke arah Chairul dan Bagas bergantian. Chairul mengangguk paham.


"Bawalah dia ke mobil kita Reno!" seru Chairul.


Bagas merasa sangat sedih dan kecewa juga marah dalam waktu yang sama.


Reno menggendong Moetia dan Moetia hanya meringkuk dan menundukkan wajahnya.

__ADS_1


Bagas melihat Moetia dari atas tempat tidur saat Reno menggendongnya sampai ke arah pintu dan tak terlihat lagi.


Setelah memastikan Reno membawa Moetia keluar Bagas berdiri dan memukulkan kepalan tangan nya kesebuah kaca yang ada di ruangan itu.


"Marvin sial**! aku akan mematahkan tangan nya yang sudah menyentuh istriku!" teriak Bagas kesal.


Chairul mendekati putranya yang sedang sangat emosi itu, dia menarik tangan Bagas yang sudah berlumuran darah dan terkena pecahan kaca.


"Kamu lihat kondisi istrimu itu kan? jangan bertindak gegabah Bagas. Lebih baik sekarang kita mengurus Moetia dulu!" seru Chairul.


"Ayah lihat kan! dia bahkan menolak ku!" keluh Bagas sedih.


"Pasti ada alasannya Bagas, tapi tuan Edo sudah memastikan Marvin tidak melecehkan Moetia!" jelas Chairul.


Bagas mengusap wajahnya dengan kasar, bagaimana pun dia harus membuat perhitungan dengan Marvin mengenai masalah ini.


Eduardo masuk dan menemui Chairul juga Bagas.


"Aku meminta maaf atas apa yang telah Marvin perbuat!" ucap Edo terlihat sangat sedih.


"Dimana Marvin?" tanya Bagas marah.


Chairul menyentuh tangan Bagas. Eso melihat kemarahan yang sangat besar di mata Bagas. Bagaimana tidak? anaknya memang membuat kesalahan besar, bahkan teramat besar.


"Hukuman yang pantas adalah dengan mematahkan kedua tangannya itu!" sela Bagas dengan nada suara yang meninggi.


"Tuan bahkan sudah memukulinya hingga tongkatnya patah.." sela Carlos.


Edo mengangkat tangannya meminta Carlos diam.


"Aku pastikan kalian tidak akan pernah melihat dia lagi, aku akan memberikan hukuman yang setimpal untuknya. Tapi jika membawa masalah ini ke jalur hukum, aku juga tidak bisa mencegah kalian! aku hanya bisa menjanjikan Marvin tidak akan pernah menginjakkan kakinya di negara ini lagi!" seru Edo.


"Bagas, pergilah!" seru Chairul.


"Tapi ayah.."


"Bagas, pergilah!" perintah Chairul tegas.


Bagas mengepalkan tangannya dan memandang kesal pada Edo lalu pergi menyusul Reno dan Moetia.


"Aku percaya padamu! aku tidak akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Tapi aku harap kamu menepati kata-kata mu barusan!" tegas Chairul.

__ADS_1


Edo benar-benar dibuat tak berdaya karena kelakuan Marvin. Harga diri dan kehormatan nya yang di bangun bertahun-tahun rusak dalam sekejap di mata Chairul dan keluarganya.


Edo masuk ke dalam mobilnya dengan langkah gontai. Sementara itu Reno masih menggenggam tangan Moetia dan menyandarkan kepala Moetia di bahunya. Reno mengusap lembut kepala Moetia, memberikan ketenangan bagi Moetia yang meskipun sudah berhenti menangis tapi tangannya masih gemetaran.


Bagas membuka pintu mobil dan ketika Reno akan turun dari mobil Moetia menggelengkan kepalanya dan menarik tangan Reno.


Reno melihat ke arah Bagas, Bagas mengerti jika Moetia tidak ingin dia mendekatinya. Bagas akhirnya menutup pintu dan pindah ke kursi penumpang bagian depan.


Bagas masih terus melihat Moetia dari kaca spion, hatinya remuk melihat istrinya sendiri tidak mau dia menyentuhnya.


Moetia memejamkan matanya dan memeluk erat lengan Reno.


Reno sesekali mengelus tangan Moetia memberikan rasa tenang padanya meskipun tatapan Bagas sudah seperti akan mencabik-cabik Reno setiap kali Reno mengusap kepala atau tangan Moetia.


Bagas dan Reno membawa Moetia ke rumahnya, setelah sampai di rumah. Soraya berlari memeluk putrinya yang hanya diam dengan mata merah dan berkaca-kaca.


Soraya menangis melihat kondisi putri tunggalnya itu, dia memeluknya dengan erat. Bahkan Aries sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Wajah dan matanya memerah, dia jelas sangat emosi melihat kondisi Moetia.


Aries mendekati Chairul dan bertanya siapa yang sudah membuat putrinya seperti itu.


"Aku sudah mengurusnya, dia akan dapatkan hukuman setimpal atas perbuatannya ini!" jelas Chairul berusaha tetap tenang.


"Siapa orang itu?" tanya Aries menekan suaranya.


"Marvin Payage, putra bungsu Eduardo Vargas Payage. Aries dengar! aku akan mengurus orang itu, aku janji tidak akan membiarkannya hidup tenang setelah apa yang dia lakukan pada menan..." Chairul tidak melanjutkan kalimatnya karena menyadari dia hampir menyebutkan bahwa Moetia adalah menantunya.


Chairul menepuk bahu Aries yang jelas terlihat masih sangat emosi.


"Kondisi Moetia belum stabil, lihatlah dia dulu. Tenangkan dia dulu. Masalah Marvin aku berjanji padamu aku yang akan mengurusnya!" jelas Chairul.


Aries melihat ke arah Moetia, dan hatinya benar-benar hancur lebur melihat putrinya seperti itu.


Chairul juga sudah memanggil dokter untuk memeriksa Moetia.


Dokter harus memberinya obat penenang agar dia berhenti menangis dan tertidur.


Malika masuk ke kamar Moetia, dia tadi sedang menjaga Manda yang masih syock juga dan tidak bisa di tinggal sendiri karena selalu ketakutan.


"Moetia!" lirihnya mendekati Soraya.


Soraya memeluk Malika dan menangis, mereka berdua merasa sangat sedih karena peristiwa yang menimpa putri mereka.

__ADS_1


Malika melihat ke arah Bagas yang sedari tadi tidak melepas pandangannya dari Moetia. Ada rasa sedih di hatinya, dia sangat yakin hubungan Bagas dan Moetia lebih dari seorang atasan dan Sekertaris nya.


Adanya Chairul disana juga membuat Malika yakin, bahwa putrinya benar-benar sudah bertepuk sebelah tangan.


__ADS_2