
Malam ini mereka akan pulang ke Indonesia, sekitar jam delapan malam, Moetia dan yang lain sudah berada di bandara dan bersiap menaiki pesawat yang mereka Charter khusus demi kenyamanan Reno.
Pesawat yang dilengkapi dua kamar mewah dan dan juga mini bar.
Moetia tak bisa menyembunyikan kekagumannya saat melihat isi di dalam pesawat.
"Apa yang kamu pikirkan saat melihat semua ini?" tanya Bagas yang mengharap Moetia memuji nya karena melakukan semua ini untuknya dan Reno.
Moetia menoleh dan menatap Bagas.
"Kamu sungguh ingin tahu?" tanya Moetia balik.
Bagas mengangguk dengan cepat.
"Pemborosan!" jawab Moetia singkat.
Bagas terlihat terkejut, tapi dia segera memeluk istrinya itu dari belakang.
"Sesekali memanjakan istri sendiri tidak apa-apa kan?" elak Bagas.
Moetia hanya mengangguk paham.
"Dimana kak Reno?" tanya Moetia.
"Dikamar itu!" jawab Bagas menunjuk arah kamar Reno.
"Aku kesana ya!" seru Moetia.
Bagas dengan cepat menarik tangan Moetia.
"Kamar kita disana sayang!" seru Bagas menarik Moetia ke ruangan mereka.
Setelah berada di dalam, Bagas mengunci ruangan itu.
"Kenapa di kunci?" tanya Moetia tidak senang.
"Pesawat akan segera berangkat, dan aku hanya ingin duduk tenang bersama istriku disini!" ucap Bagas sambil duduk dan menarik Moetia ke pangkuannya.
Belum lama Moetia duduk, sudah ada suara ketukan pintu yang cukup keras.
Bagas kembali berdecak kesal, Moetia segera bangun dan membuka kunci pintu.
"Nona, ada yang harus ku sampaikan pada tuan!" seru Benjamin.
"Masuklah!" seru Moetia mempersilahkan Benjamin masuk.
Bagas masih duduk dengan kesal di sofa.
"Ada apa?" tanya Bagas kesal.
Benjamin terlihat ragu mengatakannya di depan Moetia.
Moetia mengerti maksud Benjamin, dia minta ijin pada Bagas untuk pergi keruangan Reno.
"Bagas, aku akan ke ruangan kak Reno!" ijin Moetia.
Bagas mengangguk dan tersenyum.
"Baiklah sayang!" jawab Bagas pada Moetia.
__ADS_1
Setelah Moetia pergi, Bagas dengan cepat merubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
"Katakan!" seru Bagas.
"Tuan, Marvin sudah bebas! dan lebih buruk lagi, satu jam yang lalu ada informasi yang menyebutkan bahwa pesawat Marvin sudah terbang menuju ke Indonesia, lebih tepatnya ke Bandung!" jelas Benjamin.
Bagas segera bangkit dari sofa lalu mengepalkan kedua tangannya geram.
"Rupanya dia masih penasaran dengan ku dan Wiguna grup!" sahut Bagas emosi.
"Maaf tuan, tapi sepertinya bukan hanya itu. Aku dengar Syarif asisten Marvin, sedang mencari tahu asal usul nona Moetia!" tambah Benjamin.
"Apa??" teriak Bagas.
"Bahkan, mereka sudah menemukan alamat kediaman tuan Aries Mahendra! kami mengetahui semua itu setelah menangkap seorang mata-mata mereka yang menyusup ke perusahaan kita di Singapura!" jelas Benjamin lagi.
Bagas makin emosi.
"Apa ayah sudah tahu tentang semua ini?" tanya Bagas.
"Belum tuan, nyonya selalu berada disisinya, kami belom bisa memberitahukan kepada tuan besar masalah ini. Saran saya sebaiknya kita kirimkan beberapa pengawal di area rumah tuan Mahendra!" seru Benjamin mengutarakan pendapat nya.
Bagas menggeleng.
"Tidak Ben, papa mertuaku itu pasti tahu. Dia sudah sangat kesal padaku. Aku tidak mau hubungan ku dengannya bertambah runyam!" bantah Bagas.
"Bagaimana kalau mengatasnamakan melindungi nona Manda!" saran Benjamin lagi.
Bagas menoleh ke Benjamin dan menepuk bahunya sekilas.
"Berapa usia mu Ben?" tanya Bagas.
"Yang jelas lebih tua dari anda tuan!" jawab Benjamin cepat.
"Saran mu luar biasa, baiklah tempatkan beberapa anak buah mu disana. Katakan saja kita sedang melindungi supermodel yang baru saja naik daun itu!" seru Bagas.
"Baik tuan!" sahut Benjamin lalu keluar dari ruangan Bagas.
Sementara itu Moetia dari tadi hanya bermain kartu bersama Theo dan Reno.
Karena dari tadi Theo sudah dua kali kalah, dia protes pada Moetia dan Reno.
"Ayolah, bermainlah netral. Kalian jangan bersekongkol membuat aku kalah terus!" protes Theo.
"Mana ada bos, kartu mu saja yang mengkhianati mu!" sahut Reno.
Moetia terkekeh mendengar ucapan Reno.
"Benar, kartu mu bahkan tidak ingin bersahabat dengan mu!" tambah Moetia.
Kuping Theo makin merah, dia melemparkan kartu itu di tengah mereka.
"Aku berhenti saja. Dua kali Reno mengalah untuk mu, hingga kamu bisa mengalahkan aku! aku mulai tidak suka pada kalian!" keluh Theo.
Bagas yang baru saja masuk merangkul pundak Theo yang dari tadi mengomel sendiri.
"Ada apa ini, siapa yang membuat tuan muda Theodore Denisovich menggerutu kesal seperti ini?" tanya Bagas.
"Siapa lagi! lihatlah ini semua ulah istri kesayangan mu dan kakak ipar mu yang menyebalkan itu!" adu Theo.
__ADS_1
Bagas malah terkekeh.
"Huh, kalian bertiga sama saja!" seru Theo lalu meninggalkan ruangan itu.
Bagas duduk disisi Moetia dan memeluk pinggangnya.
"Sayang, aku merindukanmu!" bisik Bagas di telinga Moetia.
Tentu saja telinga dan wajah Moetia memerah seketika.
Moetia menepuk paha Bagas.
"Hentikan!" protesnya.
"Bagaimana dengan mu Ren, apa kamu merasa tidak nyaman?" tanya Bagas.
Reno mengangguk perlahan.
"Tidak apa-apa, aku hanya sedikit mengantuk." jawab Reno mengerti betul maksud Bagas.
Moetia kesal karena Reno membela Bagas.
"Kakak, bukankah sebelum kita berangkat tadi kamu sudah tidur?" tanya Moetia.
"Sayang ku, Kakak mu bilang dia mengantuk. Jadi sebagai adik dan adik ipar yang baik sebaiknya kita kembali ke ruangan kita, okey?" tanya Bagas.
Reno hanya tersenyum saat melihat Moetia memanyunkan bibirnya dan berdiri lalu melangkah ke luar ruangan itu.
"Istirahat lah!" seru Bagas sebelum berdiri.
"Apa ada masalah?" tanya Reno setelah yakin Moetia sudah menjauh.
Bagas kembali duduk di tepi kasur Reno.
"Marvin sudah bebas!" jawab Bagas.
"Aku sudah menduganya, ayah nya begitu kaya. Dengan cepat dia pasti bisa menjamin Marvin!" sambung Reno.
"Kenapa kamu tidak mau menuntutnya?" tanya Bagas.
Reno tersenyum.
"Sekarang kita semua sudah baik-baik saja, untuk apa memperpanjang masalah ini!" seru Reno.
"Katakan saja, aku adalah keluarga mu! kamu melakukan itu untuk Wiguna grup kan?" tanya Bagas.
"Tidak juga, aku hanya tidak ingin terus berada di Singapura. Selama kasus ini berlangsung, seperti kata para penyelidik. Aku, kamu dan Moetia tidak di perbolehkan meninggalkan Singapura. Itu pasti memakan waktu yang lama, sedangkan Moetia, keluarga pasti akan mencemaskan nya, dan Wiguna Grup, aku tidak mau saham perusahaan bermasalah karena kita harus melawan V.P grup. Dan lagi, peristiwa itu tidak terjadi di wilayah kita, apapun bisa terjadi!" jelas Reno.
Bagas menepuk bahu Reno.
"Kamu sudah melakukan hal yang benar, sekarang beristirahat lah!" ucap Bagas.
"Jika ada yang bisa aku bantu, aku mohon katakanlah. Meskipun kondisi ku belum pulih, setidaknya pemikiran dari dua kepala akan lebih banyak menghasilkan daripada hanya satu kepala saja kan!" seru Reno.
Bagas melihat ke arah Reno.
"Kamu benar, Marvin sepertinya bukan menargetkan aku dan Wiguna grup!" seru Bagas.
"Bukan kamu atau Wiguna grup lalu siapa?" tanya Reno penasaran.
__ADS_1
"Sepertinya, dia menargetkan Moetia!" jawab Bagas.
"Apa?" tanya Reno terkejut.