Dilema

Dilema
Rencana Theo


__ADS_3

Moetia sudah akan memejamkan matanya ketika Manda mengetuk pintu kamarnya.


Tok! tok! tok!


"Moetia, ini aku. Apa kamu sudah tidur?" seru Manda dari luar pintu kamar Moetia.


Moetia bangun lagi dan membukakan pintu untuk Manda,


"Ada apa? kamu belum tidur? bukankah besok kamu harus bersiap-siap sangat pagi?" tanya Moetia bertubi-tubi.


Manda masuk ke dalam kamar Moetia dan duduk di tepi ranjang Moetia.


Moetia menutup pintu dan mengikuti Manda lalu duduk disampingnya.


"Apa ada masalah?" tanya Moetia


Manda bersandar di bahu Moetia,


"Bagas tidak mau datang menemaniku tanda tangan kontrak!" serunya pelan.


Moetia menghela nafasnya panjang,


"Dia kan yang membuat kontrak itu, bagaimana mungkin dia tidak datang?" tanya Moetia.


"Tadi Tante Belinda menghubungi ku, dia bilang Bagas tidak mau datang bersama ku." keluh Manda.


Manda menghadap ke arah Moetia dan menggenggam tangan Moetia,


"Bantu aku Moetia, bujuk Bagas seperti saat kamu membujuknya menjengukku dulu di rumah sakit!" pinta Manda


Moetia membulatkan matanya, Moetia sangat terkejut. Bagaimana mungkin dia melakukan itu lagi, dulu saja jantungnya hampir berhenti berdetak karena sikap Bagas yang begitu agresif.


"Maaf Manda, tapi..."


"Jangan menolaknya Moetia, dulu kamu berhasil membujuknya kan? sekarang kamu pasti bisa melakukannya! Lakukan demi aku Moetia!" ucap Manda penuh harap.


"Kamu tinggal mogok makan dan mogok kerja saja kan untuk membujuknya! aku mohon Moetia, aku ingin semua media tahu bahwa Bagas adalah tunangan ku." ucap Manda lagi.


'Seandainya sesederhana itu! tapi membujuk Bagas bukan hal yang mudah. Bagaimana ini?' batin Moetia bingung sendiri


"Aku tidak janji, tapi akan kucoba!" jawab Moetia pelan karena dia sedikit ragu


"Aku tahu kamu pasti membantuku, terimakasih ya. Aku akan kembali ke kamar ku! selamat malam Moetia." seru Manda senang


"Selamat malam!" sahut Moetia lemas.


Setelah Manda keluar, Moetia meraih kembali ponselnya dan menghubungi Bagas.


"Sayang, apa kamu sangat merindukan ku. Ini sudah larut, kamu belum tidur?" ucap Bagas panjang lebar menyapa Moetia.


Moetia masih ragu untuk mengutarakan maksudnya,


"Sayang, apa kamu mengigau dan menelpon ku?" tanya Bagas lagi.


"Bagas, aku ingin meminta sesuatu padamu!" ucap Moetia lembut.


"Katakanlah! apapun akan kuberikan untukmu!" jawab Bagas dengan sangat yakin.


"Datang lah dengan Manda besok, saat konferensi pers!" ucap Moetia hati-hati.


"Jangan mimpi," seru Bagas setengah berteriak.

__ADS_1


"Aku belum tidur, bagaimana aku bisa bermimpi!" sahut Moetia mencoba meredakan amarah Bagas.


"Kamu tidak bisa membujukku hanya dengan lelucon mu itu Moetia!" balas Bagas lagi.


"Maafkan aku Bagas! baiklah aku tidak akan meminta apapun padamu lagi!" seru Moetia


"Moetia, jangan membuat semua semakin rumit. Aku bahkan sudah mengatakan pada ibuku bahwa aku menyukai wanita lain!" jelas Bagas


Moetia terlihat sangat kaget,


"Apa?" tanya Moetia cemas


"Tadi ibuku mengatakan hal yang sama seperti yang kamu katakan, aku harus datang bersama Manda. Aku tidak mau, tapi ibu terus memaksa, akhirnya aku katakan saja semuanya!" terang Bagas lagi.


"Semuanya?" tanya Moetia mengulang kata dari Bagas


"Semuanya, aku sudah muak harus di sebut sebagai tunangan Manda. Dan kamu juga tidak akan bisa membujukku, apapun kompensasi nya!" tegas Bagas.


Moetia terdiam, dia bingung harus bagaimana.


"Bagas, tapi..."


"Selamat malam Moetia, aku mencintaimu!" sela Bagas sebelum mematikan panggilan teleponnya.


Moetia meletakkan ponselnya kembali ke atas meja.


Dia terduduk sambil memeluk bantalnya,


'Apa yang sudah Bagas lakukan, bagaimana ini?' batin Moetia sangat cemas.


Keesokan harinya, Moetia terlambat bangun karena semalam dia tidak bisa tidur nyenyak memikirkan apa yang sudah dikatakan boleh Bagas.


Saat dia turun dari lantai dua, Manda sudah siap untuk berangkat.


Manda yang memakai gaun berwarna merah terang sepanjang lutut dan lengan panjang itu memang tampak anggun dengan rambut yang dibuat curly bagian bawahnya.


Make up nya juga sempurna. Riasan wajah yang bold, sesuai dengan kepribadian Manda.


"Sayang, kenapa kamu hanya pakai jeans dan blouse biasa begitu?" tanya Soraya.


"Yang mau tanda tangan dan syuting iklan itu kan Manda ma, bukan Moetia!" jawab Moetia lalu meminum susu buatan Soraya.


Aries terkekeh pelan,


"Benar, mama mu terkadang memang aneh!" ucap Aries menyindir Soraya.


"Begitu ya, dasar kalian papa dan anak sama saj!" kesal Soraya.


Moetia dan Aries malah tertawa melihat Soraya kesal.


Tak lama kemudian terdengar suara klakson mobil, asisten rumah tangga Soraya mengatakan itu mobil jemputan untuk Manda.


Manda dan Malika segera berangkat, tak lama setelah menghabiskan sarapannya, Moetia juga berangkat menuju ke kantor.


Di tengah perjalanan, Bagas menelponnya. Moetia menepikan mobilnya dan menerima panggilan dari Bagas,


"Selamat pagi.."


"Ke hotel tempat konferensi pers sekarang juga!" seru Bagas menyela ucapan Moetia.


"Ba..."

__ADS_1


Tut! Tut! Tut!


Bagas langsung mematikan ponselnya, Moetia dibuat bingung karenanya.


"Apa-apaan dia, masih pagi begini! astaga, sebenarnya apa yang membuatku jatuh hati pada pria ini?" gumam Moetia sambil menghela nafasnya.


Moetia kembali melajukan mobilnya, tapi bukan ke kantor. Dia menuruti Bagas dan pergi ke hotel Diamond tempat berlangsungnya konferensi pers penandatanganan kontrak.


Sementara itu di hotel, dari tadi Bagas sangat kesal melihat Gio berada disana.


"Jangan mondar-mandir begitu, kita tinggal tunggu dan lihat saja!" seru Austin.


"Calon adik ipar mu itu sangat menyebalkan, kenapa juga aku harus menurutinya untuk bertaruh hal semacam itu!" kesal Bagas.


"Hei tuan besar, kenapa malah mengomel. Aku kan juga ingin lihat seperti apa wanita yang membuatmu bucin begini!" balas Theo.


Reno yang baru datang dibuat bingung karena perdebatan Theo dan Bagas.


"Kenapa lagi mereka?" tanya Reno pada Austin.


"Kamu lihat disana!" seru Austin menunjuk pada Gio yang tengah di kerubuti banyak wartawan.


"Itu Gio kan, penyanyi yang baru terkenal itu! Lalu kenapa dia disini?" tanya Reno.


"Theo sengaja mengontrak nya agar menjadi penyanyi di iklan yang akan Theo buat," jelas Austin.


"Lalu kenapa Bagas terlihat sangat kesal?" tanya Reno lagi.


"Karena Theo sengaja, dia bertaruh dengan Bagas. Setelah melihat mereka berdua, maksudku Bagas dan Theo, siapa yang akan lebih dulu Moetia hampiri!" jelas Austin penuh kesabaran pada Reno yang sungguh polos.


Reno menggeleng kan kepalanya,


"Kapan tuan muda Denisovich itu akan berubah! setiap hal dibuat jadi permainan olehnya. Entah apa yang sedang dia rencanakan?" seru Reno.


Austin hanya memperhatikan Bagas yang masih berdebat dengan Theo.


"Aku tidak ingin bertaruh, kakak ipar mu akan marah jika aku bertaruh tentang dia!" seru Bagas.


"Apa ku bilang, kamu benar-benar sudah jadi budak cinta!" kekeh Theo.


Bagas sudah mengepalkan tangannya, ingin sekali dia meninju hidung Theo sekuat tenaga.


"Diam!" seru Bagas.


Tak lama kemudian terlihat Moetia datang dari kejauhan.


Austin menepuk bahu Bagas dan menunjuk ke arah Moetia yang baru saja masuk ke lobby hotel.


Moetia melihat ke arah Bagas dan tersenyum, tapi dia juga melihat ke arah kerumunan wartawan dan melihat ada Gio disana.


"Lihat, siapa yang akan Moetia hampiri! Kamu atau penyanyi ku itu!" seru Theo.


Bagas makin kesal, sementara Reno terus berdoa agar Moetia menghampiri Bagas. Jika tidak maka Bagas akan marah dan Reno lah yang akan jadi sasaran kemarahan nya nanti.


...💕💕💕💕💕💕...


...Terimakasih sudah mampir dan meluangkan waktu untuk membaca Dilema....


...Jangan lupa tinggalkan Like, Vote, Komentar dan Favoritnya ya 👍👍👍...


...Maaf kalau banyak maunya ✌️✌️✌️...

__ADS_1


...Think u ❤️...


__ADS_2