
Hai semuanya, apa kabar kalian semua?. Semoga tetap dalam kesehatan dan keberkahan ya, selalu jaga kesehatan..
Jangan lupa mencuci tangan dan selalu memakai masker saat keluar rumah.
Covid 19 itu nyata teman-teman.
Tapi kita semua harus semangat ❤️ seperti lagunya bang Lasso "Badai pasti berlalu" seperti kata umi Zubaidah "Hujan pasti berhenti" kita harus optimis kalau pandemi ini juga bisa berakhir.
Amin.
Happy reading...
🌸🌸🌸
Moetia mengumpulkan semua keberaniannya untuk mengatakan hal yang terlintas di pikiran nya pada Bagas.
Moetia menatap dalam mata Bagas.
"Bagaimana kalau kita bercerai saja?" tanya Moetia.
Bagas tidak menyangka Moetia akan berkata seperti itu, Moetia masih menatap Bagas dengan tangan yang gemetar yang dia takutkan satu sama lain.
Bagas meraih lengan Moetia dan menariknya ke dalam pelukannya.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi!" seru Bagas.
Bagas menjauhkan dirinya sedikit agar bisa menatap Moetia, Bagas memegang kedua lengan Moetia.
"Dengar, jangan pernah berkata seperti itu lagi, bahkan jangan pernah memikirkan nya. Kita sudah berjanji untuk saling menyayangi dan terus bersama sampai maut memisahkan, yang di persatuan oleh Tuhan tidak akan bisa dipisahkan oleh manusia. Ingat itu Moetia!" tegas Bagas.
Moetia mencoba untuk mengerti tapi perasaan nya saat ini sungguh tidak bisa dia bendung sendiri.
Rasa bersalah, penyesalan yang mendalam. Apa salah kedua orang tuanya hingga harus merasa sakit hati dan kecewa padanya.
Perasaan yang membuat Moetia bahkan sesak saat bernafas. Mengkhianati orang-orang yang menyayanginya dan dia sayangi.
Moetia terkulai lemas jatuh ke lantai. Bagas yang mencoba menahannya pun ikut jatuh bersama Moetia.
Mereka duduk bersimpuh berhadapan, Bagas berusaha untuk terus menenangkan Moetia yang kembali menangis.
"Papa dan mama ku, Bagas..." Isak Moetia.
Bagas mengerti betul kesedihan istrinya itu. Tapi menemui kedua orang tua Moetia saat ini pasti hanya menimbulkan masalah baru.
Masalahnya adalah mereka sangat membenci Bagas karena ulah Bagas melecehkan Moetia dulu di depan umum.
__ADS_1
Lalu Moetia diam-diam menikah, dan sama sekali tidak memberitahukan kepada Aries dan Soraya. Hati orang tua mana yang tidak akan patah dan kecewa.
Di tambah lagi Manda sedang sakit, kondisinya sangat riskan. Jika Bagas menjelaskan segalanya pada Aries dan Soraya pun Pati mereka tidak mau mendengarkan.
Bagas masih tetap diam sambil menemani Moetia yang ingin menghabiskan seluruh air matanya. Beberapa menit kemudian Moetia sudah mulai lelah dan bersandar di bahu Bagas.
Bagas melihat wajah Moetia yang bertambah pucat, angin di luar juga sudah mulai tidak nyaman karena hari semakin terik.
Bagas mengangkat Moetia dan menggendongnya, Moetia yang sudah lelah jiwa dan raga hanya bisa menunjukkan wajah sendunya saat Bagas memandangnya.
Bagas membawa Moetia masuk ke dalam kamar mereka. Merebahkan Moetia di atas tempat tidur mereka.
Bagas melepaskan rangkulan Moetia.
"Kamu istirahat dulu ya, aku akan membuat makan siang untuk kita berdua!" seru Bagas
Jika biasanya Moetia akan bertanya bahkan mengejek Bagas. Kali ini dia hanya diam saja bahkan langsung menarik selimut dan memiringkan tubuhnya membelakangi Bagas.
Bagas hanya menghela nafas nya panjang lalu keluar dari kamar.
Bagas berjalan menuju ke dapur dan membuka lemari pendingin.
"Masak apa ya?" gumamnya.
Aries mengajak Soraya keluar sebentar untuk bicara.
"Dengar, aku harus kembali ke kantor. Kamu jangan terlalu memusingkan masalah ini. Jaga kesehatanmu!" seru Aries.
Soraya masih berkaca-kaca.
"Tapi Moetia pa..."
"Dia memilih bersama laki-laki itu, dia sudah tidak menganggap kita ada. Mulai sekarang kita harus terbiasanya tanpa dirinya!" sahut Aries dengan mata memerah.
"Setidaknya Moetia harusnya menahan dirinya, bagaimana pun juga Bagas adalah tunangan Manda!" lanjut Aries.
"Bagaimana jika mereka sudah saling mencintai sebelum Moetia tahu kalau Manda menyukai Bagas?" tanya Soraya.
"Setelah tahu, bukankah seharusnya dia mundur!" bantah Aries.
"Jangan membelanya lagi Soraya, dia lebih memilih laki-laki brengs** itu di bandingkan keluarga dan sahabatnya! sudah cukup!" seru Aries dengan nada meninggi.
Sebenarnya sangat sakit bagi Aries mengatakan hal sekeji itu pada Soraya. Tapi hatinya masih sangat sakit, dia menganggap ketika Moetia membela Bagas dan lebih berpihak pada Bagas di bandingkan pada orang tuanya. Sejak saat itu Moetia sudah kehilangan mereka.
Soraya memeluk Aries, tangisnya pecah. Hatinya hancur.
__ADS_1
Di balik pintu, Malika sedang mendengar apa yang Aries dan Soraya bicarakan. Air matanya ikut menetes. Dia begitu terharu sekaligus sedih, betapa Aries dan Soraya menyayangi Manda.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Malika pelan.
Beberapa jam berlalu, Bagas sudah selesai memasak makanan untuk Moetia. Dia memasak nasi lengkap dengan sayuran ala chef Bagas dan ikan goreng yang dibuat seperti memiliki sayap. Meski warnanya sangat menyeramkan tapi Bagas merasa puas dengan hasil karyanya itu.
Bagas masuk ke dalam kamar dan melihat Moetia sudah tidak ada di atas tempat tidurnya.
Bagas segera mengetuk pintu kamar mandi, tidak ada jawaban dari dalam.
Bagas menempelkan telinganya ke pintu kamar mandi dan mendengar suara gemericik air.
Bagas menggedor pintu dengan kuat, tapi masih tidak ada jawaban.
"Astaga, Moetia apa yang kamu lakukan?" teriak Bagas dari luar.
"Moetia, buka pintunya!" teriak Bagas lagi dan kali ini dia mulai panik.
Tak ingin terjadi sesuatu pada istrinya Bagas berusaha mendobrak pintu kamar mandi.
Dia mengambil ancang-ancang dan menendang pintu itu dengan kuat, masih tidak bisa terbuka.
Dia menabrakkan lengan dan tubuhnya dengan kencang.
Brugh!
Pintu kamar mandi pun terbuka dengan paksa, mata Bagas melebar melihat Moetia tergolek lemah di bawah guyuran shower.
"Moetia!" teriak Bagas.
Bagas segera mengangkat Moetia yang sudah tidak sadarkan diri dan membawanya ke atas ranjang.
Bagas segera menghubungi Reno dan memintanya membawa dokter secepat nya ke alamat yang dia kirim.
Bagas segera melepas pakaian Moetia yang basah dan menggantinya dengan pakaian Bagas.
Wajah Moetia sangat pucat, seluruh tubuhnya dingin. Bibirnya sudah sedikit membiru.
Bagas berlari ke dapur dan mengambil kotak obat, dia mengambil minyak kayu putih dan mengusapkannya ke seluruh tubuh Moetia.
Bagas mematikan pendingin udara, dan terus menggosok telapak tangan Moetia yang sudah sedingin gelas yang berisi es jeruk yang baru disajikan.
Bagas yang bermandi peluh terus berusaha membuat Moetia menjadi hangat.
"Sayang, apa yang sudah kamu lakukan! apa kamu tidak tahu akibat perbuatan mu ini, aku juga tidak akan bisa hidup lagi tanpa mu!" gumam Bagas sambil memeluk Moetia.
__ADS_1