Dilema

Dilema
Sisi Lain Bagas


__ADS_3

Sementara itu Gio yang juga berada di hotel yang sama sedang berlatih bersama para pemain musik.


Diana melihat Gio kurang konsentrasi, kurang fokus saat latihan.


Para pemain musik juga mulai lelah sepertinya.


Diana meminta ijin istirahat sebentar pada semuanya.


Diana membawa Gio melihat dari lantai atas area kolam renang indoor tempatnya akan tampil nanti malam.


"Lihat itu!" seru Diana menunjuk ke arah area yang sudah rapi dan dipasangi lampu yang sangat megah.


"Apa?" tanya Gio.


Diana memukul lengan Gio,


Plak!


"Kamu ini memang dong-dong sekali ya, menyebalkan!. Lihat semua itu, setelah melakukan hal sebanyak ini apa si wanita akan menolak si pria?" tanya Diana menjelaskan.


Gio mengamati dengan seksama, akhirnya dia malah tertunduk diam.


"Kakak menyindirku lagi ya?" tanya Gio.


Pertanyaan Gio membuat Diana memutar bola matanya.


"Kamu adalah bagian dari acara ini, jika penampilanmu tidak sesuai dengan harapan klien kita, maka kamu juga bertanggung jawab jika nanti klien kita tidak mendapatkan apa yang kita mau!" terang Diana.


"Kenapa jadi aku? mungkin saja si wanita memang tidak menyukai si pria!" bantah Gio.


"Hei dong-dong. Semua wanita itu realistis, lihat semua ini. Dan lihat berapa bayaran mu untuk ini. Hanya wanita bodoh saja yang menolak semua ini!" terang Diana.


Gio menghela nafasnya,


"Dan hanya wanita materialistis yang menyukai semua ini!" bantah Gio lagi.


Diana sampai menepuk jidat nya sendiri,


"Astaga Gio, hentikan picisan mu itu. Dengarkan aku! tampil dengan baik, berkosentrasi lah. Lakukan demi dirimu sendiri!" seru Diana.


"Aku juga sudah berusaha, tapi pikiranku tidak tenang. Kakak tahu kan sudah dua hari aku tidak menghubungi Moetia, biasanya setiap hari aku menelponnya." keluh Gio


Diana menggelengkan kepalanya berkali-kali,


"Baiklah begini saja. Aku akan mencari tahu kabar tentang Moetia. Kamu disini tenang saja, latihan yang baik dan tampil dengan sempurna. Oke!" seru Diana.


"Kakak akan mencarinya dimana?" tanya Gio.


"Aku akan ke rumahnya, aku akan minta alamatnya pada Gina! Puas?" tanya Diana.


Gio langsung tersenyum dan memeluk Diana


"Kamu yang terbaik kak!" puji Gio


"Aku tahu, sekarang pergilah ke tempat latihan dan berlatih dengan baik. Jangan buat aku rugi dengan membayar denda karena klien tidak puas pada performa mu!" seru Diana sambil berlalu.


Gio kembali ke ruang latihan. Dan melakukan apa yang Diana katakan.


Sementara itu fitting pakaian dan make up Manda pun sudah selesai.


"Dimana Moetia? kenapa dia belum kembali?" gumam Manda.


"Dia tidak akan kembali!" sahut Theo


"Kenapa?" tanya Manda.


"Aku yang memintanya agar tidak kembali, agar aku bisa mengantarmu pulang!" jelas Theo


Manda terkekeh

__ADS_1


"Berhenti bercanda!" seru Manda lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya.


"Astaga! aku lupa. Moetia tidak bawa ponsel!" gumam Manda


Theo menggandeng lengan Manda,


"Sudahlah, biar aku saja yang mengantarmu pulang!" seru nya


Manda tersenyum dan mengiyakan ajakan Theo,


"Baiklah, aku juga ingin dengar cerita tentang mu di luar negeri!" seru Manda


"Kalau begitu, ayo!" ajak Theo.


Theo dan Manda berjalan menuju ke area parkir, dan melihat area kolam renang indoor.


Langkah Manda terhenti, Theo juga berhenti.


"Ada apa?" tanya Theo


Manda melihat ke ruangan itu, sangat romantis menurutnya. Dia melihat tulisan pernyataan cinta seorang pria untuk kekasihnya.


Matanya tiba-tiba berkaca-kaca.


'Seandainya kisah ku bisa seperti ini!' batin Manda


Theo menepuk bahu Manda,


"Jika dulu pilihanmu adalah aku, kemungkinan untuk mendapatkan kejutan seperti ini adalah 75 persen, tapi karena pilihanmu adalah Bagas kemungkinannya adalah nol persen!" seru Theo.


Manda menoleh dengan tatapan tajam. Manda mencubit perut Theo.


"Aduh," pekik Theo


"Rasakan itu, kamu menyebalkan!" seru Manda melangkah mendahului Theo.


Sementara itu, Moetia sedang berada di mall untuk memilih gaun yang akan dia pakai makan malam bersama Bagas.


Moetia keluar dari kamar ganti dan memperlihatkannya pada Bagas.


"Bagaimana?" tanya Moetia


"Apa kamu akan pergi ke pemakaman!" seru Bagas.


Moetia berdecak kesal dan masuk kembali ke kamar pas.


Dia mencoba gaun berwarna biru yang tadi dipilihkan Bagas.


Beberapa saat kemudian Moetia keluar lagi dan memperlihatkannya pada Bagas.


Belum Moetia bertanya, Bagas sudah berkata sambil mengacungkan jempolnya.


"Sempurna!" puji Bagas


Moetia hanya menghela nafasnya,


"Gaun ini terlalu pendek!" keluh Manda.


Bagas berdiri menghampiri Moetia dan mengajaknya melihat ke arah cermin.


"Lihatlah, kamu sangat sempurna dengan gaun ini!" seru Bagas memandang Moetia dari cermin besar dihadapan mereka.


"Tapi Bagas! kenapa harus memakai gaun? jika hanya makan malam bersama sahabatmu?" tanya Moetia.


"Tidak apa-apa, aku hanya ingin kamu memakainya. Aku lebih suka melihatmu memakai pakaian seperti ini daripada kemeja dan celana panjang seperti biasanya itu. That's it!" jawab Bagas


Moetia mengangguk paham


"Baiklah, tapi aku harus pulang dulu. Nanti malam aku akan datang ke Lux." ucap Moetia berbalik menghadap Bagas.

__ADS_1


Bagas menggelengkan kepalanya.


"Tidak!" seru Bagas manja pada Moetia


"Bagas, aku harus meminta ijin dulu pada mama dan papa ku!" sahut Moetia.


"Telpon saja mama mu dan bilang padanya kamu akan makan malam diluar," seru Bagas.


Moetia lagi-lagi berdecak kesal lalu mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Soraya.


"Halo" sapa Soraya


"Mama, ini Moetia." jawab Moetia


"Sayang, ini nomer baru kamu?" tanya Soraya.


"Iya ma, ini nomer Moetia yang baru. Ma, Moetia mau minta ini. makan malam diluar." seru nya.


"Dengan siapa? Manda?" tanya Soraya


"Bukan ma, tapi boleh kan ma?" tanya Moetia


"Baiklah, jangan pulang malam-malam ya!" seru Soraya


Moetia menganggukkan kepalanya


"Iya, da mama!" seru Moetia


"Da, sayang!" jawab Soraya.


Moetia sedikit menjauh dari Bagas dan menghubungi Manda.


"Halo," sapa Moetia


"Moetia, kamu dimana? kenapa tidak kembali? Apa ini nomer kamu yang baru? jadi kamu pergi membeli ponsel?" tanya Manda bertubi-tubi.


"Manda aku sedang di mall, dan maaf karena aku tidak kembali kesana. Apa Theo mengantarmu pulang?" tanya Moetia


"Iya, dia sedang mengambil mobilnya. Dan dia bilang dia sengaja memintamu pergi. Maafkan dia ya Moetia, dia memang konyol tapi Theo adalah orang yang baik!" jelas Manda.


Moetia tersenyum getir,


"Iya, sepertinya memang begitu!" ucap Moetia


"Baiklah Moetia, Theo sudah datang! sampai ketemu di rumah!" seru Manda


"Baik," jawab Moetia.


Bagas mendekati Moetia,


"Kita bisa pergi sekarang!" ajak Bagas


"Ini baru jam setengah enam, apa kamu sudah lapar?" tanya Moetia.


"Iya, sangat lapar. Dan aku ingin sekali memakan mu!" ucap Bagas


Moetia merinding mendengar kata-kata Bagas barusan.


Moetia menjauh darinya.


"Hentikan bicara seperti itu!" protes Moetia


"Baiklah, ayo kita pergi sekarang. Kita bisa habiskan waktu berdua di tempat aku dulu menyatakan cinta padamu! sebelum ketiga temanku itu datang dan mengganggu kita!" ucap Bagas lembut mengulurkan tangannya pada Moetia.


Moetia tersenyum dan menyambut tangan Bagas.


Mereka berdua pergi ke Lux Resto, tempat dimana dulu Bagas menyatakan cintanya pada Moetia.


Sepanjang jalan Moetia masih mengingat bagaimana Manda menceritakan sisi dingin dan cuek Bagas setelah kejadian satu setengah tahun lalu. Tapi di hadapannya sisi itu tidak terlihat.

__ADS_1


Hanya ada Bagas yang lembut dan hangat yang membuat Moetia selalu tenang berada di dekatnya.


__ADS_2