Dilema

Dilema
Perempuan dari Masa Lalu


__ADS_3

Moetia berjalan menuju ke ruangan pak Edi, tapi ketika Moetia ingin masuk ke ruangan pak Edi doa melihat seseorang yang dia kenali sepertinya akan masuk ke ruangan Bagas.


Seorang wanita paruh baya yang mendorong kursi roda yang di atasnya duduk wanita cantik yang terlihat lemah dengan riasan tipis dan pakaian yang sederhana.


Moetia melihat Calista dan ibunya diantarkan oleh Septi menuju ruangan Bagas.


Moetia merasa perasaannya menjadi tidak enak.


'Itu benar Calista kan?' batin Moetia


Moetia terdiam ketika Calista yang duduk di kursi roda dan di dorong oleh ibunya benar-benar masuk ke ruangan Bagas.


Kaki Moetia gemetar, tangannya mendadak dingin.


Moetia menyentuh lehernya sendiri.


"Apa yang perlu aku cemaskan, Bagas tidak akan mengkhianati ku. Calista hanya masa lalunya!" gumam Moetia resah.


Edi keluar dari ruangannya.


"Moetia, ada apa?" tanya Edi.


Moetia sedikit terkejut karena dia sedang fokus pada hal lain.


"Pak Edi, aku ingin tahu jadwal Bagas, maksudku pak Bagas hari ini?" jawab Moetia.


"Oh begitu, baiklah. Ayo masuk akan aku jelaskan di dalam!" seru Edo mempersilahkan Moetia masuk ke ruangan nya.


Moetia masih menoleh sekilas ke arah ruangan Bagas, bahkan tidak ada suara dari dalam sana.


Moetia terus berfikir, jika Bagas memang tidak suka pada Calista lagi, kemungkinan besar Bagas pasti akan mengusirnya kan? tapi kenapa mereka belum ada yang keluar.


Moetia bahkan tidak fokus saat pak Edi menjelaskan masalah pekerjaan padanya.


"Moetia, kamu dengar apa yang aku katakan kan?" tanya pak Edi.


"Maaf pak, aku akan lebih fokus lagi. Bisakah anda mengulanginya?" tanya Moetia ramah.


Edi mengangguk, dan kembali menjelaskan tentang jadwal Bagas untuk hari ini.


Sebenarnya sebelum Moetia masuk keruangan nya, Bagas sudah mendapat telpon dari pak Edi yang mengatakan bahwa Calista dan ibunya datang untuk bertemu dengan Bagas.


Awalnya Bagas menolaknya, tapi setelah pak Edi mengatakan bagaimana kondisi Calista, Bagas memutuskan untuk menemuinya sekali saja.


"Pak, mereka ingin bertemu. Kata pak Edi anda mempersilahkan mereka untuk masuk." kata Septi.


Bagas menoleh ke arah Calista yang terlihat sangat lemah dan lebih kurus dari terakhir kali mereka bertemu.


"Kamu boleh keluar!" seru Bagas pada Septi.


Septi keluar dari ruangan itu, kemudian Liana ibunya Calista mendekati Bagas dan bersimpuh di hadapannya.


"Nyonya, apa yang anda lakukan. Cepat berdiri!" seru Bagas menghindar dari Liana.

__ADS_1


Liana berdiri dan menangis terisak di hadapan Bagas.


"Bagas, ibu mohon maafkan Calista ya, kamu lihat kan kondisi nya sekarang, dia sudah mendapatkan balasan atas apa yang dia lakukan padamu dulu. Dan Bagas, semua itu bukan kesalahan Calista, ayah nya lah yang memaksanya menikah dengan orang jahat itu, Calista sangat menderita hidup dengan orang jahat itu, dia masih sangat mencintai kamu Bagas! maafkanlah dia nak Bagas!" tutur Liana penuh dengan kesedihan.


Calista juga sudah menangis.


"Bagas, maafkan aku!" lirih nya.


Bagas yang awalnya sangat kesal pada Calista menjadi kasihan padanya. Apalagi setelah dua tahun lebih, baru kali ini dia mendengar suara Calista lagi, suara yang menurut Bagas masih sangat lembut terdengar di telinganya.


Bagas duduk di kursinya dan diam sejenak.


"Mau apa kalian datang kemari?" tanya Bagas datar.


Liana mengusap air matanya lalu mendorong kursi roda Calista mendekat ke arah Bagas.


"Calista ingin bicara dengan mu! ibu akan meninggalkan kalian!" seru ibunya.


Bagas tidak mengiyakan tapi tidak juga menolak, Liana pun keluar dan meninggalkan Bagas berdua bersama dengan Calista.


Calista menyeka tangisnya.


"Maafkan aku Bagas!" lirihnya lagi.


Bagas makin terusik melihat wanita yang selama dua tahun menjadi kekasihnya itu terlihat lemah tak berdaya.


Tapi bayangannya selama setengah tahun depresi karena wanita itu juga tidak bisa begitu saja dia lupakan.


"Apa yang terjadi?" tanya Bagas.


Melihat Calista menangis seperti itu membuat Bagas merasa ikut sedih. Bagas berdiri dari kursinya lalu mengambil tissue yang ada di atas meja dan memberikannya pada Calista.


Calista meraih tissue itu dan menyeka air matanya.


"Semua adalah kesalahan ku, aku seperti ini karena salahku padamu!" lirih Calista.


Calista bahkan sengaja menunjukkan gelang yang di pakainya pada Bagas. Gelang pemberian Bagas saat anniversary mereka yang pertama saat masih pacaran dulu.


"Kamu masih pakai gelang itu?" tanya Bagas pelan.


Calista menatap Bagas dengan wajah sendunya.


"Aku selalu memakai nya, bahkan saat pernikahan ku. Bagas pernikahan itu bukan kemauan ku. Ayahku yang memaksaku. Di dalam hatiku hanya ada kamu saja Bagas!" jelas Calista dengan suara lembut dan datar khas nya.


Bagas kembali terdiam, tapi Calista malah dengan berani menggerakkan tangannya ingin menyentuh tangan Bagas.


Bagas yang masih diam sambil berfikir apa yang akan dia lakukan tidak bisa menepis tangan Calista yang tiba-tiba menggenggam tangan nya.


"Bagas, maafkan aku!" lirih Calista.


Tapi tiba-tiba pintu terbuka, dan tab yang dibawa Moetia terjatuh.


Bruk!

__ADS_1


Moetia terkejut melihat Bagas diam saja bahkan terlihat membiarkan saat Calista menggenggam tangannya.


Moetia segera mengambil tab nya yang terjatuh.


"Maaf, aku tidak tahu kalo pak Bagas sedang ada tamu. Permisi!" ucap Moetia santai lalu segera keluar.


Saat melihat Moetia menjatuhkan tab tadi, Bagas segera menarik tangannya dari genggaman Calista.


Bagas ingin mengejar Moetia ketika melihat Moetia keluar, tapi Calista malah menjatuhkan dirinya dari kursi roda hingga membuat Bagas harus menolongnya terlebih dahulu.


Dan ketika Bagas sudah membantu Calista kembali duduk di atas kursi rodanya, Calista memegangi kepalanya dan mengeluh kesakitan.


Dia memegang erat tangan Bagas.


"Bagas, auh. Kepala ku sakit sekali. Tolong ambilkan obat ku di tas itu!" pinta Calista dengan ekspresi sangat lemah dan suara sangat lembut.


Bagas berdecak kesal, dia tahu Moetia pasti salah paham. Tapi tidak mungkin baginya meninggalkan Calista dalam kondisi kesakitan seperti itu.


Bagas mengambil obat dari tas Liana yang berada di atas meja. Dan memberikannya pada Calista yang masih terus merintih kesakitan.


Setelah Calista meminum obatnya, Bagas menelpon Septi.


"Iya pak," ucap Septi setelah membuka pintu.


"Tolong bawa wanita ini menemui ibunya, aku ada urusan penting!" seru Bagas.


Mendengar Bagas akan pergi, Calista kembali menangis.


"Bagas, kamu belum memaafkan aku kan! aku tahu aku memang tidak pantas dimaafkan!" lirih nya lagi.


Bagas mengacak rambutnya gusar.


"Sudahlah! lupakan lah masa lalu. Aku harus pergi dulu!" seru Bagas lalu keluar dari ruangannya dan mencari Moetia.


Moetia sangat terpukul, apa yang dia pikirkan selama ini ternyata benar. Saat Calista kembali Bagas akan melupakan nya.


Setelah Moetia keluar dari ruangan Bagas tadi, dia terus menoleh ke belakang berharap Bagas mengejarnya. Tapi ternyata dia salah, Bagas tak kunjung terlihat.


Moetia berjalan dengan cepat menuju lift dan turun ke area parkir.


Dia menuju ke mobilnya, tapi Moetia sangat kesal hingga memukulkan tangan nya ke pintu mobilnya karena lupa membawa kunci mobil.


Jangankan kunci, ponsel dan tasnya pun masih berada di ruangan nya.


Tapi Moetia tidak ingin kembali kesana, Moetia memutuskan untuk naik taksi saja, dia sudah tahu dia harus pergi kemana.


Dia menghentikan sebuah taksi yang lewat dan mengatakan kemana dia akan pergi, setelah taksi melaju menjauh dari Wiguna grup, Moetia sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya.


Dia menangis di dalam taksi, Moetia sangat sedih, dia kecewa Bagas masih perduli pada perempuan dari masa lalunya itu.


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...Jangan lupa tinggalkan jejak Like, Komentar dan Favoritnya ya ❤️❤️❤️...

__ADS_1


...Terimakasih ❤️❤️❤️...


__ADS_2