Dilema

Dilema
Semua Milikku


__ADS_3

Moetia kembali ke kantor, saat turun dari mobil dia melihat Theo juga sedang turun dari mobilnya tak jauh dari Moetia parkir.


Moetia malas berurusan dengan Theo, dia pura-pura tidak melihatnya.


'Aku harap dia tidak melihatku, tidak melihat ku!' ucap Moetia dalam hati.


Moetia berjalan dengan langkah cepat tapi Theo memanggil nya,


"Moetia!" teriak Theo


Moetia menghentikan langkahnya lalu menepuk jidatnya sendiri.


"Oh tuhan, aku akan emosi jika bicara dengannya!" gumam Moetia


Theo mendekati Moetia,


"Darimana?" tanya Theo sambil tersenyum


"Makan siang!" jawab Moetia singkat


"Dengan Bagas?" tanya Theo sambil menyenggol bahu Moetia.


Moetia menggeleng kan kepalanya,


"Bukan, dengan ayahnya!" seru Moetia lalu berjalan meninggalkan Theo.


Theo terkejut,


"Dengan ayahnya, astaga! wanita ini benar-benar berbahaya!" serunya pelan lalu menyusul Moetia.


Moetia berdecak kesal saat dia di depan pintu lift dan Theo berada disampingnya,


"Tidak pakai lift khusus?" tanya Theo lagi.


"Tidak punya kartu nya!" jawab Moetia beralasan padahal Bagas sudah memberikan kartu aksesnya pada Moetia.


"Aku punya, ayo!" seru Theo menarik pergelangan tangan Moetia dan mengajaknya ke lift khusus.


Di dalam lift Moetia menjauh dari Theo dan menghadap ke arah dinding tapi Theo mendekatinya lagi,


"Kamu sungguh-sungguh makan siang dengan om Chairul?" tanya Theo tidak percaya.


"Bukan urusan mu!" jawab Moetia ketus.


Theo lagi-lagi menyenggol bahu Moetia,


"Hei, apa kamu masih dendam padaku?" tanya Theo santai.


Moetia menghela nafas nya panjang,


"Tidak!" jawab Moetia singkat


"Yang benar?" tanya Theo lagi


Moetia menghadap ke Theo


"Benar, aku tidak dendam padamu! puas?" tanya Moetia kesal.


"Tapi sikap mu tidak begitu?" tanya Theo lagi


Moetia benar-benar kesal pada Theo,


Ting!


Pintu lift terbuka dan Moetia segera keluar dan meninggalkan Theo.


"Moetia!" panggil Theo


Moetia tidak menoleh dan masuk ke dalam ruangannya.


Sampai di ruangannya dia mengambil segelas air putih yang ada di meja kerjanya dan meminumnya.


"Ada apa?" tanya Bagas


Moetia terkejut mendengar suara Bagas dan sedikit memuncratkan minuman yang dia minum tadi.


"Ehm, Bagas kapan kamu masuk?" tanya Moetia sambil mengelap mulutnya dengan tissue.


Bagas yang berdiri dekat rak buku menghampiri Moetia dan mengambil tissue yang di pegang Moetia lalu membersihkan mulut Moetia.


"Sejak tadi, aku sudah sepuluh menit menunggu disini! kamu lama sekali, darimana saja?" tanya Bagas membelai lembut wajah Moetia.

__ADS_1


Moetia menatap menyelidik pada Bagas,


"Apa kamu sungguh tidak tahu tentang semua ini?" tanya Moetia menunjukkan dokumen kerjanya ke Singapura pada Bagas


Bagas meraih dokumen itu dan membacanya,


"Tidak, aku baru tahu! tapi bukankah ini akan sangat menyenangkan?" tanya Bagas senang.


"Apa nya yang menyenangkan, kamu pasti akan menelanku disana!" gumam Moetia pelan


"Apa katamu?" tanya Bagas


Moetia membulatkan matanya,


"Tidak, tidak ada!" jawab Moetia gugup


"Benarkah?" tanya Bagas sambil meletakkan dokumen yang tadi dia baca ke atas meja dan menarik Moetia ke pangkuannya.


"Bagas, lepaskan ini di kantor!" protes Moetia


Bukannya melepaskan Bagas malah memeluk pinggang Moetia dengan erat.


Moetia berusaha memberontak tapi Bagas malah menarik tengkuk Moetia agar lebih dekat dengannya.


Dan jarak mereka sudah sangat dekat, panas dari hembusan nafas Bagas sudah dapat wajah Moetia rasakan.


"Bagas!" seru Theo membuka pintu dan memanggil Bagas.


Moetia segera berdiri dan menjauh dari Bagas. Sementara Bagas terlihat kesal karena gagal merasakan lembutnya bibir kekasihnya itu.


"Sial, dasar pengacau!" kesal Bagas pada Theo


"Hei, ini kantor. Untung saja aku yang masuk, coba karyawan lain. Kalian akan viral lagi!" seru Theo tanpa dosa lalu mendekat ke meja kerja Moetia dan duduk di kursi di depan meja itu.


"Karyawan ku tidak akan ada yang berani masuk ruangan ini tanpa mengetuk pintu!" balas Bagas


"Baiklah, salahku lagi. Ini aku ingin memberikan ini padamu, kata Reno aku harus menyerahkan nya padamu dan bukan pada Moetia, padahal aku sudah mengundang wartawan untuk ini!" seru Theo kecewa.


"Enak saja, ini apartemen ku. Kamu sungguh inginkan pencitraan ya?" tanya Bagas kesal.


"Tidak juga, aku hanya senang jika aku terlihat sebaik kamu dan Austin" sahut Theo jujur.


Bagas dengan cepat menggelengkan kepalanya,


Theo berdecak kesal dan melihat tiket pesawat keluar dari map yang tadi diletakkan Bagas di atas meja kerja Moetia.


"Tiket siapa ini?" tanya Theo meraih tiket itu.


"Moetia kamu akan pergi? apa hubungan kalian baik-baik saja?" tanya Theo penasaran.


Bagas merebut tiket yang di pegang Theo,


"Hubungan kami baik-baik saja sebelum kamu datang!" seru Bagas.


Theo lagi-lagi berdecak kesal,


"Beginilah bila berada diantara dua orang yang sedang dimabuk asmara, aku seperti angin saja!" seru Theo dengan wajah yang dibuat memelas


Mendengar ucapan Theo dan melihat ekspresi nya, Moetia terkekeh pelan.


Theo menoleh ke Moetia,


"Tertawa saja Moetia jangan ditahan!" seru Theo kesal.


Sementara itu di lokasi pemotretan, Manda sedang berada disana bersama dengan para kru dari perusahaan Theo.


Manda sudah selesai dengan sesinya, dan sedang duduk santai sambil mengobrol dengan salah satu karyawan Theo.


"Dimana Theo?" tanya Manda pada Silvi


"Sedang ada urusan, ada apa mbak Manda?" tanya Silvi


"Jangan panggil mbak, panggil saja Manda!" ucap Manda ramah.


"Iya Manda!" sahut Silvi


"Oh ya, apakah kamu tahu kalau aku dan Bagas adalah teman Theo sejak kuliah?" tanya Manda.


Silvi mengangguk,


"Benarkah, yang aku tahu pak Bagas memang sahabat pak Theo dari kecil. Bahkan keluarga mereka sangat dekat. Oh ya, ada satu orang lagi, pak Austin. Dia bahkan akan menjadi Kakak ipar pak Theo!" jelas Silvi

__ADS_1


Manda agak terkejut, dia tidak menyangka setelah tiga kali ditolak oleh nya. Theo bisa mencintai wanita lain, bahkan itu adalah adik dari Austin.


"Benarkah? sejak kapan Theo berhubungan dengan adik Austin?" tanya Manda sangat penasaran.


"Sudah lama, dan kalau tidak salah sebentar lagi tunangan pak Theo juga akan datang ke Indonesia." seru Silvi.


Manda tersenyum kaku,


"Oh begitu ya? baguslah!" serunya canggung.


'Theo sudah bertunangan? tapi baguslah dia tidak akan menganggu ku dan Bagas lagi!' batin Manda


Beberapa jam kemudian, Moetia sudah menyelesaikan pekerjaan nya dan ingin meminta ijin pulang pada Bagas.


Moetia ke ruangan Bagas, dan melihat masih ada Theo disana.


"Aku pulang dulu ya!" ijin Moetia pada Bagas.


Bagas mendekati Moetia dan mencium keningnya,


Cup!


"Baiklah, hati-hati di jalan. Beristirahat lah, sampai jumpa besok pagi!" ucap Bagas lembut.


Moetia tersenyum, sebenarnya ada yang ingin dia katakan pada Bagas. Tapi dia takut Bagas akan marah.


"Bagas, tapi sebelum pulang aku ingin bertemu seseorang, boleh ya?" tanya Moetia gugup.


Bagas melihat Moetia dengan tatapan menyelidik,


"Penyanyi cafe itu?" tanya Bagas


Moetia mengangguk perlahan,


"Sebentar saja!" ucap Moetia lembut


Bagas menggeleng kan kepalanya,


"Tidak!" seru Bagas tegas.


Theo berdiri dan menepuk bahu Bagas,


"Biarkan saja, Gio adalah sahabat nya. Lagipula dia akan menjadi milikmu seminggu ke depan, setidaknya biarkan dia bernafas dengan lega sebentar!" seru Theo santai.


Bagas melirik Theo sekilas,


"Baiklah, tapi tidak ada pegangan tangan apalagi lebih dari itu!" seru Bagas.


Moetia mengangguk senang,


"Iya," jawabnya


"Theo tutup matamu!" seru Bagas


"Kamu mau apa? jangan macam-macam Bagas. Ini di kantor!" seru Theo


"Sudah diam, cepat tutup matamu!" seru Bagas lagi.


Theo berdecak kesal dan berbalik lalu memejamkan matanya.


"Sudah!" ketus Theo.


Bagas mendekatkan wajahnya ke wajah Moetia, Bagas mencium kening Moetia, lalu kedua matanya, berpindah lagi ke dua pipinya lalu ke bibir nya.


Moetia terpana, wajahnya memanas. Dia selalu dibuat tidak berkutik di depan Bagas.


"Semua ini milikku, selain aku tidak boleh ada yang menyentuh nya, mengerti!" seru Bagas tegas tapi secara lembut.


Moetia tersipu, dan mengangguk paham.


"Iya, sampai jumpa!" seru Moetia


Saat Moetia akan keluar Bagas meraih tangannya dan mencium punggung tangan kanan Moetia.


"Sampai jumpa besok sayang!" serunya lembut.


Jantung Moetia benar-benar dibuat berdebaran tak karuan. Dia keluar dari ruangan Bagas sambil meletakkan tangannya di dadanya.


"Ya Tuhan, jantungku" gumam nya sambil jalan.


...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya 🙏🌟❤️👍...


...Think u ❤️ all...


__ADS_2