Dilema

Dilema
Kak Reno


__ADS_3

Theo merasa sangat menyesali ucapannya ketika melihat Bagas sudah berdiri di depannya sambil mengepalkan tangannya dan menatap mata Theo dengan mata yang sudah merah.


"Bagas, sorry. Aku tidak sengaja.."


Bagas mendengus kesal lalu pergi meninggalkan Theo.


Theo terduduk lemas di salah satu anak tangga di bukit Faber.


Theo juga terlihat benar-benar menyesal.


"Astaga, aku dalam masalah!" gumamnya melihat Bagas melangkah dengan cepat menuruni bukit.


Sementara itu Moetia sudah sampai di pintu keluar. Reno berusaha mendahului nya, dia sangat sedih melihat Moetia sudah menangis dan saat Reno menarik tangan nya untuk menghentikan Moetia, Moetia memalingkan wajahnya.


"Moetia," panggil Reno.


"Moetia, lihat aku!" seru Reno.


Moetia dengan ragu melihat ke arah Reno.


"Aku antar pulang ke hotel ya?" tanya Reno pelan.


Moetia menggeleng kan kepalanya dengan cepat,


"Tidak, Bagas pasti akan kesana. Aku tidak mau bertemu dengannya juga Theo!" jawab Moetia.


"Baiklah, kita ke mobil dulu. Nanti kita pikirkan sambil jalan!" sahut Reno lembut.


Moetia menganggukkan kepalanya setuju. Mereka berdua pun menuju ke area parkir.


Reno membukakan pintu bagian penumpang di belakang untuk Moetia, tapi Moetia malah membuka pintu dan masuk ke bagian penumpang yang ada di depan.


Reno menutup kembali pintu mobil yang tadi dia buka lalu segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan area mount faber.


Bagas yang melihat dari jauh Moetia sudah bersama Reno menjadi sedikit lega.


Dia kemudian memutuskan untuk kembali ke hotel dan menemui Moetia disana.


Di perjalanan Moetia masih sesekali menyeka air matanya yang tidak juga mau berhenti.


"Ini pakailah!" Reno memberikan sapu tangannya pada Moetia.


Moetia meraih saputangan itu dan menyeka tangisnya.


"Terimakasih Reno!" sahut Moetia.


"Apa kamu ingin ke suatu tempat?" tanya Reno.


"Apa kamu tahu dimana aku bisa berteriak tanpa mengganggu orang lain?" tanya Moetia.


Reno menganggukkan kepalanya,


"Iya, aku tahu. Kamu mau aku mengantarmu kesana?" tanya Reno.


Moetia mengangguk perlahan. Dan Reno pun segera membawa Moetia ke sebuah pantai yang sepi. Disana tidak terlalu ramai karena banyak bebatuan besar dan area pantainya tidak luas. Dan tempat itu pun tidak ada dalam daftar tempat wisata.


Reno menghentikan mobil tepat di dekat sebuah pohon kelapa yang masih tergolong pendek dan belum berbuah.


Reno mengajak Moetia turun dari dalam mobil dan menggandengnya menuju bibir pantai.

__ADS_1


"Disini, kamu bisa berteriak sesuka mu. Tidak akan ada yang terganggu!" seru Theo melepaskan tangan Moetia.


"Kamu..."


"Aku akan memakai headset dan menunggu di mobil." sela Reno.


Reno pun segera masuk kedalam mobil dan memakai headset dan memutar lagu di ponsel nya.


Moetia menghadap ke arah laut dan mengambil nafas dalam-dalam.


"Aaaaaaaa!" Moetia berteriak menumpahkan semua beban di hati dan pikirannya.


"Aaaaaaaa!" teriaknya lagi lalu jatuh bersimpuh di atas pasir dan Moetia kembali menumpahkan tangisnya.


Reno menjadi tidak tega, dia melepas headset dan meletakkan ponselnya, tapi dia ragu saat akan membuka pintu mobil dan keluar.


"Dasar Moetia bodoh, dasar bodoh!" teriak Moetia lagi, Moetia marah pada dirinya sendiri.


"Aku membencimu Moetia! kamu sangat buruk! sangat buruk Moetia!" teriak Moetia lagi.


Reno terkejut, Moetia bukan marah pada Bagas atau Theo. Dia marah pada dirinya sendiri.


Reno merasa hatinya pilu melihat Moetia seperti itu, tapi dia ragu untuk mendatangi Moetia.


Moetia kembali berdiri dan meraup pasir lalu melemparkannya kelaut.


"Akh," pekik Moetia yang terjatuh karena sapuan ombak terlalu kencang.


Reno segera berlari menghampiri Moetia dan membantunya menjauh dari bibir pantai,


"Kamu tidak apa-apa Moetia?" tanya Reno cemas.


"Lihat aku Reno, aku basah kuyup." ucapnya sambil terkekeh sendiri.


Moetia juga memperhatikan Reno yang juga basah kuyup terkena ombak.


"Kamu juga!" kekeh Moetia.


Reno tersenyum melihat Moetia sudah tidak menangis lagi.


Moetia menepis tangan Reno dan menariknya duduk disebelahnya.


"Huh, cukup lega. Terimakasih banyak Reno!" ucap Moetia lalu menghela nafasnya.


"Aku pikir tadi kamu akan memaki bos atau Theo!" sahut Reno.


"Benarkah? itu yang ada di pikiran mu? kenapa aku harus memaki mereka?" tanya Moetia.


"Bukankah kamu marah karena ucapan Theo?" tanya Reno.


Moetia menggeleng kan kepalanya,


"Aku marah pada diriku sendiri Ren, aku marah karena aku begitu bodoh. Jika tidak aku tidak akan bertahan ada di antara Bagas dan Manda, dan di tengah Bagas dan masa lalunya!" terang Moetia.


"Moetia, saat ini Bagas hanya mencintai mu!" jelas Reno.


"Seperti yang kamu bilang, saat ini. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di masa depan nanti. Kamu tahu tidak saat dia menyatakan perasaannya padaku, aku sangat senang. Itu kali pertama ada seseorang yang menyatakan cinta padaku!" ucap Moetia sambil tersenyum.


"Benarkah?" tanya Reno.

__ADS_1


"Iya, dulu sebelum Bagas. Aku selalu menghindari setiap pria yang mendekatiku. Aku juga tidak tahu kenapa aku tidak bisa menolak dan menghindarinya seperti yang lain. Tapi aku tidak menyangka jika Bagas adalah pria yang sangat dicintai oleh sahabat ku, aku merasa kisah cinta ku sangat tragis Ren! aku benci semua ini!" seru Moetia dan tangisnya pun pecah lagi.


Reno bingung harus bagaimana menenangkan Moetia, dia ingin memeluknya tapi Bagas pasti akan menghabisinya jika dia melakukan itu.


Moetia melihat tangan Reno yang maju mundur ingin merangkulnya. Moetia tersenyum getir,


"Apa kamu belum pernah menghibur perempuan yang sedang menangis sebelumnya Ren?" tanya Moetia.


Reno menggeleng dengan cepat,


Moetia terkekeh pelan, dia menyeka tangisnya lagi.


"Reno, bolehkah aku menganggap mu sebagai kakak ku?" tanya Moetia.


Reno merasa perasaan aneh di hatinya, rasanya sangat senang mendengar Moetia mengatakan itu.


Dengan cepat Reno menganggukkan kepalanya.


Moetia senang melihat respon Reno.


"Aku boleh panggil kamu kakak Ren?" tanya Moetia lagi.


Reno menatap Moetia tak percaya, dia tak menyangka wanita yang begitu dicintai Bagas akan memanggilnya kakak. Calista dulu bahkan sangat merendahkannya karena dia hanya bawahan Bagas.


"Moetia, kamu serius?" tanya Reno memastikan.


Moetia menganggukkan kepalanya yakin, Reno tersenyum senang hingga dia refleks merentangkan tangannya dan mendekat ke Moetia.


Moetia juga sangat senang, Reno mau menganggapnya sebagai adiknya. Dia menyambut rentangan tangan Reno dan memeluknya.


Reno lekas menyadari apa yang dia lakukan, dia segera menarik dirinya menjauh dari Moetia.


"Ma.. maaf Moetia, aku tidak bermaksud.."


"Hei, apa kamu perlu minta maaf jika memeluk adikmu sendiri?" tanya Moetia sambil memukul ringan lengan Reno.


"Moetia, aku sangat senang. Kamu sungguh baik!" seru Reno dengan mata yang berbinar.


Moetia juga tidak bisa berhenti tersenyum karena setelah dia menangis dan kecewa pada dirinya sendiri. Dia malah mendapatkan seorang kakak yang begitu baik seperti Reno.


Moetia dan Reno pun saling bercerita satu sama lain tentang keseharian mereka dan bagaimana hidup mereka selama ini.


Sesekali Moetia memukul lengan Reno, karena ekspresi yang ditunjukkan Reno saat mendengar cerita Moetia.


Sementara Moetia dan Reno masih asyik mengobrol. Bagas sedang kebakaran jenggot karena sudah lebih dari dua jam Moetia belum juga kembali ke hotel.


Dia menghubungi Reno tapi tidak juga diangkat oleh Reno. Bagaimana tidak, ponsel Reno masih terpasang kabel headset hingga saat Bagas menelpon nada deringnya tidak terdengar oleh Reno.


Ditambah lagi ponsel Reno berada di mobil, dan dia sedang duduk bersama Moetia di tepi pantai.


...🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹...


...Hai para readers ku tercinta, mulai hari ini 🌹 Dilema 🌹 bakal up dua bab sehari....


...Jam enam pagi dan jam dua siang. ...


...Tetap tinggalkan Like, Vote, Komentar dan Favoritnya ya 😘...


...Terimakasih ❤️...

__ADS_1


__ADS_2