Dilema

Dilema
Kejutan Dari Bagas


__ADS_3

Theo mengajak Moetia ke lantai empat longue itu. Theo masih memimpin jalan di depan dan Moetia mengikutinya dari belakang.


Sebenarnya Moetia masih ragu, tapi dia juga tidak ingin membuat usaha Theo dan Bagas sia-sia.


'Sudah lah, lebih baik dihadapi saja!' batin Moetia menyemangati dirinya sendiri.


Theo berhenti di depan sebuah pintu, dan meminta Moetia untuk masuk ke dalamnya.


"Hei, kenapa kamu tidak ikut masuk?" tanya Moetia.


"Ini kejutan untuk mu! dari Bagas. Aku tidak akan menganggu kalian!" jawab Theo lalu membukakan pintu untuk Moetia.


Ketika Moetia melangkah maju, suara deru percikan kembang api yang meluncur ke angkasa terdengar sangat ramai.


Kilau lampu dari percikan kembang api itu terlihat sangat indah dari tempat Moetia berdiri.


Moetia tidak lagi memikirkan yang lain, matanya terpukau melihat berbagai bentuk yang indah yang dihasilkan dari luncuran berbagai warna kembang api itu.


Tanpa dia sadari seseorang sudah meraih pinggang nya dan memeluknya dari belakang.


"Aku mencintaimu Moetia." bisik Bagas dengan suara lembut.


Jantung Moetia seperti akan mencelos dari tempatnya, seluruh tubuhnya melemah. Matanya sudah berkaca-kaca.


Dia hanya diam tak merespon Bagas.


Bagas tahu wanita yang sangat dicintai nya yang saat ini ada dihadapannya itu sedang marah padanya.


Bagas melepaskan pelukannya dan melangkah ke hadapan Moetia.


Moetia menundukkan wajahnya karena tidak ingin menunjukkan matanya yang berkaca-kaca pada Bagas.


Bagas meraih dagu Moetia agar menatapnya, Moetia mengangkat wajahnya tapi masih menundukkan matanya.


"Maafkan aku Moetia, apa kamu benar-benar tidak ingin melihat ku?" tanya Bagas dengan suara lembut yang makin tenggelam antara gemuruh nya suara kembang api yang meledak di angkasa.


Moetia menaikkan kelopak matanya perlahan dan menatap Bagas, air matanya mengalir begitu saja.


Moetia memeluk Bagas dan menangis di pelukannya.


Bagas senang, Moetia memeluknya. Korean itu berarti Moetia sudah tidak marah lagi padanya.


Bagas pun membawa Moetia ke pinggir balkon memeluknya dengan erat sambil melihat pertunjukan kembang api yang sudah dia siapkan khusus untuk Moetia.


"Kamu menyukainya?" tanya Bagas.


Moetia hanya mengangguk perlahan, Bagas menggenggam kedua tangan Moetia dan mencium nya bergantian kanan dan kiri.


"Percayalah padaku Moetia, aku hanya mencintai kamu. Tidak hanya saat ini, tapi untuk seterusnya dan selamanya sampai maut memisahkan..."


Moetia menutup mulut Bagas dengan tangan kanannya, Moetia menggelengkan kepalanya berkali-kali,


"Jangan bicarakan hal mengerikan seperti itu!" ucap Moetia gugup.

__ADS_1


Bagas tersenyum senang, Bagas menyentuh lembut wajah Moetia. Matanya terus tertuju ke arah bibir Moetia yang hari ini memakai lipstik berwarna merah.


Bagas mendekatkan wajah nya pada Moetia dan mencium lembut bibir kekasihnya itu. Semakin dalam dan Moetia pun membalasnya.


Mereka terhanyut satu sama lain, hingga mereka tidak menyadari dari balkon sebelah seseorang telah mengabadikan momen kemesraan mereka itu.


"Foto yang bagus! gambar yang sempurna!" gumam orang itu lalu menyimpan ponselnya dan kembali melihat pertunjukan kembang api di depannya.


Setengah jam kemudian, pertunjukan selesai.


Bagas mengajak Moetia turun ke lantai bawah dimana Reno dan Theo sudah menunggu mereka.


Hingga menghampiri Theo dan Reno, Bagas tidak melepaskan tangan Moetia dari genggamannya.


"Kita pulang!" seru Bagas.


"Baik bos!" sahut Theo sambil memberikan hormat seperti saat upacara.


"Bagaimana adikku? kamu suka pertunjukan kembang apinya? atau kamu lebih suka dengan yang memberikan pertunjukan itu untukmu?" tanya Theo menggoda Moetia.


"Aku bukan adikmu!" seru Moetia tegas.


"Hei, apa susahnya memanggilku kakak?" protes Theo.


Bagas hanya menggeleng kan kepalanya, dia menarik tangan Moetia pelan agar segera berjalan mengikutinya dan meninggalkan tempat itu.


Reno hanya mengikuti mereka dari belakang, sementara Theo masih saja sibuk ingin Moetia juga memanggilnya kakak seperti Reno.


"Bukankah sangat menarik pak Syarif? ternyata yang mengalahkan kita dalam bisnis baru ini adalah orang-orang seperti mereka?" tanya Marvin pada asistennya Syarif.


"Tapi ketiga orang itu juga adalah orang yang sangat berpengaruh di kota mereka!" seru Syarif.


"Tapi bukankah, saat ini mereka tidak sedang berada di kota mereka. Dan aku bisa lihat dengan jelas, apa kelemahan mereka!" seru Marvin.


Syarif mulai tidak menyukai saat bos nya itu berkata seperti itu.


"Tuan, tapi kita tidak boleh melibatkan wanita dalam bisnis!" ucap Syarif mengingatkan Marvin.


"Semua adil dalam bisnis pak Syarif, itu adalah aturan yang aku buat." sahut Marvin sombong.


"Tapi tuan..."


"Cukup pak Syarif, kita masih punya pekerjaan lain. Kali ini aku boleh kalah darimu Bagas Chairul Wiguna, tapi lihat saja nanti!" seru Marvin lalu meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, Bagas dengan ke bucinannya tidak melepaskan tangan Moetia walau hanya sebentar saja.


Moetia yang sudah sangat kelelahan juga sudah tertidur sambil bersandar di dada Bagas.


Sesekali Bagas mencium puncak kepala Moetia dan mengelusnya dengan lembut.


"Reno, Theo terimakasih untuk bantuan kalian hari ini!" seru Bagas.


Theo terkejut mendengar Bagas mengucapkan terimakasih padanya,

__ADS_1


"Reno apa aku tidak salah dengar? tuan mu mengucapkan terimakasih padaku?" tanya Theo pada Reno yang sebenarnya niatnya adalah untuk menyindir Bagas.


Reno tersenyum,


"Sama-sama bos, tidak masalah!" jawab Reno.


Merasa di acuhkan oleh Reno, Theo malah melirik ke arah Bagas yang masih memeluk Moetia dengan lembut.


Theo melihat sekilas wajah Moetia yang kelelahan.


"Hei Reno, tadi kudengar Moetia memanggilmu kak Reno! katakan padaku bagaimana caramu membuat Moetia mau memanggilmu seperti itu?" tanya Theo.


Bagas lagi-lagi harus menendang kursi Theo,


"Diam lah! kamu berisik sekali. Nanti Moetia bisa terbangun!" seru Bagas pada Theo.


"Hei, dia akan terbangun karena teriakan mu barusan!" bantah Theo.


Bagas berdecak kesal dan ingin membalas ucapan Theo, tapi Moetia melenguh dan membuka matanya.


"Kalian berisik sekali! kak Reno apa masih lama? aku mengantuk sekali!" ucap Moetia lemah.


"Sebentar lagi Moetia!" jawab Reno sambil tersenyum.


Bagas segera mendekat ke Moetia yang menggeser duduknya agak jauh dari Bagas.


"Maaf sayang, berandalan di depan itu sudah mengganggu tidur mu!" ucap Bagas


Theo merasa tersinggung,


"Heh, berandalan ini juga yang sudah berjalan kaki selama setengah jam membawa kekasih mu itu ke hadapan mu!" protes Theo.


"Apa? kalian jalan kaki?" tanya Bagas cemas


Bagas lalu menyentuh lengan Moetia,


"Kamu pasti sangat lelah, bagaimana kalau nanti sampai di hotel aku pijat kaki mu?" tawar Bagas sambil tersenyum.


Moetia malah bergidik ngeri mendengar tawaran Bagas,


"Tidak perlu, aku juga sudah biasa jalan kaki!" jawab Moetia beralasan.


"Kalau begitu pijat aku saja!" sahut Theo.


Bagas memukul lengan Theo,


"Kamu pikir kamu siapa? enak saja!" balas Bagas.


...🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁...


...Tinggalkan Like, Komentar dan Favoritnya kalian ya ❤️❤️❤️...


...Think u ❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2