
Mengingat kenangan tentang Kei membuat perasaan Mela menjadi bingung. Sakit. Tapi juga berharap Kei memang benar-benar mencintainya. Tapi dia juga takut untuk menaruh harapan yang tinggi itu lagi.
Suara ketukan pintu membuat Mela tersentak dan menghapus air matanya. Tika memanggil namanya dengan lantang dari balik pintu. Dan membuatnya tersenyum kembali. Buru-buru ia beranjak membukakan pintu dan mendapati Tika berdiri membawa Paper Bag yang pasti berisi makanan untuknya.
"Aahh.. My sweety... " ia langsung memindahkan paper Bag itu dari tangan Tika dan langsung membawanya ke meja makan. Tika bersungut kesal.
"Yaelaah... Giliran bawa makanan dibilang sweety... Biasanya juga ga manggil sweety" Tika menjatuhkan pantatnya dikursi malas yang menghadap Televisi. Mela hanya menyahuti sahabatnya itu dengan tawa gelak. Sambil ia sibuk membuka isi paper Bag yang dibawa Tika.
"Ga kuliah, Mel?" tanya Tika sambil memencet nomor channel Televisi Mela.
"Besok aja, Beb. Nanggung.... Capeknya masih belum ilang." jawab Mela sambil memamerkan deretan giginya.
"Well... Aku mandi dulu ya... Terus kita mamam bareengg." Setelah mengeluarkan makanan di dalam paper bag yang dibawa Tika, Mela langsung membawa tubuhnya ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan Tika yang sedang menonton tayangan kesukaannya, "Insert".
***
Setelah menuntaskan sarapan Mela membawa Tika ke sebuah Taman. Sekedar menikmati matahari terbit sambil berkelakar dan membahas hal-hal ringan. Hingga pada akhirnya Mela menyadari suatu hal.
"Oya, Beb. Kamu kok kenal temennya si Kei, sih?" tanya Mela. Tika yang lupa untuk menceritakan aksi di belakang layarnya dengan Sin kepada Mela, tiba-tiba tersedak.
"Apa, sih Beb? Bisa-bisanya kesedak jigong sendiri!" Mela tertawa mendapati tingkah Tika dan menepuk-nepuk pundak Tika dengan keras.
Awalnya Tika mengelak dari Mela tapi akhirnya dia menceritakan awal mula dia kenal Sin hingga sampai pada Sin menghubunginya kembali beberapa waktu lalu.
Mela tidak menyangka bahwa Tika dan Sin yang merencanakan semua ini. Dia bingung apakah dia harus berterima kasih kepada sahabatnya itu atau justru tidak meresponnya karena masih terselip rasa sakit di dalam hatinya. Ya, rasa sakit saat dia kembali mengingat kembali bahwa dia tidak yakin akan cintanya yang sulit untuk di satukan.
Tika kembali menyemangati Mela. Dan meyakinkan Mela bahwa dalam seminggu ini Kei akan berusaha memenuhi janji yang telah ia layangkan kepada Mela dua hari yang lalu.
"Beb, thanks for all. Tapi aku akan mengikuti permainan hati ini mengalir begitu saja. Aku masih belum bisa membuka kembali luka ini."
"Mel, aku yakin kamu akan menemukan kebahagiaanmu dengan siapapun itu. Tapi setidaknya berjuanglah lagi dulu untuk mengetahui dimana hati itu akan berlabuh di tempat yang tepat."
Mela tersenyum hangat walau hatinya dipenuhi dengan dilema. Tika menyambutnya dengan pelukan sebagai simbol dukungan untuk Mela.
***
Seminggu sudah berlalu. Tapi Mela belum mendapati kabar dari seseorang yang menyuruhnya untuk menunggunya dalam seminggu ini. Ia menghempaskan nafasnya dengan berat. Ia menatap layar Handphonenya tapi tidak ada sebuah pesan dari laki-laki itu. Tidak ada petunjuk bahwa ia harus menyudahi untuk menunggunya.
Hatinya tiba-tiba memberat. Mela meyakinkan dirinya kalau dia akan baik-baik saja tanpa menunggu janji itu. Dan seharusnya dia tidak asal mengiyakan permintaan Kei.
"It's gonna be okay. Life must go on, Hon!" ia beranjak dari duduknya dan mengambil seragam karatenya di lemari.
__ADS_1
Ia harus tetap beraktifitas agar tidak menjadi gila karena terpatri oleh janji seseorang yang belum tentu kejelasannya.
"Ya, Lex" ia menjawab sebuah telefon dari Lexi.
"Okay!" kemudian ia mematikan teleponnya. Beberapa menit kemudian sebuah motor berhenti di depan rumahnya. Lexi terlihat sudah siap untuk mengantarnya ke tempat latihan karate. Mela langsung menyambar jaket dan memakai sepatunya.
"Kenapa repot-repot jemput, lho?"
"Sekalian, kan. Kita lagian satu tempat" goda Lexi. Mela tertawa renyah dan langsung menaiki motor cowok tampan itu. Mela melingkarkan tangannya memeluk Lexi dari belakang. Dan membuat Lexi seperti tersengat listrik bertegangan tinggi. Tanpa Mela tahu, sunggingan senyum cowok tampan di depannya itu menghiasi sepanjang perjalanan mereka menuju tempat karate.
***
Sepanjang latihan Lexi memperhatikan Mela yang tidak seperti biasanya. Cewek itu seperti sengaja menumpahkan emosinya di setiap sesi duel dengan lawan. Beberapa lawannya kalah telak dan membuatnya semakin lepas kontrol.
"Okay break!" seru Sensei Bobby ketika melihat latihan hari ini tidak membuatnya puas. Bagaimana tidak, dari semua lawan Mela adalah cowok. Tapi tidak satu pun dari mereka bisa mengalahkan Mela.
"Lexi, next your turn!" seru Bobby menyuruh Lexi bersiap-siap.
"Siap" jawab Lexi sambil beranjak dari duduknya. Ia melemaskan otot kaki dan tangannya. Sambil memutar-mutar leher ia berjalan ke tengah arena latihan. Menghampiri Mela yang sudah berdiri di sana. Sosok itu tidak seperti saat ia menjemputnya tadi.
Terlihat lebih macho dan tiba-tiba terlintas di pikiran Lexi kalau Mela tak kalah kuatnya dengan pemeran Wonder Woman. Tak sadar ia menghempaskan senyumnya. Mela yang melihatnya membalas dengan mengernyitkan keningnya.
"You've got your Emotional, sweety. Let it go!"
Mela terhuyung. Ia tak lagi fokus mendapatkan bisikan dari Lexi. Kenapa cowok ini bisa mengerti jika dia lagi emosional dan terbaca jelas di mata cowok macho di depannya.
"Okay Break!!" seru Bobby dan mereka kembali membungkuk (salam) satu sama lain.
Lexi melempar botol minuman ke arah Mela. Setelah meneguk air mineralnya ia menghampiri Lexi yang lagi membernarkan sabuk hitamnya. Laki-laki itu terlihat lebih tampan saat keringat membasahi rambut dan wajahnya. Ditambah dada bidangnya terbuka sedikit. Benar-benar sempurna!. Ah... Mela mengibaskan wajahnya agar sadar dari sesuatu yang menghipnotisnya.
"Sorry" Mela mengagetkan Lexi. Ia memperhatikan cewek itu yang sok cool bilang sorry tapi juga sadar jika merasa bersalah. Bibirnya terangkat menyudut.
"It's Okay, sweety!" Mela melirik Lexi yang menimpalinya sambil tersenyum hangat.
"Why?" tanya Mela.
"Why what?" gelak Lexi. "Harusnya aku yang nanya Why ke kamu" tak ayal Mela juga ikut tertawa karena pertanyaannya yang membingungkan.
"Why kamu selalu hangat kepadaku, Lex?"
"Why kamu se-emotional ini, sweety?" balas Lexi yang tak menjawab pertanyaan dari Mela. Mela menggelengkan kepalanya karena Lexi membuat wajahnya memerah.
__ADS_1
"Okay... aku nggak tahu kamu kenapa, tapi tolong jangan melampiaskan ke banyak orang, sweety." bisik Lexi dan kemudian kembali menatap Mela. Mela gelagapan mendapat tatapan tajam dari Lexi. Mata coklat milik cowok itu seolah membiusnya.
"I'm So Sorry" Mela memelas dan menutupi wajahnya. Lexi meninggalkan Mela untuk berganti pakaian. Tanpa Mela sadari sudah tidak ada orang di dalam arena latihan kecuali mereka.
Sekeluar dari berganti pakaian, Lexi berdiri bersandar pada tembok dekat kamar mandi sambil memperhatikan Mela yang masih terpaku di tempat duduknya.
"Kamu mau ganti pakaian apa tidak, Mel?" Mela terkejut dan melihat ke arah Lexi. Ia mengangguk dan langsung mengambil tasnya menghampiri Lexi.
"Kalau kamu ada kegiatan, ga papa aku ditinggal, kok"
Lexi tidak menanggapi perkataan Mela. Ia akan menunggu Mela sampai selesai berganti pakaian.
"Lho, kok masih disini Lex?"
" Tadi kamu berangkat sama aku, pulangnya juga harus aku yang antar" Lexi menarik tangan Mela. Menggiringnya sampai di tempat parkir.
"Aku tidak akan bertanya, ada apa denganmu hari ini. Karena itu privacy. Kalau memang kamu mau cerita, itu lebih baik." sorot mata Lexi lagi-lagi membuat Mela salah tingkah.
"Tapi... kalau kamu belum ingin cerita. Aku tidak pernah memaksa" tambah Lexi.
Mela tersenyum mendapati Lexi yang sangat memahami kondisinya saat ini.
"Thanks, Lex. At least, kamu membantuku meredakan emosi ini. Sorry, saat ini aku lebih ingin menikmati udara segar daripada mengungkit kenapa aku emosi" Lexi mengangguk memahaminya.
It's better, sweety. Senyumnya dalam hati.
"Well, aku temani kamu. Ayo kita pergi ke suatu tempat yang menyegarkan. Come on, naik!" ajakan Lexi membuat Mela menyetujuinya. Mereka menaiki motor gede itu dan melaju ke suatu tempat yang dijanjikan Lexi. Setidaknya hari ini Lexi tidak mengingkari janji, juga.
*
*
*
Hai...
Terima kasih sudah membaca Novel acakadun ini.
Mohon dukugannya.
Thank you so much.....
__ADS_1