Dilema

Dilema
Menanti Chairul Menyelesaikan Masalah


__ADS_3

Di rumah Moetia, Aries sedang menunggu Soraya yang tak juga keluar dari kamar mandi untuk ikut dengannya ke acara perusahaan.


Tok! tok! tok!


"Soraya, cepatlah. Aku harus menghadiri acara penyambutan di perusahaan malam ini." ucap Aries sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Soraya keluar dengan menundukkan kepalanya, wajahnya terlihat sendu dan matanya sembab.


Aries mengangkat dagu Soraya.


"Apa kita tidak usah pergi saja ke acara itu?" tanya Aries.


Soraya menggelengkan kepalanya perlahan.


"Acara itu sangat penting bagi perusahaan, kamu pergilah. Aku minta maaf tidak bisa mendampingi mu malam ini!" ucap Soraya sedikit terisak.


Aries memeluk Soraya dan mengelus lembut kepala nya.


"Semua sudah terjadi Soraya, putri kita bukan lagi milik kita!" seru Aries.


Di setiap kata yang di ucapkan oleh Aries, ada getaran kecewa yang masih bisa terdengar jelas di telinga Soraya.


Sebenarnya Soraya sudah memikirkan ini di kamar mandi tadi. Dia ingin mengatakan kepada Aries agar mereka bicara pada Moetia agar Moetia meninggalkan Bagas.


Tapi mendengar ucapan Aries, seperti nya akan sulit untuk membujuknya bertemu dengan Moetia.


"Seandainya Moetia memilih kita?" tanya Soraya perlahan.


"Dia sudah pergi Soraya, dia memilih pria brengs** itu!" seru Aries kembali tersulut emosi.


Soraya diam dia tidak ingin memancing amarah Aries lagi.


"Aku akan pergi sendiri, beristirahat lah dengan baik di rumah ya. Jaga dirimu!" seru Aries sebelum keluar dari kamar nya.


Setelah Aries menutup pintu, Soraya melangkahkan kakinya menuju ke tepi tempat tidur. Dia duduk di tepi kasur nya. Soraya meraih fhoto keluarga mereka yang berada di atas meja.


Ada Aries, dirinya dan Moetia. Air mata Soraya kembali mengalir dari kedua sudut matanya.


"Moetia!" lirih Soraya lalu memeluk erat fhoto itu di dadanya.


Moetia perlahan membuka matanya, tangan kanannya terasa kebas. Dia berusaha mengangkatnya tapi ternyata tangannya sedang terpasang selang infus.


Dia melihat ke sisi kiri nya, senyum nya terlukis. Dia melihat Bagas sedang tertidur dengan posisi duduk di kursi sambil memeluk lengannya.


Moetia berusaha menarik tangan kiri nya lalu mengusap lembut kepala Bagas.


Bagas terbangun lalu segera bangkit berdiri dan segera memeriksa Moetia.

__ADS_1


Dia memeriksa dahi dan leher Moetia, memastikan suhu tubuhnya sudah normal.


Moetia menggenggam tangan Bagas yang sedang memeriksa suhu di lehernya.


"Terimakasih." ucap Moetia lemah.


Bagas terduduk lagi dan menarik kursinya makin mendekat.


"Kamu membuatku cemas, jangan lakukan itu lagi!" sahut Bagas.


"Maafkan aku..."


"Sudah lah, aku akan memasakkan bubur untuk mu, tunggu sebentar !" seru Bagas sambil melangkah pergi.


"Bagas..." panggil Moetia.


Bagas menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Aku tidak lapar, mau kah kamu memeluk ku!" ucap Moetia dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


Bagas segera mendekati istrinya itu dan memeluknya dengan erat.


Keharuan menyelimuti hati keduanya, air mata menetes dari sudut mata keduanya. Bagas memeluk Moetia sangat erat, nyaris saja dia berfikir akan kehilangan wanita yang sangat dicintainya ini.


"Maafkan aku.." lirih Moetia.


"Kamu membuatku takut, apa kamu tidak memikirkan aku sama sekali?" tanya Bagas sambil memejamkan matanya.


"Aku berniat menghukum diriku sendiri, aku tidak menyangka jika ternyata aku sangatlah lemah!" sahut Moetia.


Bagas naik ke tempat tidur lalu berbaring dengan posisi miring menghadap ke Moetia.


"Jika sesuatu terjadi padamu, apa kamu pikir aku masih bisa terus hidup.." Bagas menghentikan ucapannya karena Moetia meletakkan jari telunjuknya di bibir Bagas.


"Aku benar-benar minta maaf, aku hanya ingin menghukum diriku karena sudah berani berfikir dan mengatakan ingin berpisah darimu. Aku sudah pernah berjanji padamu, bahwa apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkanmu meskipun kamu yang memintanya. Maafkan aku Bagas!" jelas Moetia masih terbata-bata karena masih sangat lemah.


Bagas menatap mata Moetia dengan penuh perasaan.


"Maka tepati lah, janjimu itu!" sahut Bagas lalu memeluk Moetia erat dan menelusup kan kepalanya di ceruk leher Moetia.


Setelah dari rumah sakit, Reno memutuskan untuk menemui Chairul di rumahnya.


Reno masuk ke ruang keluarga, dimana Chairul sedang bersama dengan Roni.


"Hai kak Reno.." sapa Roni sambil berdiri badan memeluk lengan Reno.


"Hai, bagaimana sekolah mu?" tanya Reno sambil berjalan mendekati Chairul.

__ADS_1


"Masih sama kak Reno, meresahkan!!" jawab Roni sambil nyengir.


Reno mengerutkan keningnya.


"Meresahkan?" tanya Reno mengulang ucapan Roni.


Roni malah cekikikan sambil mengambil buku-buku nya yang tadi sedang diperiksa oleh Chairul.


"Ayah, Roni lanjut belajar di kamar saja ya. Kak Reno pasti ada perlu kan dengan ayah!" ucapnya sambil berlalu.


"Duduk lah! bagaimana pekerjaan mu? aku dengar kamu membawa seorang dokter dari klinik perusahaan, siapa yang sakit?" tanya Chairul.


Reno duduk di hadapan Chairul.


"Om, aku membawa dokter itu karena sesuatu telah terjadi pada Moetia!" jawab Reno.


Raut wajah Chairul mendadak berubah serius.


"Apa yang terjadi pada Moetia?" tanya Chairul cepat.


"Saat ke dua orang tua Moetia tahu bahwa Bagas dan Moetia sudah menikah, kedua orang tua Moetia sangat marah. Bagas bilang itu masih ada hubungannya dengan kejadian Bagas dan Theo waktu itu. Di tambah lagi kedua orang tua Moetia menyalahkannya atas apa yang terjadi pada Manda. Manda menelan beberapa pil tidur bermaksud mengancam Moetia agar meninggalkan Bagas." jelas Reno.


Chairul masih memperhatikan dengan seksama penjelasan Reno.


"Tekanan demi tekanan itu membuat Moetia menyerah dan mengatakan pada Bagas agar mereka bercerai saja." sambung Reno.


Chairul mulai terlihat cemas dan menghela nafasnya beberapa kali. Chairul mengusap wajahnya kasar.


"Bagas menemukan Moetia sudah tergeletak di kamar mandi, sudah pingsan di bawah guyuran shower. Aku membawa dokter itu kesana secepat mungkin, dan untung saja Moetia sudah dalam kondisi stabil sekarang!" jelas Reno.


"Aku tidak menyangka masalahnya akan menjadi runcing begini. Masalahnya ada pada Manda, dia lah yang membuat situasi makin rumit. Tapi aku minta jangan katakan ini pada Belinda, dia masih belum stabil. Aku akan mengurus masalah ini." tegas Chairul.


"Terimakasih Om!" sahut Reno.


"Kenapa berterima kasih, kalian anak-anak ku, aku akan menyelesaikan masalah ini. Sebagai orang tua, aku yakin bahwa Aries dan Soraya juga menginginkan kebahagiaan untuk Moetia seperti aku menginginkan kebahagiaan untuk Bagas, Roni dan juga dirimu Reno!" tutur Chairul penuh dengan kharisma.


Reno tersenyum kikuk.


"Aku dengar kamu dekat dengan Vivian?" tanya Chairul.


"Om, maaf tapi sebaiknya kita fokus pada Bagas dan Moetia..."


"Kapan kamu akan memanggilku ayah Reno, Belinda ingin sekali kamu memanggilnya ibu seperti Bagas dan Roni." ucap Chairul mencairkan suasana.


Chairul adalah tipe orang yang selalu tenang saat menghadapi masalah. Dia memiliki pemikiran yang mendalam dan menatap jauh ke depan. Memikirkan berapa persen untung dan berapa persen ruginya.


Jelas, karena Chairul Wiguna adalah seorang pengusaha.

__ADS_1


__ADS_2