Dilema

Dilema
Part 20 POV Riki


__ADS_3

Geram sekali rasanya dari kemaren ingin menghajar si Steven, sudah jelas, bahkan satu kantor sudah tau kalua aku menyukai Nadia, satpam yang selalu di depan saja mengetahuinya.


Apa maksudnya berbicara sangat dekat dengan Nadia, dengan duduk di depan meja Nadia, walaupun di depan meja itu ada kursi dan si Steven itu duduk.


Kalau kemaren aku mengetahuniya, akan ku hajar di tempat, aku tak perduli, aku sering berkata kalu aku suka dengan Bu Nadia, dia pikir itu hanya lelucon.


Aku duduk di teras rumah dan menikmati kopi yang baru saja ku seduh, dan membuka chat group wa sekolah.


Di group chat wa itu ku lihat ada beberapa foto kegiatan di sekolah, mataku fokus pada satu foto, foto itu menunjukan foto kegiatan, di pojok Foto itu ada Nadia dan steven berbicara berhadapan.


Tak jelas memang, tapi mereka seperti berbicara serius,jaraknya tidak dekat karena di hadapan nadia ada laptop.


Bergemuruh dalam dada ini melihat foto itu, apa si Steven mendekati Nadia.


Tanganku mengepal erat. Saat tidur malam tiba , mata ini tak terpejam,tak tau kenapa aku tak bisa tidur.


*


Pagi hari, aku berangkat tak ku perdulikan sarapan yang sudah siap di meja, segera aku ke sekolah, ku lajukan motorku agar segera sampai ke sekolah, aku akan menunggu Steven.


Jam menunjukan setengah sembilan pagi,tak telihat si Steven muncul, hati ini terasa panas sampai ke ubun-ubun rasanya.aku tak beranjak,ku cek wa group, apakah si Steven Izin.

__ADS_1


Tak berapa lama,muncul lah motor matic putih miliknya, ku tunggu dia parkir dan melepas helmnya.


"Apa yang kamu lakukan pada Bu Nadia!"seru ku tak sabar.


"Ada apa pak?"


"Apa!"


"Tidak melakukan apa-apa" steven terlihat bingung.


" Maksud Bapak apa? duduk di depan meja Bu Nadia!" ucapku lantang.


"Lo pak, tidak apa-apa dong"sahutnya .


Aku tak tau apa sebabnya, Nadia yang terlihat apa adanya mampu membuatku secemburu ini.


Dasar si Steven tak tau apa, Bu Nadia memang sudah menikah dan punya suami, tapi aku menyukai nya,aku juga tak mengerti.


Aku selalu ingin Nadia jadi pedampingku, menjadi istriku,sangat sempurna sekali.


Kecemburuanku teramat sangat, aku juga tak mengerti, aku juga sudah menikah dan memiliki seorang isteri, tapi pernikahan kami karena perjodohan.

__ADS_1


Setiap hari aku merasa hambar pada pernikahan yang kujalani,sampai sekarang kami,belum mempunyai anak, menyetuh istriku pun sangat jarang, lagi pula dia tak pernah protes dia hanya sibuk degan karirnya.


Akupun tak peduli, di rumahpun kami seperti orang lain, aku tak bisa mencintainya.


padahal Safira isteri ku cantik, baik dan perhatian tapi aku tak bisa mebohongi diri ini, tak bisa aku mencintainya.


Tepat tiga tahun,Pada hari itu Nadia datang, dia mulai bekerja. Nadia bekerja sebagai guru honor di SD Cempaka Berseri, saat itu sekolah kami memang kekurangan guru kelas sebanyak dua orang.


Latar pendidikan Nadia adalah sarjana Ekonomi, jauh berbeda dengan profesi keguruan.


Kepala sekolah memutuskan menerima Nadia karena menurutnya bisa belajar, toh disini ada tiga guru yang lulus SMA dan kuliah kembali.


Itulah pertimbangan kepala sekolah pada waktu itu, dia berkata yang penting niat dan mau mengabdi tidak ada masalah, semua guru dan staf disini sama--sama belajar,begitulah keputusan beliau.


Melihat Nadia terasa Indah, seindah hatiku yang selalu berbunga-bunga, aku selalu mencuri pandang padanya.


Nadia cuek dia menganggap aku biasa saja seperti teman pada umumnya,aku menatapnya dalam diam, ku gunakan masker agar tak terlihat.


Mejaku dan meja Nadia berseberangan, Nadia sering sibuk dengan laptop atau hpnya, terkadang mengoreksi tugas di mejanya, ku tatap dalam diam,sebenarnya ini dalam islam tak etis.


Seperti kisah cinta sayyidina Ali dan putri bagainda Nabi sayyidina Fatimmah yang mencinta dalam diam, setanpun tak tau mereka saling ada rasa.

__ADS_1


sementara aku..


Aku mencintainya itu saja cukup, aku tak bisa menjelaskannya.


__ADS_2