Dilema

Dilema
Part 25 Tak sempat


__ADS_3

Di hari minggu pagi aku membersihkan rumput di halaman belakang, ku bersihkan rumput kecil itu mengunakan tangan dan ku kumpulkan ke dalam bak sampah plastik.


pada rumput yang terlihat lebih tinggi dan besar, ku gununakan parang untuk membersihkannya.


"Ga sempat!" ucap sebuah suara.


Aku masih saja fokus dengan rumput di belakang rumahku.


"Dikit aja, sapu bentar" ada suara lagi.


Suara itu adalah suara Ayah mertua dan Ibu mertua.


"Biar aja kotor" ucap Ibu.


Aku berdiri dan bermaksud mengambil sapu lidi di dalam garasi, di dalam garasi milikku.


Di dalam garasi itu, bukan hanya motor saja yang ada disana banyak peralatan disana,berbagai macam benda disana.


Seperti kotak obeng, alat semprot, alat pancing,alat pel termasuk sapu lidi tadi dan masih banyak yang lainnya.


Sambil berjalan aku melihat Kedua mertuaku sedang duduk di dapur belakang dengan ada bangku panjang di rumah Desi,Ada Dion di pangkuan ayah mertua jarak sekitar sepuluh meter memang tapi suara Ibu mertua jelas sekali.


Apalagi kalau melihat Dion aku langsung mendatanginya, entah itu ku cium ku gelitik dan ku ajak bercanda, tapi tak kulakukan.


sepertinya Ibu mertua sengaja berkata keras, mungkin biar aku mendengar jelas, tak ku hiraukan memang, aku tetap melakukan aktifitasku.

__ADS_1


Biasanya aku kerumah Ibu terlebih dahulu untuk membersihkan sampah dan menyapu halamannya, tak banyak juga sampah tapi ada juga, selain itu ada pohon di depan rumah Ibu, lumayan lah daun-daun itu berserakan di bawahnya.


Sekarang aku tak menyapu lagi di rumah Ibu , aku sudah malas, buat apa toh dengan sengaja Ibu mengotorinya.


*


"Nenek buang sampah sembarangan" teriak


suara Ria


"Biarkan saja, Nanti Nadia yang membersihkannya" suara Ibu mertua


" hahaaa" tertawa Ibu mertua.


Dan ada beberapa bungkus jajanan di buang ke jendela samping rumah Ibu.


kemasan minuman kosong di lempar.


Aku yang berjalan melewati jalan samping menuju rumah itu melihat sampah yang di buang ke arah jendela, segera ku hentikan langkah, ternyata begitu sikap Ibu padaku.


Aku diam dan menatap ke depan, setelahnya aku memutuskan untuk kembali ke rumah nanti saja menjemput anakku.


lagi pula baru Jam lima sore.biarlah aku pulang dulu, ada rasa sebal di dada ini, dan sebaiknya aku pulang dulu ke rumah , nanti akan ku jemput anakku setelah rasa sebal ini hilang.


Padahal bisa saja aku langsung berjalan dan menjenguk ke jendela, serta menegur Ibu, yah seperti memergoki lah, hanya saja itu tak kulakukan, lagi pula buat apa nanti malah berdebat dan bisa jadi bertengkar.

__ADS_1


Tinggal aku saja jangan melakukannya lagi, beres! Terserah Ibu mau bicara apa.


Dulu aku berpikir positif saja, saat memungut sampah-sampah itu ,dan membersihkannya dengan senang hati


Tak masalah bagiku tapi Ibu mengotorinya dengan sengaja, kan di rumah Ibu juga ada bak sampah, ya memakai bak sampah kan agar lebih mudah,tinggal menaruh ke halaman belakang.


Dibagian belakang ada tanah yang sudah di lubangi sekitar dua meter ke samping dan dengan dalam hanya tiga puluh centimeter itu, disanalah tempat mengumpulkan sampah rumah ku,Ibu dan adik Ipar.


Teringat waktu itu, aku ke rumah Ibu saat di pagi hari ingin memberikan pisang goreng sebanyak satu piring.


" Nyapu kok ga bersih masih berkerikil ini!"


" kalau Nadia yang nyapu bersih semua"


"alah..lama!"


Mendengar itu akupun berbalik badan menuju rumah kembali, sahutan Ibu mertua terdengar dengan nada amarah, dan menurutku terkesan tidak suka atas perkataan ayah mertua.


Setelah sampai rumah ku suruh ayah Faira mengantarkan pisang goreng, ku beri alasan aku tiba-tiba mau pipis kataku, untung saja waktu itu dia mau dan segera mengantarkan.


" Cepetan Mas nanti ke buru dingin" ucapku


"Ya" sahutnya.


*

__ADS_1


Ku lanjutkan menyapu bagian belakang rumah dan area depan rumah. Setelah selesai aku pun mencuci tangan dan melanjutkan meredam pakaian dan memasak.


__ADS_2