
Aku masuk ke kamar dan istirahat, Faira sudah bersama Ibu dan Ayah di kamar mereka.
Drrt..
Drrt..
Ponselku bergetar, telepon dari Pak Riki.
"Assalamualaikum Bu" Ucap salam di telepon.
"Waalaikumsalam". Sahutku.
"Sudah tidur?" Katanya lagi
"Ini baru mau". Ucapku
"Bu "
"Ya"
"Saya kangen ibu"
Aku diam saja.Aduh! Pak Riki ini seperti apa saja,aku malu.
"Jangan selalu seperti ini" Ucapku kemudian.
"Bu saya benaran saya sungguhan!saya tidak bercanda! saya tidak main-main dengan perasaan saya". Kata Pak Riki
__ADS_1
"Pak jangan seperti ini, saya masih isteri orang" akhirnya ku ucapkan kata ini.
"Iya saya tau, saya hanya menyampaikan perasaan saya saja". Katanya lagi.
"Saya masih menunggu Ibu"
"Menunggu apa" .Kataku lagi
"Nanti saja bu belum waktunya.., ya sudah selamat tidur, selamat malam" Katanya
"Ya" sahutku.
Kemudian ku tutup telepon,
Aku jadi teringat Pak Riki, dia baik dan sederhana, ya ada juga lucu.terkadang konyol dengan tingkahnya, kadang aku kesal dia sedikit memaksa.
Waktu mencari kontrakkan dia di depan dan aku dibelakang, saat berkendara dengan motornya dia sebentar- sebentar menoleh kebelakang.
Qku khwatir sekali jalanan rame, padahal aku mengikuti dari belakang apa gak takut motornya jatuh, setelah ku tanya, dia hanya nyengir saja padaku .
Belum lagi ke rumah Ibu Sri, tau-tau sudah ada di depan, kadang memarkir motor sembarangan.
Walaupun Bu sri ataupun suaminya tak marah karena kadang suaminya pergi keluar, sementara motor asal parkir saja.
Membawakan makanan bu sri juga, dan kemaren sangat banyak.Aku hanya geleng-geleng kepala saja melihatnya.
Bu Sri mengatakan memang Pak Riki menyukaiku, katanya dia sering curhat pada Bu Sri dia kadang main ke rumah Bu Sri.
__ADS_1
Aku jadi serba salah, tapi mau bagaimana juga,aku tak bisa melarang perasaan hati seseorang.
Sebenarnya aku malu tapi Pak Riki terang-terangan seperti itu, aku pikir hanya bercanda saja.
Ketika aku di rumah Bu sri aku mendengar cerita dan semuanya aku jadi memutar kembali memori yang telah lalu bersama Pak Riki dan Rekan di sekolah.
Aku masih ber status sebagai isteri tak seharusnya aku seperti ini,aku juga belum beecerai.
Aku masih belum ada niatan untuk memulai lagi sebuah hubungan, nanti dulu saja, karena aku masih perlu menata hati ini.
Perselingkuhan yang memang membuat hati ini sakit, setelah banyak kesabaran yang kulalui ketika aku menjalankan biduk Rumah tangga bersam Andre.
Kemudian penghianatan yang tak termaafkan dariku, segalanya aku masih bisa mempertahankanya, di ujung lelah ku, atas perlakuan selama ini padaku.
Namum kutemukan ibu mertua yang menjodohkan Andre bersama wanita lain dan aku meyaksikan penghianatan Andre.
Sakit sekali hati ini, kata Bu sri kenapa langsung pergi, setidaknya rumah bisa kau bagi atau apa saja yang telah kami miliki, apalagi nanti prosesnya bercerai akan dilibatkan.
Kukatakan padanya aku tak memperdulikan apapun, yang penting hati ini tenang, dan aku akan tetap bersama anakku.
Kalau menunggu Andre pasti banyak perdebatan, aku malas meladeninya, sebaiknya aku pergi tanpa meninggalkan pesan.
Andre kuanggap mimpi buruk alam hidupku, setelah persilingkuhan yang kulihat, memang aku hanya manusia biasa dan merasakan sakit
Sungguh aku tak mau lagi berhubungan dengan keluarga itu aku tak mau lagi rasa sakit yang mereka torehkan sangat dalam di hati ini.
Aku memiliki Faira, dia memang tak bisa di putuska dari keluarga Andre ataupun Andre sendiri tapi aku tak akan membiarkan Faira bersama mereka.
__ADS_1